Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Biaya Kurban Tahun Ini Berlipat-lipat

10 Nov 2011 | Rubrik: Kisah Sejati - Dibaca: 834 kaliPenulis: Mochamad Syafei

 

Tahun ini aku dipilih menjadi ketua Idul Adha di musholla dekat rumah. Pemilihan ketua hari raya memang dilakukan secara bergilir. Maka ketika saya ditunjuk atau lebih tepatnya disuruh untuk menjadi ketua panitia hari raya Idul Adha tahun ini, maka saya pun tak keberatan.  Sekali-sekali bekerja untuk masyarakat kan lebih baik..

Seperti yang dilakukan oleh ketua panitia tahun lalu, saya pun berkeliling untuk mendata warga yang ingin berkurban. Kalau ada tujuh warga yang ingin berkurban, biasanya dianjurkan untuk membeli satu sapi saja, karena daging satu sapi lebih banyak daripada tujuh kambing. Seperti

“Tapi nanti bagaimana di akhiratnya, Pak?” tanya Pak Kodir agak ragu.

“Maksud Bapak?” tanya saya yang belum tahu maksud pertanyaan Pak Kodir.

“Begini, Pak Hada… Ada orang yang bilang, kalau berkurban sapi, nanti di akhirat akan saling tunggu hingga tujuh orang yang berkurban sapi itu datang.  Kalau ada satu saja yang masuk neraka dari ketujuh orang itu, maka kita akan menunggu lama untuk masuk surga bersama-sama,” jelas Pak Kodir.

“Ah, tidak begitu, Pak Kodir. Di akhiratnya sih akan dapat sapi satu-satu,” jawab saya agak sok tahu.

Akhirnya banyak juga yang berkurban.  Tahun ini ada terkumpul empat sapi. Dan kambingnya terkumpul dua ekor.

“Lho, Pak Ramli kok tidak ikut kurban? Atau Pak Hada salah catat?” tanya Pak Abu.  Ketua musholla yang setiap tahun pasti melihat daftar para pengorban di musholla.

“Tidak ikut,” jawab saya.

“Bapak sudah datang ke rumahnya?” tanya Pak Abu tak percaya.

“Sudah,” jawab saya dengan penekanan.

“Kalau sempat, coba deh tanya lagi. Beliau ini selalu berkurban setiap tahun.  Jangan sampai nanti marah karena tidak diikutkan dalam kurban,” Pak Abu rupa-rupanya masih belum begitu percaya pada ucapan saya. Walaupun saya sudah menekan-nekan suara saya.

“Nanti saya mampir ke rumahnya lagi, Pak,” kata saya.

Dan sehabis pertemuan itu, saya pun menepati janji. Saya mendatangi kembali rumah Pak Romli. Saya ingin memastikan apakah beliau ikut kurban atau tidak.

“Kok ditanya lagi, sih, Pak Hada?” tanya Pak Ramli yang mungkin juga bingung karena saya datang dua kali untuk menanyakan hal yang sama.

“Begini, Pak Ramli,” saya berusaha untuk mengambil nafas dulu, “Hampir semua pengurus musholla meragukan laporan saya. Maka saya pun diutus untuk menanyakan ulang,” kata saya agak terbata-bata.  Ada perasaan tidak enak di dada.

“Memang, Pak Hada. Saya selalu berkurban setiap tahun. Tapi untuk tahun ini saya ingin istirahat dulu.  Tak berkurban. Maklum, Pak Hada. Biaya pendidikan anak meningkat. Kebutuhan harian juga tak ada habis-habisnya naik.  Jadi, ya  itu, Pak Hada...  Tahun ini saya tak berkurban dulu,” jelasnya panjang lebar. ”Mudah-mudahan tahun depan bisa dapat rezeki lebih dan bisa berkurban bersama-sama di musholla.”

“Terima kasih, Pak Ramli. Maaf nih, Pak, saya sampai dua kali ke sini,” saya pun pamit.

