LIKA-LIKU KULI TINTA (part 3)
27 Okt 2011 | Rubrik: Cerbung - Dibaca: 1878 kali
Aku tak menyahut lagi. Aku tak ingin menciptakan perang dunia ketiga. Kuletakkan lembaran uang lusuh itu di atas meja dekat ibu. Lalu gegas masuk ke dalam kamar dengan perasaan gondok bukan buatan.
Dua bulan berlalu. Cerpen keduaku nongol lagi di koran lokal itu. Dan selama kurun waktu itu, telah lima puluh delapan cerpen yang kugoreskan. Baru dua yang dimuat. Itu pun di koran lokal yang sama. Ya, aku makin bisa menyelami beratnya sebuah perjuangan dalam menggapai sebuah impian. Dan, aku semakin yakin, tak ada kesuksesan yang instan. Semua butuh pengorbanan. Tenaga, pikiran, waktu dan tentu saja materi.
Dan kali ini, aku tak mau mengulang kejadian tak mengenakkan dengan bagian redaksi koran lokal yang telah dua kali memuat cerpenku. Sehari setelah pemuatan cerpenku, aku langsung berkirim surat pemberitahuan ke kantor redaksi, agar honorku dikirim via wesel pos saja.
Seminggu kemudian, cerpenku dimuat di koran Jateng. Seminggunya lagi di sebuah koran terbitan Yogyakarta. Alhamdulillah. Tak henti-hentinya kupanjatkan puji syukur pada Tuhan yang telah memudahkan ikhtiar sekaligus doaku. Benar kata pepatah; man jadda wajada. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan menuai keberhasilan. Jujur, dulu aku hanya mampu mengartikan dalil penopang keberhasilan itu secara tekstual saja. Tapi kini, sedikit demi sedikit, aku mulai bisa merasakannya, karena aku telah mengamalkan sendiri dalil itu. Bukan sebatas pemanis bibir.
Walau, aku akui, aku merasa belum totalitas dalam berkarya. Masih banyak waktu kosong yang terluang begitu saja. Dan mulai detik ini, aku janji akan terus meningkatkan jam terbangku menelan batu; baca tulis, baca tulis, dan... baca tulis. Titik.
Aku kian rajin menggali ide dengan sesering mungkin mengamati lingkungan sekitar. Melihat lebih dekat dan detail gerak-gerik, lelaku dan karakter orang-orang sekitarku. Karena dunia sastra adalah dunia kata. Menorehkan segala hal yang kita dengar, lihat dan rasakan melalui goresan pena.
Teman kuliah, keluarga, tetangga, tukang becak yang suka mangkal di perempatan, para pekerja kantoran yang wajahnya terlipat serius tiap pagi dikejar waktu tersebab takut telat yang tentu saja buntutnya bisa gawat; dipecat, tak pernah luput dari pengawasanku. Sesekali waktu, kutanya pada mereka, enak nggak sih jadi pegawai kantoran? Kenapa tiap hari selalu berangkat tergesa? Dan jawaban yang kuperoleh pun beragam. Dari jawaban-jawaban itulah yang kemudian menjadi referensi penting sewaktu-waktu aku membutuhkannya.
Bahkan tak jarang, aku bela-belain naik becak—kadang jalan kaki hingga berkilo-kilo—sekedar muter kota saja, agar bisa melihat lebih dekat aktivitas kota yang padat dan sering dicegat macet. Sambil sesekali mengobrol sama si abang becak tentang banyak hal seputar perjuangan beratnya saat harus terus mengepulkan asap dapur istrinya sekaligus mencari tambahan penghasilan untuk membayar mahalnya biaya sekolah anak-anaknya yang masih SD dan SMP.
Malah, aku juga kerap berlama-lama nongkrong di pinggir jalan, demi sekadar memerhatikan tingkah seorang wanita gila berambut awut-awutan menjuntai punggung. Sementara perutnya terlihat membusung. Ah, kasihan sekali nasibnya. Sudah gila, hamil lagi. Siapa pula yang telah begitu tega menanamkan benih terlarang pada wanita yang kalau kuperhatikan sebenarnya lumayan cantik itu.
Selain itu, curhatan teman-teman yang sedang bermasalah pun bisa menjadi topik menarik buat kujadikan sebuah tulisan. Sayap pertemanan sesama penulis kubentang selebar-lebarnya. Mulai penulis yang berdomisili satu kota, luar kota, bahkan luar Jawa sekalipun. Saling bertukar informasi, berkirim email menuai saran dan kritik membangun, dst. Walau aku kerap menelan kecewa saat melihat realita; tak semua penulis welcome diajak menjalin pertemanan. Sangat disayangkan, kenapa itu bisa terjadi?
