Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

LIKA-LIKU KULI TINTA (Part 4)

15 Nov 2011 | Rubrik: Cerbung - Dibaca: 1828 kali

Penulis: Sam Edy

Kupikir-pikir, ternyata sungguh berliku namun teramat indah cara Tuhan menunjukkan berita gembira ini. Pertama, lewat berita Pak RT. Kedua, melalui Mbak Iren dengan wasilah memberi tugas pada murid-muridnya agar mencari cerpen-cerpen di berbagai media massa untuk dikomentari. Ketiga, dengan alasan malas, Mbak Iren kemudian menyuruhku untuk mengoreksi tugas-tugas muridnya. Lalu, saat sedang mengoreksi sobekan cerpen-cerpen tersebut, ternyata salah satu cerpenku terpampang di salah satu sobekan tabloid wanita itu.

Aha! Padahal, tahu tidak, sebelum itu, tiap minggu—hingga nyaris dua bulan lamanya—aku selalu bela-belain menebalkan muka guna menge-cek tabloid itu di loper koran milik Abang bertopi kumal yang mendadak berparas sangar saat koran-korannya hanya terjamah tanpa terbeli. Tak hentinya kucurahkan puji-pujian hamdalah atas anugerah indah ini.

Kelar mengoreksi tugas murid-muridnya Mbak Iren, kulirik jam dinding di tembok kamar yang kubeli dari honor tulisanku, jarumnya telah menunjuk ke angka dua belas lebih lima belas menit. Buru-buru kubereskan potongan-potongan koran yang berserak di atas kasur. Kecuali sobekan tabloid wanita yang memuat cerpenku, sengaja kusinggahkan tersendiri. Rencananya, akan aku minta buat dokumentasi.

Entah, malam ini rasanya tak ada kantuk sama sekali yang menggayuti kedua pelupuk mataku. Padahal, seharian aku belum rehat barang semenit pun. Ah! Agaknya, aku masih terlena dengan semburat-semburat kebahagiaan yang terus berlesatan dalam kepalaku. Setelah berpayah-payah diri, menggali informasi, merenovasi berhari-hari karya-karya yang telah jadi, akhirnya Tuhan mengabulkan untuk memuatnya juga. Kian hari kian bertambah cerpen hasil karyaku yang tembus media. Dan, itu awal yang baik untuk mendongkrak impianku untuk menjadi seorang penulis cerpen.

Malam kian larut.

Aku masih terbaring dengan posisi kedua kelopak yang masih bersetia menemami malam yang kian hening. Ada pelajaran baru yang bisa kupetik malam ini. Ternyata, kebahagiaan itu bisa membuat seseorang susah untuk memejamkan kedua matanya.

*

“Trim’s ya, Di, ntar pulsanya nyusul, deh,” ujar Mbak Iren saat pagi itu, kusodorkan setumpuk tugas murid-muridnya yang telah kukoreksi lengkap dengan nilainya. Ah! Mbak Iren. Sebenarnya kabar termuatnya cerpen yang semula kuanggap tak layak muat itu saja telah memberikan kebahagiaan tersendiri buatku, dibandingkan imbalan pulsa sepuluh ribu.

“Eh, iya, Mbak. Aku boleh ngambil potongan korannya satu aja. Bisa, kan?” sengaja nggak aku kasih kabar tentang pemuatan cerpenku memang. Aku khawatir kecewa, jika kabar bahagiaku ini belum tentu membuatnya turut merasakan bahagia. Biarlah nanti waktu yang akan bicara.

“Mmm, bisa. Tapi nanti, ya, kalo hasilnya udah tak masukin daftar nilai. Kalau kamu mau, ambil aja semuanya, Mbak udah nggak butuhin, kok,” ujarnya.

Dan setelah itu, setiap Mbak-ku memberikan tugas mengumpulkan cerpen pada murid-muridnya, aku merasa sangat beruntung. Karena aku bisa mengkliping puluhan cerpen-cerpen itu tanpa aku susah payah mengumpulkannya.

