Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

BURONAN

13 Sept 2011 | Rubrik: Epik - Dibaca: 2173 kaliPenulis: Muhammad Saleh

 

            BUMI SENYAP. Angkasa berselubung malam tak berbintang. Bulan tengah enggan berbagi sinar, hanya sesekali mengintip malu dari balik awan. Kesiur angin menerpa dedaunan pohon ulin di tepian hutan Lembang. Longlongan anjing hutan di kejauhan menambah suasana terasa mencekam.

            Namun, pemilik sepasang mata yang bersembunyi di balik semak tak peduli dengan suasana itu. Seolah ia sudah terbiasa, sehingga tak terbersitkan rasa takut di hatinya. Kedua bola matanya tajam mengawasi sebuah gubuk yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Ia menunggu sesuatu.

            Sudah satu jam lebih ia mengendap di balik semak. Dibiarkan saja nyamuk-nyamuk hutan menggigit dan menghisap darah dari tubuhnya. Hanya sesekali saja ia mengusap bagian yang di gigit bila terasa gatal. Itu pun tanpa suara, sangat pelan. Sepertinya apa yang ia tunggu lebih berharga dari dirinya.

            Lelaki bermata elang itu sangat yakin, bahwa malam ini ia akan mendapatkan sesuatu yang selama ini ia cari. Sudah tiga hari belakangan ini ia mengumpulkan informasi, selentingan kabar dari warga desa yang sebenarnya merupakan sebuah rahasia. Bahwa, orang itu sedang bersembunyi di sebuah gubuk di tepian hutan Lembang. Dan malam ini ia ingin membuktikan kabar itu.

            Malam semakin larut. Longlongan anjing terasa begitu dekat di telinganya. Bersahut-sahutan. Nyamuk-nyamuk hutan semakin ganas menggigit tubuhnya. Dingin angin malam pun semakin menusuk pori-pori.

Hampir saja lelaki bermata elang itu putus asa dalam penantian, dan memutuskan untuk pulang, kalau saja matanya tak menangkap dua sosok bayangan mengendap-endap keluar dari pintu gubuk.

            Lelaki itu tersenyum, apa yang ia tunggu telah muncul. Walaupun ia belum begitu jelas melihat siapa dua sosok barusan. Lelaki itu semakin menajamkan manik matanya. Beruntung bulan sudah menampak tubuhnya di petala langit. Di bawah cahaya bulan yang temaram, bola matanya kini dapat mengenali salah satu sosok itu. Panglima Ringgit. Ia tersenyum puas.

            Panglima Ringgit dan satu sosok yang tak dikenalinya mulai berjalan meninggalkan gubuk tua itu. Mereka terlihat sangat waspada. Menajamkan penglihatan dan pendengaran. Takut ada yang mengikuti mereka.

            Lelaki bermata elang bergeming dari balik semak sampai kedua orang yang diawasinya menghilang di balik gelap. Ia tak ingin ketahuan. Ia juga tak bermaksud ingin mengikuti mereka. Baginya, membuktikan bahwa Panglima Ringgit benar-benar tinggal di gubuk itu sudah merupakan sesuatu yang berharga.

            Lelaki di balik semak itu itu kini mulai membayangkan, ia akan mendapatkan pujian dari petinggi-petinggi tentara Belanda, jika informasi ini ia sampaikan pada mereka. Karena ia tahu Panglima Ringgit merupakan borunan tentara belanda yang telah lama di cari. Hidup atau mati mereka harus mendapatkannya.

            Pun, ia juga membayangkan akan mendapatkan hadiah yang sangat banyak dari tentara Belanda. Sebab ia pernah mendengar pengumuman yang di serukan oleh salah seorang prajurit Belanda

            “Barang siapa yang dapat memberikan informasi tentang keberadaan Panglima Ringgit kepada pihak Belanda, Maka kami akan memberikan hadiah berupa seratus keping  emas dan 20.000 gulden uang.”

            Itulah yang membuatnya bersemangat mengumpulkan informasi tentang keberadaan Panglima Ringgit. Dan kini ia telah mendapatkan informasi itu.

***

            Malam merangkak pelan, suasana hening menyelimuti sebuah rumah di tengah perkampungan. Sesekali suara jangkrik dan cericit kelalawar mengusir senyap, menemani angin malam yang bertiup sendiri. Api kecil yang berasal dari lampu teplok yang menempel di tiang rumah, meliuk-liuk. Menari seirama angin. Tiga orang lelaki duduk terpekur, sepertinya sedang berpikir mencari jalan keluar atas masalah mereka.

            “Bagaimana keadaan di luar Damar?” tanya Panglima Ringgit memecah keheningan. Damar menegakkan kepalanya, lalu matanya melirik Ki Balu yang berada di samping Panglima Ringgit. Ki Balu hanya diam, hanya ekor matanya saja yang membalas tatapan Damar–pemilik rumah.

            “Keadaan di luar sepertinya masih sangat berbahaya Panglima. Pasukan Belanda semakin banyak saja yang berpatroli di sekeliling desa. Sehingga sangat sulit bagi kita untuk melakukan perjalanan di siang hari tanpa ketahuan.”

            Panglima Ringgit mengangguk-angguk mendengar penjelasan panjang Damar. Suasana kembali hening. Kepala mereka di penuhi pikiran masing-masing. Bagaimana caranya bisa keluar dari desa ini tanpa ketahuan pasukan Belanda? Agar bisa bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gua Selarong.

