Seperti Langit
06 Okt 2011 | Rubrik: Epik - Dibaca: 2991 kaliPenulis: Adi Zamzam
“Qataltuhu… qataltuhu… Aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri ya Allaaah…!” teriakku kepada langit gurun.
Tak ada gema, tak ada sahutan. Hanya angin gurun yang berdesau, seolah ingin menghibur hatiku yang poranda oleh badai. Amarah dan sedih baur tak karuan. Ingin menangis, namun ada amarah yang menghadangnya. Ingin marah, namun kesedihan itu telah meluluhkan semua benteng pertahanan. Ingin kulipat jubah gelap yang membungkus malam agar tersibak terang. Dan rasa yang membadai dalam dadaku ini lerap oleh cahaya.
“Qataltuhu… Aku telah membunuhnya dengan tanganku sendiri ya Rabb…!”
* * *
Tiga hari sebelum peristiwa berdarah itu, mulanya hari terasa tenang buatku. Semuanya terasa cukup. Meski aku bukan siapa-siapa di Baghdad.
Aku adalah seorang pemuda dengan umur yang dianggap terlalu tua untuk menikah. Yah, masa-masa emasku telah lewat. Namun demikian, aku cukup bahagia dengan keadaanku. Seorang penjaga toko kelontong warisan orang tua. Meski penghasilan tak menentu, tak pernah kuturuti rasa iri dalam hati untuk membenci siapapun. Aku hanya ingin hidup damai—menebus kehidupan masa kecilku yang suram. Kalian tentu tahu sejarah perjalanan negeriku yang dipenuhi dengan peperangan.
Namun ternyata tidak semua orang bisa menerima kedamaianku.
Benih badai berawal pagi itu, ketika aku tengah sibuk menghitung barang-barang yang aku butuhkan untuk mengisi toko. Sebuah ketukan pintu. Empat laki-laki telah berdiri siaga di muka pintu. Tanpa salam, apalagi senyum, mereka langsung menodongkan senapan ke mukaku.
“Ada apa ini? Ada apa ini?...”
Kepanikanku tak dipedulikan. Pertanyaanku langsung dibungkam. Bahkan cahaya di kedua mataku pun mereka padamkan.
Tubuhku digelandang paksa ke sebuah mobil. Tak ada suara. Tak ada pertanyaan mengapa. Tak ada pengadilan. Tak tahu apa sebab-musababnya.
Sesampainya di sebuah tempat yang tak kuketahui di mana persisnya, tiba-tiba mereka bicara dengan pukulan bertubi-tubi. Aku sama sekali tak diperbolehkan menjawab. Aku hanya diperbolehkan menerima semua itu dengan mulut dan mata terkunci gelap.
Aku tak bisa menghitung berapa persisnya jumlah pukulan, tendangan, tempelengan, juga ludahan yang mereka berikan pada jasadku, karena jiwaku tengah sibuk mencari-cari kesalahan apa yang sebenarnya telah aku lakukan hingga aku harus dibeginikan. Namun hingga tubuhku lungkrah kehilangan segala daya, jiwaku masih belum menemukan apa itu yang patut diganjar hukuman sesakit ini.
Tanpa pamit, mereka pergi meninggalkanku yang setengah sadar. Gelombang tanya menderu-deru di telinga. Di akhir separuh kesadaranku, suara adzan menerobos lubang telinga. Aku tahu itu masjid.
* * *
Lebam di sekujurku belum sepenuhnya hilang. Kesalahanku pun belum jenak kutemukan. Namun sehari setelah penculikan itu, mereka kembali menemukanku di toko. Adab mereka tetap. Tanpa salam tanpa tanya mereka langsung membungkam mulut dan memadamkan cahaya mata. Mereka kembali menghakimiku!
“Kami tahu kau seorang gay!” tamparan itu berteriak lantang, terdengar bagai petir di telingaku. Seketika itu pula, jiwaku pun akhirnya menemukan titik terang.