*

Wesel sudah cair. 150 ribu. Senyum pun terkembang subur nan merekah di kedua sudut bibirku hingga sampai halaman rumah. Sebelum sampai rumah, aku menyempatkan mampir di warung sate ambal, sate khas kota Kebumen, kesukaan ibu. Aku beli satu porsi khusus buat ibu, atau lebih tepatnya buat kami makan bertiga. Ya, semenjak ayah meninggal dunia terserang stroke lima tahun silam, praktis kami hanya tinggal bertiga dalam satu atap peninggalan almarhum ayah. Ayahku yang seorang pensiunan pegawai KUA, masih bisa menafkahi ibu dengan gaji yang cukup untuk biaya kehidupan ibu sehari-hari, termasuk sedikit demi sedikit buat nyicil biaya kuliahku yang tidak murah. Untung saja aku tak kuliah di kampus Negeri, yang biayanya selangit dan bisa jadi tak ada sistem angsuran biaya kuliahnya.

“Dapet honor berapa? Tumben bisa buat beli sate segala,” kata ibu dengan nada datar, biasa saja. Tak kulihat setitik pun gurat bangga di wajahnya atas prestasi anak lelakinya ini. Ah! Prestasi? Aku pikir, memang masih langka orang yang menganggap ‘menulis’ sebagai sebuah prestasi dan profesi yang layak dielu-elukan.

Alhamdulillah seratus lima puluh ribu, Bu. Oh, iya, ini ada sedikit uang buat ibu,” kusodorkan lembaran uang lima puluh ribuan ke ibu.

“Nggak perlu, Di. Simpan saja buat biaya harian kuliahmu,”

“Ah, ini masih ada sisanya kok, Bu,” tukasku sembari menggeletakkan uang itu di atas meja makan. Ibu hanya melirik sekilas.

“O’iya, Di, tadi Bu Ida ke sini lagi, ia nitip pesen buat kamu, katanya suruh memikirkan lagi tawaran GTT-nya,” kata ibu kemudian.

“Sudahlah, Di. Terima saja tawaran itu, kesempatan tak akan datang ketiga kali,” lanjut ibu masih dengan nada yang sama; datar. Ah, aku paling tak suka kata-kata seperti itu. Kesempatan tak datang tiga kali. Itu nggak berlaku dalam kamus hidupku. Kesempatan itu akan datang berkali-kali kalau kita mau. Sebab, kitalah sebenarnya yang menciptakan kesempatan itu sendiri. Bukan malah menunggu kesempatan tanpa berbuat. Hanya para pemalas saja yang memakai dalil seperti itu, selalu menunggu dan menunggu datangnya sebuah kesempatan tak pasti.

Tapi, aku lebih memilih diam, emoh menanggapi. Takut jika penjelasanku nanti hanya akan membuat ibu salah paham lagi. Yang jelas, tekadku telah bulat. Aku tak akan menerima tawaran itu lagi. Biar nanti aku SMS saja Bu Ida, memohon maaf atas ketidaksediaanku menerima tawaran itu.

*

Selesai makan siang, aku bergegas ke mushalanya Pak Kyai Musthofa. Seperti biasa, aku kejatah jadi muadzin Dzuhur dan Isya. Lantas, usai shalat berjamaah dengan Pak Kyai dan membaca beberapa ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahnya, aku lekas pulang, mempersiapkan diri berangkat kuliah. Ya, sejak semester enam, jadwal kuliahku berganti siang hari, mulai jam setengah dua hingga jelang Magrib. Kebetulan, jarak antara kampus dan rumahku tak begitu jauh, hanya sekitar sembilan kilo meter saja. Lima belas menit, perjalanan santai naik motor dari rumah ke kampus.

