Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Kembali Part (1)

18 Okt 2011 | Rubrik: Cerpen Interaktif - Dibaca: 2155 kali

  Oleh : Richa Miskiyya

 

            Langkah kakinya tak beraturan, sebentar oleng ke kiri, sebentar oleng ke kanan. Matanya menatap nanar tanah becek yang menyelimuti jalanan kampung. Asap dari kendaraan bermotor mengepul hebat dari knalpot belakangnya.

            Kampung yang telah ia tinggalkan empat tahun sudah mulai ramai, anak-anak tak lagi bersepeda, orang tua mereka lebih memilih membelikan motor dari pada sepeda angin. Hingga saat berjalan pun harus menepi sangat jika tak mau tersundul anak-anak muda yang sedang girangnya memiliki motor, terlihat dari sikap mereka yang melontarkan gas tanpa menginjak porseneling hingga menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.

Langkah kaki lelaki itu terhenti sejenak di depan sebuah warung kopi. Perutnya berteriak, tanda jika semenjak dari kemarin siang belum ada makanan yang masuk ke kerongkongan. Paling hanya aliran air hujan yang ia tadah dengan tangan kemudian ia minum untuk hilangkan haus.

            Tapi bukan hanya karena rasa lapar ia berhenti sejenak, tapi juga demi mendengar celotehan dari orang-orang yang tertawa-tawa dan nongkrong di warung kopi itu.

            “Lihatlah itu si Karman, mau apa dia ke kampung ini lagi? Istrinya saja sudah tak sudi kenal dengannya,”ujar Lelaki di warung yang kemudian disambut dengan tawa menggelegar dari kawan-kawannya.

Lelaki itu kenal betul siapa yang sedang membicarakannya. Badrun, musuh bebuyutannya. Tapi kali ini lelaki yang bernama Karman itu enggan menanggapi. Ia melanjutkan perjalanannya melewati jalanan yang begitu dihafalnya di luar kepala.

Empat puluh tiga tahun ia melewati jalanan itu, dari sejak ia masih dititah tangan oleh Emaknya, hingga ia menitah sendiri anaknya. Anaknya? Ah, bagaimana keadaan mereka sekarang. Hatinya penuh galau dan tanya.

 Semua berawal dari sikapnya, di kampung ini tak ada yang berani dengannya, semua menyebutnya Jawara kampung, dengan kumis melintang yang kini makin melebat karena memang tak pernah ia mencukurnya. Membuat onar sudah menjadi pekerjaan tetapnya

Bui pun sudah menjadi rumah kedua baginya, jari tangannya sudah habis jika hanya untuk menghitung berapa kali ia bolak-balik memasukinya.

Hari itu menjadi hari yang tak pernah ia lupakan, semua jenis kejahatan memang pernah ia lakukan,  jadi preman di pasar desa seberang hingga mengedar narkoba dengan segala jenisnya, ia sudah pernah mencobanya. Hanya satu yang ia hindari, menghilangkan nyawa orang.

*          *          *

Rumah dinding bata dengan lantai semen itu masih sama dengan rumahnya empat tahun lalu, rumah yang di dalamnya menjadi saksi bisu hingga ia harus masuk bui empat tahun lamanya, tak seperti waktu-waktu dibui sebelumnya yang hanya dua minggu atau paling lama satu bulan. Ini empat tahun tanpa jeda, apalagi ditambah kesaksian Yanti, istrinya yang memang sudah pendam benci padanya. Semua pukulan dan lebam di tubuh Yanti pun menjadi saksi bisu semua sikapnya sebagai suami.

Pintu kayu itu dibukanya perlahan, tak terkunci. Rumah laba-laba bergelantungan di sudut-sudut rumahnya, tak ada lagi barang-barang di dalamnya, almari, tempat tidur, semua tak ada, bahkan vas bunga juga sudah tak bersisa.

Rumahnya memang tak berubah, tapi suasana di dalamnya sudah berbalik, tak ada tawa anaknya, juga kemarahan istrinya ketika ia pulang malam setengah sadar, ia merindukan itu semua. Ternyata semuanya memang terasa berarti setelah semua menghilang.

Setelah peristiwa empat tahun lalu, Yanti langsung menggugat cerai dirinya dan membawa serta dua anaknya, entah kemana. Mungkin ini memang hukuman baginya, suami yang tak pernah merasa bahwa dirinya seorang suami. Dan kini ia kembali, kembali untuk perbaiki semuanya.

Yuhuuu...!

