TETES MERAH
03 Nov 2011 | Rubrik: Epik - Dibaca: 2924 kali
Kucoba mengatur napas sedemikian rupa, sambil bersandar di sebuah pohon yang tak kutahu namanya. Tersengal-sengal. Terputus-putus. Leleran keringat seolah keluar dari setiap tarikan napasku, baju ini semakin terasa basah.
Kupaling wajah pada deru napas yang juga tak kalah denganku. Tertahan. Terputus. Kulihat ibu memejamkan mata. Tubuhnya lunglai terduduk di atas daun-daun kering yang menimpa tanah.
“Kenapa kita harus berlari, Bu?” suara yang tadi tercekat sesakan napas, kini meluncur dari lidahku yang kering.
Ibu tak langsung menyahut. Ia masih mengatur napasnya yang turun naik. Sesekali siulan batuk keringnya terdengar menyaru angin hutan yang berhembus kencang.
Kutatap angkasa. Tanpa bintang. Gelap. Pekat. Pasti awan hitam di atas sana telah menyungkup sang rembulan. Suara-suara binatang malam, semakin nyaring terdengar mengusik gendang telingaku.
Plaakk!
Kutahu, ibu baru saja mengusir nyamuk hutan yang menggigit kulit kisutnya. Ah, kasihan sekali ibu. Tubuhnya penuh garis-garis merah, akibat jamahan duri dan belukar. Di tubuhku juga ada luka gores, tapi tak sebanyak ibu. Ibu yang berada di depan, menyibak belukar dengan tangan dan kakinya.
Kulekat wajahnya yang kuyu. Manik mataku tiba-tiba mengabur. Rajam nyeri bergelembung dalam dada. Sesak. Sakit. Pilu.
Kusentuh wajahnya yang masih dibaui keringat. Ibu membuka mata. Keruh. Tanpa harap. Tanpa makna.
“Kenapa kita harus berlari, Bu?”
Ibu menatapku. Mengelus rambutku. Menyapu air mataku yang sudah meleleh. Lalu memelukku. Kurasakan hangat di bahuku.
Ibu Menangis.
Aku terisak.
Peluk ibu semakin erat.
Napasku terasa sesak.
“Kita harus.... tetap... hidup...,” katanya lirih. Pelan. Terputus. Tertahan.
“Apakah kita akan mati?”
“Tidak. Kita tidak boleh mati. Kita tidak bersalah,” bantah ibu. Tubuhku ikut bergetar seirama isak tangis ibu.
“Lalu kenapa orang-orang itu mengejar dan ingin membunuh kita?”
“Entahlah..., mereka tak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.”
Tik...! Tik...!
Satu. Dua. Tetesan air langit mengenai wajahku. Rupanya, hujan memang akan segera turun.
Kulepas pelukan ibu. Kutatap wajahnya, seolah bertanya, kemana akan berteduh bila hujan telah menderas. Di tengah hutan seperti ini, mana ada rumah atau gubuk.
Ibu bangkit. Menuntun tanganku. “Ibu juga tak tahu kemana kita akan berteduh. Yang jelas kita harus segera pergi dari sini. Mereka pasti masih mengejar kita.”
Hujan telah durun dengan deras. Berteman dengan kawan setianya, angin dan petir. Angin bersiut-siut mengepakkan dedaunan, menggoyang pepohonan sekehendaknya. Kuyup sudah aku dan ibu, namun belum juga menemukan tempat berteduh.
Ibu berjalan sangat pelan, meraba-raba pohon dan semak yang kami lewati. Selain mata tuanya tak mampu melihat dalam gelap, tentu karena ibu masih kelelahan, sehabis berlari tanpa henti, guna menyelamatkan diri dari kejaran para tentara.
Aku hanya mengikuti kemana ibu menuntunku. Suara gemeresak daun basah, seakan langkah orang ketiga yang mengikuti dari belakang.
Kilatan petir yang memercikkan cahaya, sedikit membantu penglihatan kami. Mataku tiba-tiba menangkap sebuah lubang kecil yang menganga di pinggiran tebing. Ah, semoga saja itu bisa untuk tepat berteduh.
“Bu, itu ada gua...,” tunjukku ke arah tebing.