Peristiwa itu terjadi dua minggu sebelum hari ini. Kami bertemu di sebuah warnet tak jauh dari tokoku. Saat itu aku sedang memenuhi permintaan Khalili—pemilik warnet—untuk memperbaiki jaringan lampu yang rusak. Aku harus mematikan saklar listrik bagian tengah rumah. Tanpa sengaja aku melihat apa yang dia lihat di layar komputer. Aku hampir saja mengucap maaf, tapi kalimat itu urung keluar setelah sadar bahwa dia nampak ketakutan. Seorang lelaki melihat aurat lelaki dalam sekat-sekat ruang warnet. Tentu pikiranmu langsung menebak siapa dia itu. Tentu saja, dia buru-buru mengganti channel website demi mengelabui mataku. Meski tahu itu sia-sia karena aku sudah terlanjur memergokinya.
Kemudian aku tahu bahwa nama pemuda itu Qaisar, karena sehari dia mendatangiku di toko dengan membawa wajah susah. Dia bilang, “Aku sedang belajar untuk mencintai perempuan. Sungguh, aku sedang belajar mencintai perempuan. Tapi semua itu butuh proses, semua butuh waktu. Kumohon, mengertilah aku. Demi Allah…,” ia memohon-mohon seraya membawa-bawa nama Tuhan demi meyakinkanku.
Aku paham ketakutannya itu.
Beberapa saat setelah pasukan Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat mengobrak-abrik negeri ini dan menumbangkan Saddam Hussein, kontrol para syeikh memang lebih longgar. Namun setelah keadaan mulai pulih, dan berpuncak ketika pasukan Sekutu perlahan ditarik pulang, perburuan terhadap kaum homoseksual merajalela di mana-mana. Memelihara rambut kelewat panjang atau mengenakan baju dan jins terlalu ketat bisa menjadi alasan seseorang dikenai tuduhan sebagai gay. Apalagi Qaisar sudah jelas-jelas kutangkap basah.
Tapi kemudian ia menceritakan seluruh kisah hidupnya kepadaku…
Ia dibesarkan tanpa ayah oleh ibunya di kota Al Tanak—distrik yang sudah terkenal sebagai tempat kotor di Mosul. Ia bahkan tak mengenal siapa ayahnya karena ibunya selalu marah jika ditanya perihal ayah Qaisar. Ibu Qaisar memiliki banyak lelaki, sehingga mungkin dia kesulitan menentukan lelaki mana yang ayahya Qaisar. Dalam lingkungan yang seperti itulah perempuan jadi terlihat tak menarik lagi di mata Qaisar. Diam-diam Qaisar mencintai sosok-sosok perkasa para lelaki. Dan celakanya, perasaan itu makin hari makin menggebu-gebu.
Bertahun-tahun ia merahasiakan sisi gelapnya itu. Namun sebenarnya ada yang terdera dalam dada Qaisar. Ia ingin sembuh. Tapi ia merasa takkan bisa sembuh jika tak menjauh dari ibunya. Tersebab itulah ia memutuskan hijrah sendirian ke Baghdad.
Qaisar terlihat bersungguh-sungguh agar aku mempercayai ceritanya itu. Bahwa kejadian di warnet kemarin hanyalah kecelakaan kecil semata. Ia memang tak bisa menghapusnya begitu saja. Keinginan buruk itu tiba-tiba muncul membakar darah dan mendorongnya untuk melakukan hal-hal buruk itu lagi.
Aku sedikit jijik ketika melihat Qaisar. Jujur aku khawatir jika ini adalah taktiknya semata untuk meraih simpatiku. Tapi entahlah. Jika melihat perawakan pemuda itu, aku seperti melihat bayanganku sendiri. Pemuda berpenampilan lembut dan berwajah ayu. Aku pernah mengalami masa-masa suram itu, ketika banyak mulut sering mencandaiku karena diriku yang yang tak juga beristri. Aku pun sedang berjuang memperbaiki nasib, mencari penghasilan tetap yang kuanggap cukup untuk menafkahi keluargaku kelak.
Kukira Qaisar perlu diberi kesempatan. Aku pun ingin diberi waktu untuk merubah nasibku. Seharusnya semua orang mengerti, tak mudah untuk mendapatkan kehidupan layak di negeri ini.
Tapi entahlah. Tanpa kusangka kejadian ini datang tiba-tiba.
4 Komentar :
Isi Komentar :