PERHATIAN-PERHATIAN! Bagi Sobat Nida yang tertarik melanjutkan Cerpen interaktif Kembali (part 2), silakan kirim lanjutannya ke email : majalah_annida@yahoo.com, dengan format .rtf atau .doc, subject: cerpin Kembali 2. Selambat-lambatnya 10 hari setelah pemuatan Kembali (part 1), atau selama naskah Part 2-nya belum ada yang tayang (artinya dari sekian banyak naskah kiriman, belum ada yang dinyatakan layak muat)

Jangan lupa sertakan nama dan alamat lengkap, karena ada bingkisan yang berhak kamu dapatkan jika karyamu yang terpilih. Makanya, cepetan tulis... dan kirim! ^_^

 

 

Halaman: 1 |

Artikel Sebelumnya :

7 Komentar :
2011-10-22 22:48:29 WIB

dilla

syaratnya apa aja?

2011-10-25 17:56:57 WIB

anisahsholiha

setiap manusia penjahat sekalipun pasti akan merasakan kehilangan jika ditinggal oleh orang yang dekat dengan kita, apalagi orang itu yang kita sayang. kisah ini diawali dengan pembukaan yang cantik, yang mampu mengajak pembaca seolah terlibat di dalamnya...

2011-11-04 02:22:21 WIB

Alif Sufi

Assalamualaikum. Numpang komen atuh...
Menurut ana alurnya udah bagus banget. Benar deh. Bagus. Karena dari awal langsung aktif menggerakkan alur. Dengan memunculkan peristiwa-peristiwa baru, yang kemudian dibumbui dengan flashback tokoh di masa lalu. Nggak cuma itu, penulis mampu membuat setting atau latar cerita menjadi semakin nyata. Ini menurut ana adalah salah satu kesuksesan dalam menulis. Jangan salah. Banyak juga lho penulis yang tingkat kesulitannya itu saat menggambarkan secara detail sebuah latar atau dengan kata lain membuat susunan-susunan kalimat konkret yang menggambarkan sebuah latar atau seting...... (Tingkat kesulitan menulis itu berbeda-beda ternyata.... Iya dong!)

2011-11-04 02:23:17 WIB

Alif Sufi

Nah, mungkin sedikit missingnya di bagian penulisan atau tepatnya peletakan koma dalam sebuah kalimat. Koma dalam kaidah EYD (beeeuuhh!!! :p... bukan sombong! kan sambil belajar .... : )) itu digunakan pada beberapa kalimat bersyarat. Ya syaratnya yang ada kata hubungnyalah, kalimat pembilangnyalah dan masih banyak lagi deh. Jadi kita nggak bisa sembarangan tanam koma di sembarang tempat. (tanam??? taruh maksudnya ... hehe). Biar lebih terlihat keefektifan sebuah kalimat. Jadi enak dibaca juga kan???
Seperti pada kalimat :

2011-11-04 02:25:57 WIB

Alif Sufi

Hari itu menjadi hari yang tak pernah ia lupakan, semua jenis kejahatan memang pernah ia lakukan, jadi preman di pasar desa seberang hingga mengedar narkoba dengan segala jenisnya, ia sudah pernah mencobanya.
Mungkin lebih efektif jika :
Hari itu menjadi hari yang tak pernah ia lupakan. Semua jenis kejahatan memang pernah ia lakukan. Jadi preman di pasar desa seberang hingga mengedar narkoba dengan segala jenisnya, ia sudah pernah mencobanya.
Dan mungkin kesalahan pengetikan seperti :

2011-11-04 02:26:40 WIB

Alif Sufi

“Lihatlah itu si Karman, mau apa dia ke kampung ini lagi? Istrinya saja sudah tak sudi kenal dengannya,”ujar Lelaki di warung yang kemudian disambut dengan tawa menggelegar dari kawan-kawannya.
Ya, koma setelah kata dengannya tidak dibutuhkan. Jadi bisa langsung menambahkan tanda kutip disana. Dan ingat! Setelah tanda kutip tersebut harus ada space.
Kemudian pada kata Lelaki. Tidak seharusnya disana kita menggunakan huruf kapital kan??? Kalo yang pasti tahu dong kenapa. : )
Sebelumnya ana minta maaf jika komentar ana juga ada salah. Karena memang manusia selalu memiliki kekurangan. Dan ini yang harus memotivasi kita buat jadi penulis yang lebih baik lagi kedepannya. Kalo bisa mohon komentar ana di komentari lagi. Soalnya ana pemula. Hehe. Thanks.
Wassalam.

2011-12-21 08:07:09 WIB

Rifa

Pengen nyoba lanjutin ah... :D
moga masih sempat.


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)