Sebelum cabut ke kampus, sempat kunyalakan CPU dan monitor. Rencananya cerpen yang tadi pagi kuedit ulang, akan ku-copy ke fleshdisk untuk kukirimkan ke sebuah media nasional sembari berangkat kuliah. Memang targetku bulan ini, aku harus bisa menembus media-media nasional, dengan tetap berkirim karya ke media-media yang sebelumnya telah memuat cerpenku tentu saja.

Tapi, baru saja monitor menyala, tiba-tiba, Pet! CPU sekarat. Kucoba hidupkan berkali-kali tapi tetap tak bisa, hanya suara tat-tet tat-tet saja yang keluar dari benda besi itu. Ugh! Cobaan baru datang menghadang. Kemungkinan besar kemasukan virus ganas akibat seringnya aku berkelana di dunia maya. Akhirnya, aku berangkat kuliah setengah tak bersemangat sambil membopong CPU tersebut untuk kuservis pada temanku, sekalian buat diinstal ulang.

***

Delapan puluh ribu rupiah. Total biaya servis CPU-ku. Pas, habis sudah honor sisa cerpenku yang baru kuambil dua hari lalu buat nyervis kotak besi yang menjadi senjata utamaku menorehkan karya-karya kreatif. Tak apa. Untung saja aku tak sampai minjam Mbak-ku buat nalangi dulu.

“Habis berapa servisnya, Di,” Ibu yang sedang menyapu halaman rumah langsung menyongsongku dengan pertanyaan begitu aku mematikan motor.

“Ah, murah kok, Bu,” kataku. Tentu saja aku tak berani berterus terang berapa total biaya servisnya. Bisa-bisa terlontar lagi ucapan-ucapan yang akan membikin celekitan luka di dadaku makin meradang.

“Makanya, Di, Di. Mbok ya, kalo punya cita-cita itu yang jelas. Cita-cita kok kepingin jadi penulis, sepertinya dalam satu kabupaten ini, cuma kamu seorang yang memiliki cita-cita itu,”

Nah! Baru diomongin. Langsung kebukti. Moga ibu panjang umur, amin. Tak bisa kubayangkan, cemoohan kayak gimana yang terlontar dari mulut ibu seandainya tadi kukatakan biaya total servis CPU-nya. Gegas kuturunkan CPU dan kubopong masuk ke kamar. Tapi, baru saja beberapa langkah, ibu memanggil...

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

6 Komentar :
2011-11-16 06:18:50 WIB

El Khoiry Nur

ahay... ceritanya semakin begus euy...
gk sabar, pengen tau endingnya gimana...

2011-11-16 21:35:48 WIB

Rumi

Full spirit...
spirit berkarya... berbagi lewat kata...
menggugah kesadaran bahwa mimpi hanya kan terwujud dengan sebenar-benarnya ikhtiar di alam nyata, tak sekedar di alam hayalan doank.. dan tentu dengan izin-Nya..

2011-11-20 19:34:36 WIB

rasheed shazs

menggemaskan ... jadi tak sabar bagaimana kelanjutannya btw aq penggemar cerber ini nih

2011-11-21 08:28:41 WIB

sam edy

terima kasih komentarnya ya, teman-teman. Buat El-Khoiry Nur dan Rasheed, sabar dan nantikan episode berikutnya, ya, hehehe...

2011-11-21 10:44:38 WIB

Ahmad Tarnuzi

Subhanallah,, tokoh utamanya hampir miri dgn pribadi saya. membacanya seakan-akan melihat diriku sendiri. jadi malu atau bangga ya...?
Hm.. penasaran jg dgn endingnya, kira2 apa yg akan tejadi dan ibu ya? ^_^

2011-11-21 12:38:37 WIB

sam edy

Buat Ahmad Tarnuzi, terima kasih sudah menyempatkan membaca karyaku, tunggu endingnya ya sambil baca-baca tulisan lain di annida yang oke punya,


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)