Ibu tak menjawab, tapi langsung mempercepat langkahnya menuju arah yang kutunjuk seiring kilatan listrik dari yang langit yang menerangi jalan. Aku menggigil memeluk lutut. Pakaianku masih basah, dinginnya menusuk ke sum-sum tulang. Gua ini begitu dingin, gelap, dan pekat. Hanya kilatan cahaya dari mulut gua yang sedikit membantu penglihatan.
Kulihat ibu juga menggigil. Tubuhnya meringkuk, rebah di lantai gua yang dingin. Ingin sekali kumenghangatkan tubuhnya, tapi pakai apa? Pakaian kami sama-sama basah.
Di sela gigil yang tak tertahankan, pikiranku tiba-tiba kembali membayang kejadian yang menyeret kami di gua ini. Sebenarnya aku tak ingin mengingatnya. Tapi bayangan wajah Abah tiba-tiba muncul...
“Cepatlah... nanti Abah-mu keburu pergi ke sawah,” kata Ibu mendesak, ia berdiri di sebungkah batu besar datar di pinggiran sungai. Di antara pinggang dan tangannya, mengapit bakul yang berisi pakaian basah.
“Iya, Bu,”
Cepat aku menyelesaikan mandi. Walau sebenarnya aku masih ingin bermain air dengan teman-teman sebayaku, tapi aku juga tak ingin ibu lama menunggu. Akhirnya kusadahi saja.
Sambil mengikuti ibu di belakang, tanganku usil mencumut ujung daun ilalang, lalu kumasukkan ke mulut, dan menggigit-gigit kecil dengan ujung gigiku. Sebuah kebiasaan yang tak disengaja, akhirnya ketagihan melakukannya.
“Lari... Lari...!”
Begitu memasuki perkampungan, suara teriakan memancing perhatian kami. Warga kampung berlarian dengan wajah penuh kecemasan. Ibu dan aku menghentikan langkah, menjenaki apa yang sedang terjadi.
“Ada apa, Bu?” aku penasaran.
Ibu tak menyahut. Matanya lurus melihat semua warga yang ketakutan. Lalu, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara letupan. Beberapa lelaki berpakaian loreng mengacungkan senjata.
Dorrrr...! Dorrrr...! Dorrrr...!
9 Komentar :
Sedih hiks hiks karena tokoh cerita ditembak. Harus ada yang menegakkan keadilan karena si tokoh tak berdaya.
woww...
selalu terenyuh baca2 cerita di annida.
Cerita yang dimuat tak pernah cerita sembarangan.
Saluut! ^^
salam dari pembaca Annida ONLINE yg baru gabung. hehe
http://aul-home.blogspot.com/
pasti, sudah saya duga, epik nya muh.saleh dari dulu sampai sekarang selalu ada katakata: Dor! Dor! Dor!!
hahahahaaaaaaa
Hehe...@Fanny: Trims udah perhatian epik-epik saya. Emang ada bunyi lain, selain Dor ! untuk senjata api. Hahaha, kasih usul dong!
Begitulah, sebagian diantara generasi kita hidup dalam bayang2x trauma masa silam. Ibu saya sampai sekarang belum bisa melupakan bagaimana pamannya ditembak sampai mati ketika zaman pergolakan dulu oleh "bangsa" kita sendiri, sampai sekarang beliau masih merasa benci pada satu etnis tertentu. padhal perang bukanlah masalah etnisitas, tapi kerumitan masalah politik, kebuntuan sosial dan ekonomi
Mohon maaf sebelumnya. Saya hanya ingin memberi sedikit masukan. Ini juga sebagai pembelajaran bagi saya. Menurut saya, Tema cerita bagus sekali, mengulas tentang sejarah PKI. Hanya ada sedikit dialog yang menurut saya kuranng pas, yaitu ketika tokoh ibu menceritakan latar belakang pembunuhan tokoh abah. Tokoh ibu yang tinggal di desa dan gubuk kecil yang berprofesi sebagai petani, rasanya tidak pas jika tahu secara lengkap apa permasalahan yang terjadi pada waktu itu. Apalagi di zaman tersebut tidak ada televisi seperti sekarang. Jadi berita politik atau pemerintahan tidak gampang untuk diterima masyarakat. Perlu juga kajian lebih dalam ketika menyebutkan tokoh para tentara yang licik dan bengis.
aria
bagus.bagus.tp bener kata komen yg diatas,agak janggal faktanya.
www.belajarsuksesdisini.com
Isi Komentar :




