Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Jangan Hapus Mimpiku Part 3

27 Sept 2011 | Rubrik: Cerpen Interaktif - Dibaca: 2564 kali

Penulis: Moch. Anshor


Pelabuhan Merak...
Perjalananku masih panjang. Namun, sebelum sampai di tujuan akhir bis Damri yang kunaiki, Pulo Gadung, kuputuskan untuk turun saja di Merak. Pikiranku mulai goyah semenjak bertemu dengan Ryan. Setelah mengedarkan pandang, kudapati halte lusuh di sudut pelabuhan. Aku akan tetap melanjutkan perjalanan setelah menghubungi ibu.

Kutekan nomor telepon rumah, berharap Ibu mengangkat di ujung sana... Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan hubungi beberapa saat lagi. Berulang kali kucoba, hasilnya sama saja. Tidak dapat dihubungi.

Keringat mulai membanjiri wajahku. Rasa khawatir telah mengalahkan rasa perih di hati akan tamparan ibu kala dulu. Meskipun tubuhku amat letih, perjalanan panjang yang mengantarkanku sampai di pulau Jawa ini cukup menguras waktu, tenaga, dan juga tabunganku, namun logikaku masih bisa diarahkan dengan baik. Tanpa berlama-lama, kutekan nomor telepon butik ibu. Tut tut tut tut tuuutt. Ya Allah, ada apa ini?

Rasa bersalah mulai menjalari sekujur tubuhku. Bayangan ibu berkelebat di hadapanku. Dan lagi-lagi, sosok Ryan seperti hadir di sampingku dengan kata-kata terakhirnya yang cukup dalam dan mengena, “Kamu pikir tanpa restu Ibu, kamu bisa dengan mudah menggapai mimpi kamu?”. Buliran hangat akan air mata menghiasi raut wajahku yang lesu. Kucoba mengingat-ingat nomor siapa yang pantas aku hubungi.

“Ya Allah, kenapa aku bisa lupa... Nomor handpone ibu!” dumalku.

0825xxxx... Argh, hanya alunan nada sambung pribadi “Insha Allah”-nya Maher Zain feat Fadly “Padi” yang aku dengar. Begitu marahkah Ibu denganku?

“Hallo, assalamu'alaikum,” akhirnya panggilan yang kelima terangkat juga. Tapi itu bukan suara Ibu.
“Hallo, ini siapa? Mana ibu?” Cecarku, sampai-sampai aku lupa menjawab salamnya, "Assalamu'alaikum. Aku Imel. Mana Ibu dan ini siapa?” Aku tinggikan suaraku yang disertai isak.
“Masya Allah, Imel. Ini pamanmu, Si Bujang,” dapat kurasakan di sana paman cukup terkejut dengan teleponku, “Ibumu di rumah sakit,” tubuhku lemas seketika. Hampir saja handpone di genggamanku lepas.
“Imel, kau di mana? Segera pulanglah, Nak. Ibumu selalu mengigau memanggil-manggil namamu. Penyakit jantung Ibumu kambuh.”
Air mataku semakin tak dapat dibendung. Tisu di genggamanku basah kuyup sudah. Betapa egoisnya aku. Anak macam apa aku yang berani menentang Ibunya hingga terkapar di rumah sakit! Maafkan aku, Bu. Aku egois. Aku salah.

Aku usap air mata dan bergegas ke toilet untuk merapikan penampilanku. Aku sempatkan mengisi perutku yang riuh akan lapar di warteg. Sedari awal, uang yang akan aku gunakan untuk mendaftar kuliah, langsung aku belikan untuk tiket pulang.

“Tiket ini jauh lebih penting daripada hanya untuk sekedar menjadi sutradara,” gumamku.

***

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

10 Komentar :
2011-09-28 10:36:11 WIB

Gwen

mhm... endingnya ibunya meninggal to? sy suka kalimat "menjadi pintar dan benar".. pesannya bole la... tapi kurang setuju aja kalo ibunya meninggal.. but, penulis kan raja dari tulisannya. perintah eksekusi ato gaknya di tangan penulis.
lanjut berkarya!!!

2011-09-29 10:04:52 WIB

meylii marlin

seru sih........... tapi, saya rasa ceritanya datar datar.........

2011-10-01 11:24:01 WIB

aini

yaaach...endingx koq gtu ce!!!
sdikit kecewa,,,

2011-10-02 00:36:40 WIB

gandhy camoLeon

huemb,...
amazing,...
serius, klasik n haru...
god jobs i like it.

2011-10-03 22:33:13 WIB

muhammad anshor

[setelah menghindar dari publik sobat nida hhe]
terima kasih teman teman atas komentarnya yang membangun sekali bai saya pribadi khususnya. saya amat sangat baru menyelam didunia menulis. mohon doanya yaa semua :)

2011-10-12 09:09:16 WIB

netty kurniawati

maaf nih..tapi..dalam cerpen ini banyak kontradiktifnya..ex..kan imelnya baru berangkat, kok ada kalimat " ibu sempat koma beberapa hari" trus..ada ya.di medan kampus yang jurusan sutradara??hehe..nanya ja nih..jgn tersungging..eh tersinggung yah..

2011-10-13 21:50:16 WIB

anshorhope

imelnya kan naik kapal ke jakartanya. wah netty kurniawati dari medan yaa ?? maaf kalau saya salah. saya bukan dari medan :) sekali lagi maaf, jadi malu

2012-01-13 08:58:01 WIB

ziEch

endingx dikIt mngecewkan... huffTTt....
datarrrrRRrrrr,,,,,

2012-01-18 16:22:19 WIB

Dessy Norita Pratiwi

Assalamualaikum

ini tidak ada kelanjutannya lagi kah, sobat annida?

2012-02-17 07:48:33 WIB

chiles

lumayan cee drpd lu manyun....hehe
so, lmyan ce crita.a...
keef fight


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)