Untitled Document

Kategori : Komentar Cerpen Rijek

Dibaca : 2181 Kali

Cerita Pendek = Cerita yang Diselesaikan Sambil Minum Kopi

Tentu sobat Nida bertanya-tanya tentang judul di atas. Judul di atas adalah salah satu definisi cerpen yang sobat Nida perlu tahu. Cerpen adalah jenis prosa fiksi yang dibaca sambil lalu, bahkan bisa diumpamakan bila kita sedang meminum kopi, cerita tersebut akan selesai pada tegukan terakhir kopi itu.

Ada sebagian dari sobat Nida yang salah mengartikan definisi cerpen. Cerita yang disajikan terkadang begitu panjang. Cerpen sesungguhnya hanya memuat sepenggal saja dari potret kehidupan seseorang. Tentu potret kehidupan yang menarik dari tokoh yang diceritakan. Cerita pendek yang terlalu panjang, akan mengaburkan fokus cerita. Sehingga hikmah cerita kurang bisa ditangkap pembaca.

Berikut contoh cerpen yang menurut Nida masih terlalu panjang untuk disebut sebagai sebuah cerpen. Judulnya adalah Firasat yang Keliru karya Syaja’ah. Cerpen yang terhampar dalam 19 lembar ini mengisahkan seorang wanita dan perjalananya menggampai sosok suami idamannya.

Pemaparan cerita dimulai dengan penggambaran tokoh utama, Anis.

Anis adalah seorang akhwat yang sangat baik dan selalu taat menjalankan syariat islam. Dia sangat aktif dalam organisasi kampusnya. Dia salah seorang mahasiswi dari salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Dia anak yang pintar menulis novel dan artikel-artikel yang lainya. Dia anak jurusan sastra bahasa Indonesia dan sangat aktif di dalam kelasnya, sehingga dosen sangat mengenalnya dengan baik.Semenjak ayahnya meninggal, dia hanya hidup bersama ibunya yang sangat khawatir dengan kesibukannnya, Bekerja sambil menjadi tulang punggung keluarganya. Dia juga tidak pernah menunjukkan segala keluhannya kepada ibu dan teman-temannya, dia sangat tegar dalam menjalani hidup.

Selanjutnya cerita berlanjut pada keprihatinan Anis akan pergaulan teman-temannya yang sudah melewati batas. Poin yang melemahkan cerita ini adalah semua cerita itu dijelaskan dengan dialog-dialog antar tokoh. Sehingga kesan cerita menjadi bertele-tele. Cerita berlanjut pada hubungan tokoh utama dengan Faqih. Cerita lagi-lagi dikisahkan melalui dialog-dialog yang sebenarnya bisa diringkas melalui narasi. Ujung cerita berakhir pada kekecewaan Anis pada Faqih, dan akhirnya cinta Anis berlabuh pada Azmi.

Cerpen di atas mengambarkan tokoh utama, Anis, sejak awal hingga dia menemui konfliknya dengan begitu panjang. Masalah yang diangkat juga melebar pada seputar kehidupan orangtuanya, sahabatnya dan juga dirinya. Sehingga perjalanan menuju inti cerita terasa begitu panjang. Hal itu sangat disayangkan mengingat cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.

Konflik yang disajikan seharusnya cepat, ringkas dan menarik. Tidak perlu menggambarkan sosok tokoh utama dari awal (semenjak lahir, misalnya) sampai keadaan di mana ia menemui masalah. Konflik juga tidak harus digambarkan mengenai seluruh kisah hidupnya. Cukup satu masalah saja, tetapi penyelesaian masalah diselesaikan dengan jelas dan menarik. Tentu cerpen yang memilki penyelesaian yang mengejutkan akan lebih mengena di hati pembaca.

Jadi, Selamat mencoba menulis cerpen yang habis tepat pada tegukan kopi yang terakhir! ^___^b

 

 

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document