Tentu saja mereka ngindar, nggak mau kita deketi, takut kesaing sama kita, begitu ujar salah satu teman sesama penulis yang cukup akrab denganku. Tapi, ah! Apa benar seperti itu. Tak bijak rasanya kalau kita cepat berburuk sangka pada orang lain.
“Di, ada yang nyari kamu, tuh!” seru ibu dari luar kamar yang langsung membuyarkan konsentrasiku yang tengah asyik berpetualang di dunia kata di depan layar monitor.
Gegas kubuka pintu.
“Siapa, Bu,” tanyaku sembari menjulurkan kepala beserta separuh badanku ke luar pintu kamar.
“Bu Ida, Guru SD desa sebelah,”
“Mau ketemu saya, Bu. Ada apa, ya,” dahiku berlipat-merapat.
“Mana ibu tahu, Di. Udah temuin saja langsung sana, siapa tahu ia butuh bantuanmu,” perintah ibu sembari melangkahkan kaki ke ruang dapur.
***
“Begini, Nak Aldi. Kedatangan saya ke sini mau menawarkan Nak Aldi buat ikut membantu ngajar di SD tempat saya mengajar. Kebetulan SD kami sedang kekurangan guru agama,” terang Bu Ida panjang, sementara aku hanya manggut-manggut kecil, tanpa pernah terpikir untuk menerima tawaran yang sama sekali tak membuatku tertarik itu.
“Maaf, kalau boleh tahu, kok ibu tiba-tiba minta bantuan saya, Bu. Kenapa nggak orang lain saja yang lebih mumpuni dari saya,” tanyaku pelan sembari mengulum senyum. Ah! Aku jadi ingat sama si Ratna, teman kuliahku. Dua hari lalu dia SMS, nanya ada nggak lowongan GTT-an. Kujawab dengan candaan; ada, tapi gratis nggak ada bayarannya, ngajar ngaji di mushala dekat rumahku tiap bakda magrib. Terang saja Ratna langsung uring-uringan dengan balasan SMS-ku itu, he-he-he.
“Ah, Nak Aldi ini paling bisa merendah, gitu. Semua penduduk sini kan tahu, kalau Nak Aldi kuliah di UT, sedang semester akhir, sudah waktunya ngajar. Apalagi Nak Aldi ikutan mbantu Pak Kyai Musthofa ngajar anak-anak ngaji tiap bakda magrib di mushola. Iya, tho?” ujar Bu Ida mengeluarkan jurus mautnya. Sayang, aku tak tertarik dengan pujiannya yang aku yakin hanya sebatas kembang-lambe.Lipsync.
“Tapi, maaf, Bu Ida. Saat ini saya sedang sibuk dengan kegiatan menulis saya. Jadi, saya harap, Bu Ida bisa memahami,” aku tiba-tiba teringat Ratna, “Atau... gini aja, kebetulan teman saya ada yang sedang nyari lowongan GTT, jika Bu Ida berkenan, nanti saya sampaikan ke teman saya itu,” aku mencoba menawarkan solusi.
“Mmm, laki-laki apa perempuan temannya Nak Aldi,” tanyanya dengan dahi berkerut.
“Perempuan, Bu,”
“Waduh, tapi sayang sekali, kepala sekolah meminta saya nyari guru laki-laki. Kalau perempuan sih, udah banyak yang ndaftar kemarin, tapi ditolak semua, Nak Aldi,” terangnya.
7 Komentar :
bagus bgd neh yg ketiga.... salut buat pengarangnya... asyik bgd... cara nulis cerpennya keliatan rapi gak tergesa-gesa.... dari sekian cerpen yg aku suka ini... cerbungnya... hehe jadi ambil pelajaran banyak gimana cara nulis cerpen model beginian...
Buat Annur: terima kasih komentarnya....
Yuk, kita terus belajar, agar ke depan bisa berkarya lebih baik lagi...
Terus semangat ....
Semoga kita selalu bisa. Soalnya saya juga lagi belajar nie... dan sudah mulai mengirim ke Annida, walu belum ada responnya.. hee... tapi, tertap semangat ja... dilanjutkan...
tulisan yang bagus memang kebanyakan karya fenomenal berasal dari kisah pribadi yang di bawakan dengan hati yang ikhlas makasih ya atas sharingnya ;-)
buat adon obel_obel: semangat yuk.
buat rasheed: trims udah menyempatkan mampir, sukses buat kamu ya.
Isi Komentar :