Semua hasil pembicaraan dengan Pak Ramli saya laporkan kembali kepada pengurus yang lain.  Setelah itu, baru mereka percaya dengan apa yang saya katakan kemarin-kemarin.

Sampai akhirnya terdengar berita dari istri saya. Kabar yang mengagetkan, tapi saya agak kurang percaya juga.

“Betul, Pak,” kata istri saya meyakinkan.

Saya tak berkata apa-apa.

“Ibu-ibu sudah menengoknya. Perutnya membuncit. Tak jelas sakitnya apa,” tambah istri saya.

“Masa belum terdeteksi?” tanya saya.

“Katanya sih lambungnya tidak beres.”

Seminggu. Sudah seminggu Pak Ramli dirawat di rumah sakit. Pengurus musholla pun mengajak bapak-bapak untuk ikut menengok Pak Ramli. Saya ikut juga.

Di ranjang, Pak Ramli tergolek lemah. Bu Ramli menunggu di sampingnya. Agak kaget saat kami masuk ke ruangannya.

“Eh, Bapak-bapak,” kata Bu Ramli.

Pak Ramli bangun.  Tapi badannya seakan tidak kuat untuk duduk. Kami melarang Pak Ramli memaksakan diri untuk duduk.

“Tiduran saja, Pak Ramli,” kata Pak Sodori.

“Di rumah sakit kan memang disuruh istirahat. Jadi istirahat saja, Pak Ramli,” tambah Pak Abu.

Setelah berbincang kesana kemari, kami berpamitan pulang. Tapi kulihat ada air mata jatuh di pipi Pak Ramli. 

“Pak Hada,” panggil Pak Ramli.

Saya pun mendekati ranjangnya. Orang-orang memandangi kami berdua.  Pak Ramli seperti hendak mengatakan sesuatu.

“Pak Hada, saya minta maaf.  Saya kemarin menolak ikut kurban kepada Bapak.  Saat Bapak mengajak kurban saya malah mengatakan sedang seret rezki.  Tapi Pak Hada tahu sendiri, biaya rumah sakit ini berlipat-lipat dari harga kambing seandainya saya berkurban....”

“Sudahlah, Pak.  Yang penting Bapak cepat sehat,” kata saya.

“Saya menyesal, Pak Hada.  Mungkin sakit ini merupakan teguran dari Allah.  Saya pelit untuk berkurban, maka saya diberi sakit yang biayanya berlipat-lipat dari harga kambing ini.”

“Oh ya, Pak Hada.  Ini uang kurban Bapak, Bapak ikut kurban tahun ini. Masih bisa, kan?” kata Bu Ramli sambil menyodorkan amplop berisi uang.

“Masih bisa, Bu.  Tapi apa tidak sebaiknya uang itu untuk biaya berobat Pak Ramli? Pasti biayanya mahal sekali,” kata saya.

“Pak Hada, saya sudah diingatkan Allah.  Masa saya tak mau juga diingatkan?  Tak usah memikirkan biaya berobat saya, Pak Hada.  Kebetulan ada anak saya yang menjadi dokter, jadi dapat keringanan. Saya nggak mau menyesal untuk yang kedua kali, Pak Hada,” kata Pak Ramli sambil memelas.

“Terima saja, Pak Hada,” kata Pak Abu.

“Doakan saya agar cepat sembuh, Bapak-bapak,” pinta Pak Ramli sambil tersenyum.

“Baik, Pak Ramli,” kata kami hampir bersamaan.

Ya, tahun ini memang beda bagi Pak Ramli. Berkurbannya lebih dari tahun-tahun yang lalu. Lebih mahal karena harus membayar rumah sakit segala.

“Jangan-jangan Allah juga mengingatkan saya… Walau menjadi ketua panitia kurban, saya belum ikut menjadi peserta,” kata saya dalam hati.  Saya pun segera mencari istri saya.  Dan sesegera mungkin mendaftarkan diri ikut kurban.

Terima kasih telah mengingatkan, ya Allah..

 

 

 

Halaman: 1 |

Artikel Sebelumnya :

0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)