Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Impian Bikin Kita Tersadar plus Terbakar

10 Nov 2011 | Rubrik: Resensi - Dibaca: 1073 kali

 

Judul               : Mimpi Sejuta Dolar
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Pengarang      : Alberthiene Endah
Halaman         : 388 hlm.
Harga              : Rp. 63.000

 

 

Apakah kamu merasa hidupmu biasa-biasa saja?

Kamu menghela nafas berat tiap bangun pagi karena kesal pada matahari yang menampakkan diri cepat sekali?

Kamu sering merasa bingung mau berbuat apa hari ini?

Atau, kamu pernah merasa malas hidup, lebih baik segera mati?

 

 

Sobat Nida, kalau kita mengangguk untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, bisa jadi itu indikator kita belum menemukan impian. Jadinya hidup kita banyak disambangi kehampaan dan ketidakjelasan.

Nah, buku yang kali ini Nida resensi merupakan salah satu referensi tepat untuk siapapun yang mau mulai insyaf dan membakar harinya dengan semangat karena telah menemukan impian alias tujuan.

Tepat seperti judulnya, Mimpi Sejuta Dolar, buku ini mengisahkan perjuangan seorang gadis yang awalnya berkehidupan pas-pasan sampai akhirnya berhasil memperoleh pendapatan sebesar sejuta dollar di usia 26 tahun. Kok bisa?

Meski ditulis dengan gaya mengalir bak novel, buku ini sama sekali bukan kisah fiktif Sob. Mimpi Sejuta Dolar merupakan biografi dari Merry Riana, ia kini dinobatkan sebagai motivator wanita nomor satu di Indonesia dan Asia, padahal usianya baru 31 tahun. Hmm...

 

Tidak Sekedar Bercerita

Boleh dibilang, gaya bertutur dengan sudut pandang orang pertama dalam buku ini membuat kita sebagai pembaca tidak sekedar tahu mengenai perjalanan hidup Merry, tapi juga sekaligus bisa merasakan apa yang telah ia alami. Karena penulisnya mampu merangkai kata-kata untuk menunjukkan, tidak sekedar mengatakan (Show not tell).

Bayangkan... ternyata Merry Riana mulanya hanya gadis Tionghoa yang biasa-biasa saja, namun tanpa diduga, kerusuhan 1998 mengubah jalan hidupnya.

Seperti yang kita ketahui, saat itu banyak sekali warga Tionghoa di Indonesia yang menjadi korban kekerasan, pelecehan, pembakaran. Merry dan keluarganya termasuk yang dicekam ketakutan luar biasa atas peristiwa tersebut. Akhirnya, sang ayah berinisiatif mengirim Merry ke Singapura, dan melanjutkan kuliah di Nanyang Technological University (NTU).

Apakah itu pertanda keluarga Merry kaya raya? Oh, tidak demikian Sob! Justru kondisi krismon menyebabkan perekonomian keluarga Merry terpuruk. Ayahnya berani menguliahkan Merry di luar negeri karena rupanya di NTU ada program yang memungkinkan mahasiswa mendapatkan pinjaman dari Bank Singapura untuk dana pendidikan, besarnya kurang lebih 300 juta Rupiah. Dan pinjaman alias utang tersebut harus mulai dibayarkan setelah mahasiswa itu lulus dari NTU dan memperoleh pekerjaan. Bisa terbayang... bagaimana rasanya menanggung utang 300 juta padahal belum bekerja?

Hal itu diperparah dengan kemampuan bahasa Inggris Merry yang buruk, lengkaplah penderitaannya terdampar di negeri asing, dengan beban utang dan kemampuan komunikasi yang kurang. Ia pun harus rela ke mana-mana selalu berjalan kaki, makan hanya dengan mie instan dan dua roti tiap hari karena hanya memiliki 10 Dolar untuk kebutuhan hidup selama seminggu. Bahkan untuk minum pun ia menampung dari air kran kampus (yang aman diminum tentunya), dan sepanjang menjalani hal tersebut, ia tidak memberitahu kondisinya pada teman sekamar sekalipun.

 

Tidak Sekedar Kisah Sedih

Kabar baiknya, buku ini sama sekali bukan buku curhat dan berbagi kisah sedih, bukan cuma bikin nangis, menghabiskan selusin tisu, kemudian ya sudah... melainkan buku motivasi dengan serakan inspirasi. Jadi di balik kesulitan yang dialami, Merry pun menemukan banyak celah untuk selalu setapak lebih baik dari sebelumnya, dan pengalamannya tersebut bisa dijadikan tempat kita berkaca.

Misalnya, di kala mahasiswa lain menggunakan waktu liburan untuk berkumpul dengan keluarga, ia justru bekerja sebagai pembagi brosur di jalan. Pemaparan mengenai pekerjaan membagikan brosur ini sungguh menarik, karena ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tidak semua orang dengan senang hati menerima brosur yang dibagikan, banyak yang menolak, menghindar, bahkan sekalipun mengambil brosur tersebut, biasanya langsung membuangnya di tong sampah.

Tidak hanya bekerja sebagai pembagi brosur, tapi juga 1001 jenis pekerjaan dan bisnis dicobanya. Pembaca bisa ikut tertular semangat Merry dalam menempa dirinya dengan sikap disiplin, hemat, dan pantang menyerah meski terjatuh.

 

Tidak Sekedar Impian

Lalu bagaimana bisa mahasiswi berkantong pas-pasan akhirnya berani memiliki impian? Bernilai sejuta dolar pula...

