Untitled Document

Kategori : Komentar Cerpen Rijek

Dibaca : 1697 Kali

Cerita Yang Menyisakan Tanya

Sering kali seorang penulis tidak menyadari bahwa cerita fiksi yang ditulisnya masih belum sempurna, dalam artian... masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, namun cerpen yang ditulisnya sudah sampai pada titik penghabisan. Salah satunya adalah cerpen yang ditulis dengan cukup baik oleh Sobat Nida yang produktif mengirim naskah ini.

 

Judul : Cinta Tanpa Akhir

Penulis : Rya Mikayla

 

Mengapa cerpen masih menyisakan tanya?

Coba simak dulu sinopsisnya berikut ini:

 

Kisah pria tua bernama Adam yang sudah renta dan kembali bertingkah seperti bocah. Anaknya bernama Rita, mengurusnya dengan kasar dan tak sabar. Akhirnya Rita berniat “membuang” sang ayah di panti jompo, namun setelah sampai panti, suaminya memberi ide untuk mencari pengasuh saja di rumah untuk mengurus ayahnya.

Setelah banyak pengasuh tidak betah dengan kekasaran dan kerewelan sang ayah, akhirnya Rita menemukan pengasuh yang sabar, bernama Aisyah.

Uniknya, seluruh adegan dalam cerpen ini diceritakan oleh seorang tokoh “aku” yang sudah meninggal, tokoh “aku” ini adalah ibu dari Aisyah, dan tokoh “aku” ini juga merupakan istri sirri dari ayah Rita sebelum ia menikah di kota dengan ibu Rita. Artinya, Aisyah adalah anak kandung Adam juga, sama seperti Rita.

 

Lalu, pertanyaan apa yang timbul dari cerita tersebut?

 

Jika point of view cerpen ini adalah orang ketiga, yaitu meninjau segala yang terjadi melalui sudut pandang istri sirri Adam dulu sebelum Adam pergi ke kota, bagaimana mungkin bisa ada kalimat seperti ini dalam cerita:

 

Tahukah kamu Adamku bahwa aku disini ikut menangis. Tak kusangka Rita begitu tega melakukan itu kepadamu sayangku. Tak ingatkah ia ketika ia masih kecil dulu? Siapa yang tiap hari menggendongnya ketika ia belum bisa berjalan? Siapa yang tiap hari menyuapinya jika Laura sibuk memasak di dapur? Siapa yang memenuhi semua kebutuhannya sejak ia kecil sampai akhirnya ia menikah dulu? Siapa lagi jika bukan kamu Adamku? ( Kok bisa tahu bahwa Adam melakukan semua itu?)

Kuperhatikan tubuh kisutmu saat Rita memandikanmu dengan kasar. Hanya kulit tipis yang membalut tulang rentamu. Tulang itu telah rapuh termakan waktu. Tulang itulah yang telah berpuluh-puluh tahun bekerja keras menghidupi istrimu Laura juga Rita anak yang kau anggap semata wayang itu. Kini tulang berkulit kisut itu disentuh Rita dengan sangat kasarnya, tidak seperti saat kamu memandikannya saat ia masih bayi dulu. Engkau begitu lembut membelainya dengan senyum yang senantiasa tersaji simpul hanya untuk anakmu itu. (Kok bisa tahu sedetail ini? Apakah tokoh “aku” pernah hidup bersama dengan Adam setelah suami sirrinya itu menikah dengan Laura di kota?)

 

Mengapa Rita tidak terpikir mencarikan pengasuh untuk ayahnya sebelum ia memutuskan “membuang” ayahnya di panti jompo?

Bagaimana ceritanya kok bisa sih Aisyah—anak tokoh “aku”dengan Adam—bekerja di rumah Rita untuk mengurusi ayah kandungnya? Kebetulan yang dibuat-buat?

 

 

Bukan tidak bagus, hanya saja... cerpen yang menyisakan tanya seperti ini jadi terasa mengganggu logika cerita dan sulit untuk terasa nyata.

 

Berikut ini tips agar cerita yang kita tulis tidak menyisakan tanya dibenak pembaca:

 

Dari awal, buatlah kerangka tulisan dan penokohannya! Sehingga kita tidak akan bingung mengenali tokoh, karakter, serta dialog/ monolog dalam cerita!

Berempati dengan tokoh dalam cerita kita! Penting bagi penulis untuk merasakan apa yang dialami oleh tokoh dalam ceritanya, agar dialog/ monolog yang keluar memperlihatkan suara hati sang tokoh, tidak terasa dibuat-buat.

Membaca ulang cerpen yang sudah selesai ditulis beberapa kali!

 

Semoga pembahasan singkat ini bisa menjadi masukkan untuk Sobat Nida yang gemar berkarya! Tetap semangaat!

 

 

 

 

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document