ANNIDA MEMBELOKKAN CITA-CITA SAYA
17 Okt 2011 | Rubrik: Dapur Penulis - Dibaca: 1913 kaliPenulis: Gusrianto
Sejak kecil saya bercita-cita ingin menjadi dokter.
“Jadi Dokter.” Begitu jawaban yang selalu keluar dari mulut saya kalau ibu, bapak maupun guru di sekolah bertanya. Dan mereka akan tersenyum mendengar jawaban saya. Itu dulu, waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Waktu SD, sekali seminggu saya selalu dibelikan majalah ANANDA (entah kemana majalah ini sekarang) oleh kakak, karena kakak saya tahu, saya memang hobi membaca. Rubrik cerpen di Ananda adalah yang paling saya sukai. Dalam hati saya sering berkata, “ah…sepertinya saya bisa menulis cerita seperti ini”
Lalu saya pun mulai merangkai kata-kata di kepala untuk kemudian dituangkan di atas kertas. Berhasilkah? Tidak. Ternyata menulis susah juga, ya? Batin saya. Saya pun mulai melupakan menulis.
Sewaktu masuk SMA, cita-cita saya masih sama, ingin jadi dokter, makanya saya masuk jurusan IPA. Di SMA saya mulai menulis lagi, karena sewaktu SMA saya mulai mengenal majalah-majalah remaja seperti ANEKA, ANITA dan KAWANKU yang pada waktu itu banyak memuat cerpen-cerpen. Saya menulis sama sekali tak ada niat untuk dikirimkan, saya hanya ingin cerita itu menjadi koleksi saya. Bahkan saya juga menyediakan sebuah buku tulis khusus untuk menampung karya-karya saya. Buku itu saya beri judul besar di luar. Ada yang berjudul Buku Suntuq, Buku Suntuq 1, Buku suntuq 2, Buku Pra Suntuq, dan lain-lain. Mengapa suntuk? Karena memang saya menulis paling sering di saat sedang suntuk menghadapi pelajaran yang diterangkan. Di buku itulah saya menulis cerpen, puisi, artikel, tulisan-tulisan singkat dan kadang juga melukis gaya gurunya yang sedang menerangkan pelajaran hehehe.
Setelah selesai saya akan suruh teman-teman untuk membaca. Karena di sekolah ada mading, saya juga mengirimkan tulisan (cerpen dan puisi) itu ke mading sekolah. Apakah karya saya dimuat di mading sekolah? Tentu saja. Apakah saya bangga? Tentu saja. Lalu apakah pernah terlintas untuk jadi penulis? Belum. Saya masih ingin menjadi dokter.
Entah angin apa yang menerbangkan, setamat SMA saya malah diterima di Fakultas Pertanian USU, bukannya di Fakultas Kedokteran seperti cita-cita saya. Dan sejak hijrah dari Ranah Minang ke kota Medan (saya aslinya dari Payakumbuh), Saya mulai mengenal majalah Annida (sebuah majalah remaja Islam yang mayoritas isinya adalah cerpen, tapi sekarang majalah ini sudah berganti format dari bentuk cetakan menjadi format online (www.annida-online.com). Sejak Juli 1999 saya selalu membeli Annida, tak pernah terlewatkan. Dari Annida lah saya mulai mengenal dan mendalami cerpen-cerpen (terutama cerpen-cerpen Islami). Sejak kenal Annida-lah keinginan yang kuat untuk menulis muncul. Apalagi kemudian di majalah Annida saya termukan formulir pendaftaran untuk menjadi anggota Forum Lingkar Pena, tak perlu pikir dua kali, saya langsung mengisi dan mengirimkan formulir tersebut.
Sejak kenal Annida, Helvy Tiana Rossa langsung mendapat tempat istimewa di hati saya (maksudnya saya sangat mengagumi karya-karyanya). Saya mulai mengirimkan karya-karya saya (tentu saja ke Annida). Sekali, dua kali, beberapa kali. Bulan Juli 2001, cerpen saya dimuat oleh Annida, sebuah epik tentang Palestina yang berjudul, Kami, Jundi-Jundi Kecil Palestina. Waktu pertama kali mengetahuinya, tubuh saya merinding, jantung berdebar, keringat dingin keluar. Saya tak percaya. Saya seperti bermimpi. Akhirnya saya sadar, saya bisa menulis. Sejak itu saya bertekad untuk jadi PNS (Penulis Nan Sukses), Saya ingin seperti Helvy Tiana Rosa (penulis favorit saya, yang juga merupakan salah seorang pendiri FLP). Saya sudah tetapkan, saya harus jadi PNS. Selagi masih sanggup menggoreskan tinta di kertas, selagi masih sanggup menekan tuts-tuts di keyboard komputer, maka selama itu pula saya bertekad akan akan terus menulis.
Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita saya di atas? Yang pertama adalah bahwa menulis tak harus memiliki bakat. Ya…Saya menulis bukan karena saya merasa berbakat, Saya menulis hanya karena ingin menciptakan karya seperti apa yang diciptakan para penulis favorit saya. Cuma sekedar menggoreskan pena. Lalu bisakah lahir sebuah tulisan dari tangan tak berbakat? BISA! Tentu saja bisa. Apakah yang dilakukan seseorang jika ingin bisa berenang? Tentu saja harus nyebur ke air. Sebab tak pernah ada orang yang bilang, eh si anu punya bakat berenang. Tidak. Sebelum dia nyebur ke air, tak akan pernah ketahuan dia bisa berenang atau tidak. Begitu juga dengan menulis. Seperti kata orang-orang terkenal, Tak ada satu sekolahpun yang melahirkan penulis. Jadi untuk menjadi seorang penulis hanya ada satu syarat : harus menulis.
Pelajaran kedua adalah : kalau karya kita ingin di muat di suatu media, maka kita harus membaca seperti apa tulisan-tulisan yang pernah di muat di media tersebut. Ingin di muat di majalah, maka kita harus baca majalah itu, sehingga tahu format tulisan (cerpen, puisi, dll) di majalah itu seperti apa. Ingin di muat di koran-koran, maka kita harus baca cerpen-cerpen koran itu seperti apa. Seorang pencuri selalu mencuri di rumah yang ia sudah tahu keadaan di dalam rumah tersebut.
Pelajaran ketiga: jangan menyerah. Kebanyakan dari penulis (pemula) hal inilah yang jarang dijumpai. Baru mengirim satu naskah, setelah ditunggu dan ternyata tidak dimuat, langsung putus asa, kecewa dan tak mau menulis lagi. Tulis dan tulis yang lain, kirim dan kirim terus, ditolak itu urusan ke sekian belas, yang penting kirim dulu. Seperti kata Joni Ariadinata (seorang Penulis terkenal Indonesia dan pengasuh rubrik Galeri majalah Annida) “Berapa ratus cerpen saya yang ditolak? Barangkali seratus, dua ratus atau bahkan mungkin lima ratus. Satu hal yang membuat saya tabah adalah kesadaran spiritual saya, bahwa saya diwajibkan untuk terus berusaha”. Bisakah kita punya tekad seperti itu? SAYA DIWAJIBKAN BERUSAHA.
Terakhir, untuk bisa membuat tulisan yang bertanggung jawab, tentu saja kita harus banyak membaca, banyak membaca akan membuat kita semakin mempunyai banyak ide. Tidak hanya membaca buku, tapi juga membaca alam, membaca keadaaan, tidak hanya membaca yang tersurat tapi juga yang tersirat. Terakhir, menulislah semata karena Lillahi ta’ala, bukan karena mengharapkan honor.
***
Gusrianto adalah penulis yang karyanya bertebaran di berbagai media, seperti harian Analisa (Medan), Harian Singgalang dan Padang Ekspres (Sumbar), Majalah Annida, majalah STORY, dan tentu saja di www.annida-online.com. Pada bulan Oktober 2003, cerpennya yang berjudul Menggapai Hidayah berhasil menyabet juara 1 Lomba Menulis Cerpen yang diadakan Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sumatera Utara bekerjasama dengan Toko Buku Sembilan Wali Medan. Ia juga berhasil menjadi juara pertama dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) Annida ke-X. Selain itu, ia juga sudah menerbitkan beberapa buku seperti: Kumpulan cerpen berjudul Ngebet Nikah (DAR Mizan, 2004), Cerita Tiga Pulau. Sedangkan tiga buah tulisannya yang lain terangkum dalam buku antologi FLP, Uda Ganteng No. 13 (GIP, 2006), Meremas Sampah Menjadi Emas (Indiva Media Kreasi, 2008), 24 Jam Sebelum Menikah (LPPH, 2009), dan Inspirasi Menulis terbitan Leutika Prio (Oktober, 2011) yang memuat tulisan ini.
9 Komentar :
Nid... makasih ya udah posting naskah ini. Itu profilnya gak update, udah beberapa bulan lalu hehehehhe... tapi it's ok. Sobat nida yang mau menjalin ukhuwah bisa add fb-nya Uda Agus Githu Lho atau email uda_agus27@yahoo.com
terima kasih uda gus, artikelnyo rancak bana. menginspirasi saya supaya tidak putus asa menulis. menulis... menulis.. ayo semangat.
Maaf, Gusrianto itu apakah sama dengan pemilik akun facebook Uda Agus gitu lho?
hmmm. Membangkitkan sMangat menulisku lagi!
gara2 msh terombang-ambing mnentukan impian, jd malez bwt nulis lg!
thankz
Isi Komentar :