Nah... Bagi penggemar kisah romantis, rasanya akan senang membaca bagaimana pertemuan awal antara Merry dengan Alva yang kini menjadi suaminya. Bisa dikatakan, Alva lah yang memberikan Merry keyakinan bahwa jika ia mampu bertahan, maka ia memiliki kekuatan yang sama untuk maju ke depan! Alva menjadi sahabat penyemangat Merry untuk memperbaiki kehidupannya.

Alva menjadi satu-satunya yang menjadi tempat Merry curhat mengenai keadaannya. Loh kok bisa? Bukankah Merry tidak pernah mau bercerita pada siapapun tentang kesulitannya? Ya tentu saja, karena ternyata Alva bernasib sama dengan Merry! Sama-sama masih susah... Mereka berdua kemudian menjadi partner dalam bekerja dan berdiskusi. Ini membuktikan bahwa kehadiran sahabat yang positif memang penting untuk mendukung impian kita Sob.

Apa sih yang menjadi impian Merry Riana saat itu?

Rupanya ia telah berpikir jauh ke depan, bahwa jika setelah lulus nanti ia hanya sekedar bekerja kantoran, dan harus menyisihkan sebagian besar pendapatannya untuk membayar utang pendidikan sebesar 300 juta, maka ia membutuhkan waktu yang lama untuk membahagiakan kedua orangtuanya yang mulai berusia senja. Tentu ia tidak berharap itu terjadi. Maka dengan berani Merry memutuskan untuk menjalani bisnis, dan ia memasang impian yang jelas: Kebebasan finasial sebelum berusia 30 tahun.

Membaca keseluruhan kisah Merry di buku ini, kita akan menyadari bahwa impian ternyata ibarat kompor yang bisa membakar semangat. Terbukti, setelah impian bebas finansialnya tercapai, Merry bukannya senang... malah kemudian merasa bosan, hidup terasa hambar. Akhirnya, ia pun mencanangkan impian barunya di  usia 30 tahunnya, yaitu untuk memberi dampak positif pada sedikitnya satu juta orang di Indonesia dan Asia. Wow... impian itu jugalah salah satu penyebab biografi ini dituliskan.

“Memiliki impian jauh lebih penting daripada tercapainya impian itu sendiri...”
 

Seperti Autobiografi

 Jika pada buku ini tidak dicantumkan nama penulisnya, mungkin sebagian besar kita akan menganggap bahwa Merry Riana sendiri yang menulis buku ini, selain gaya bertuturnya yang natural, kisah yang disampaikan pun terasa benar-benar dialami sendiri oleh penulisnya, padahal ternyata tidak. Penulis buku ini adalah Alberthiene Endah yang memang sudah terkenal sebagai penulis biografi tokoh ternama.

Pada akhirnya, impian merupakan hal yang penting untuk dimiliki setiap kita, jika bisa diibaratkan... impian adalah gawang, tempat bola bisa disarangkan. Tanpa gawang, 22 pemain bola yang ada di lapangan pasti seperti orang gila yang menendang bola tanpa tahu arah tujuan, iya kan? So, demikian pula hidup kita, wajar kalau kita uring-uringan tiap hari, bingung mau ngapain, karena kita tidak tahu arah dan tujuan hidup, mau dipakai untuk apa sih hari-hari dalam hidup kita?

Buat siapapun yang ingin dapat inspirasi tentang bermimpi, rasanya melewatkan membaca buku ini bakalan rugi! Gak percaya kan? Buktikan saja sendiri... (Syamsa)

 

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel Sebelumnya :

5 Komentar :
2011-11-26 08:57:47 WIB

dewi yulaikah

wow., keren,.q pikir dia asli orang indonesia trnyta bukan,.

dilihat dari sinopsis ceritanya z sudah keren,.
tapi sepertinya untuk mendapatkan buku ini q juga harus bermimpi dulu, untuk mempunyai uang,. menabunglah istilahnya, hhe hhe hhe

2011-12-02 09:54:45 WIB

Annida

Sob.. Ngga' perlu bermimpi untuk mendapatkan buku ini..
Ikutan Quiz aja sob.. (mmm.. enak 'kan klo bisa menang dan dapat buku gratis.. ) klik aja link ini sob..
http://www.annida-online.com/artikel-4519-Buktiin %20Kamu%20Punya%20MIMPI%20SEJUTA%20DOLAR.html

Dan Merry Riana itu asli orang Indonesia tapi memang turunan Tiong Hoa..

2011-12-02 21:35:05 WIB

Kate Syarief

Amazing and inspiration. Mudah-mudahan kedepannya saya bisa menggapai impian karena kehidupan yang saya jalani sekarang beda-beda tipis dengan kehidupan mbak Merry.

2011-12-14 21:34:46 WIB

ninav

ada dua poin yg "nusuk" banget

1. Kamu sering merasa bingung mau berbuat apa hari ini?
2. Maka dengan berani Merry memutuskan untuk menjalani bisnis, dan ia memasang impian yang jelas: Kebebasan finasial sebelum berusia 30 tahun.

ACTION !

2011-12-15 16:46:23 WIB

titin suci aryati

salut untuk perjuangannya mencapai impian, kisahnya inspiratif banget, sangat memotivasi saya untuk mencapai impian-impian saya selama ini,
dan kita seharusnya melihat kesuksesan dari proses bagaimana dia mencapai impian-impian nya.


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)