            “Bagaimana kalau melakukan perjalan di malam hari?” Ki Balu tiba-tiba memberikan sarannya. Panglima Ringgit dan Damar saling pandang, kemudian kembali menatap ke arah Ki Balu.

            “Apa tidak terlalu sulit dan berbahaya melakukan perjalan di malam hari, sedangkan kita pasti akan melewati hutan, pasti banyak binatang buas berkeliaran?” Panglima Ringgit ragu akan usulan Ki Balu. Ia bukannya takut mati. Namun, sampai dengan selamat ke tempat tujuan merupakan hal utama yang harus di pikirkan.

            “Maaf Panglima,” potong Damar, “Sepertinya usulan Ki Balu ada benarnya. Kemungkinan ketahuan oleh pasukan Belanda sangat kecil. Hanya itu cara satu-satunya untuk keluar dari desa ini. Kalau Panglima terlalu lama berada di desa ini, saya takut cepat atau lambat pasukan Belanda akan mengetahui keberadaan Panglima.” Kekwatiran tampak jelas terlukis di wajah Damar. Pangeran Ringgit kembali mengangguk-angguk.

            Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya diambil kesepakatan mereka akan melakukan perjalanan pada malam ahad, artinya tiga hari lagi. Sebab, pada malam ahad biasanya selalu di adakan pesta di benteng Belanda. Sehingga tak banyak prajurit yang berpatroli di malam hari. Memanfaatkan sebuah kelengahan merupakan sebuah keuntungan.

            Juga diputuskan, Panglima Ringgit akan bermalam di rumah Damar. Sebab, Panglima Ringgit sudah tinggal di rumah Ki Balu selama lima hari. Mereka takut keberadaannya telah di ketahui pihak Belanda. Sebagai seorang borunan, Panglima Ringggit harus berpindah-pindah tempat, untuk mengecohkan pencarian.

***

            “Apa berita yang kamu orang sampaikan bisa dipercaya?” Jenderal de Kock ragu dengan kabar yang di bawa lelaki tinggi kurus bermata tajam yang ada di hadapannya.

            “Tuan jangan meragukan saya,” Lelaki bermata elang sepertinya tak senang dengan keraguan yang di tampakkan Jenderal de Kock, “ Nyawa saya taruhannya, jika berita yang saya bawa adalah bohong.” Lanjutnya mantap.

            Jenderal de Kock tersenyum. Kali ini ia dapat menangkap keseriusan dari lelaki itu. Sebuah ambisi yang begitu berkobar dari bola matanya. Ambisi sebuah keserakahan.

            “Baiklah, sekarang saya percaya sama kamu orang. Besok pagi kita akan melakukan penyergapan di gubuk itu. Kamu orang tunjukkan di mana tempatnya.”

            “Baik, Tuan.”

            Jenderal de Kock memanggil bawahannya dan memerintahkan untuk menyiapkan pasukan.  Semua akan berangkat pukul lima pagi. Sebelum matahari muncul seluruh pasukan harus sudah sampai di tepian hutan Lembang.

***

            Matahari belum menampakkan wujudnya di ufuk timur. Dedaunan masih tampak basah oleh embun. Airnya menyatu, kemudian menetes jatuh ke bumi. Di tepian hutan Lembang, pasukan belanda dengan persenjataan lengkap mengepung sebuah gubuk tua. Gubuk yang di yakini, di dalamnya ada Panglima Ringgit.

            “Panglima Ringgit, keluarlah...! gubuk ini telah kami kepung. Jadi menyerahlah...!” teriak salah seorang prajurit. Jenderal de Kock masih duduk di atas pelana kudanya. Matanya awas menatap ke arah pintu. Sebuah ketegangan mulai ia rasakan.

            Tak ada sahutan. Gubuk itu seperti tak berpenghuni. Lelaki bermata elang yang ada di dekat Jenderal de Kock mulai merasakan dadanya berdebar tak karuan. Harap-harap cemas.

            Sekali lagi sebuah teriakan peringatan di serukan. Tetap tak ada sahutan. Jenderal de Kock menjadi semakin kesal.

            “Dobrak saja pintunya!” perintahnya geram.

            Beberapa prajurit saling pandang. Kemudian dengan sigap dan cekatan melaksanakan perintah sang Jenderal. Setelah pintu terbuka dengan paksa, prajurit itu menemukan tiga orang sedang berpelukan dalam gemetar di sudut ruangan. Mereka ketakutan.

            “Jenderal, kami hanya menemukan mereka. Kami sudah menggeledah seluruh tempat, tak ada tanda-tanda Panglima Ringgit ada di sini.” salah orang prajurit menghadapkan ketiganya ke hadapan. Dengan kesal Jenderal de Kock turun dari kudanya dan langsung mencengkram kerah baju Ki Balu. Anak dan istrinya semakin bergetar dalam tangisan.

            “Katakan ! Di mana Panglima Ringgit bersembunyi?” ucap Jenderal de Kock garang. Rambut pirangnya bergerak-gerak seirama kemarahan sang Jenderal.

            “Sa-saya ti-tidak tahu, Tuan.” Ki Balu tak mampu menyembunyikan getaran lidahnya. Ia gugup dan takut. Seluruh persendiannya terasa lemas. Belum pernah ia berhadapan dengan pemimpin Belanda yang satu ini. Kasar dan kejam.

            “Jangan bohong! Saya melihat kamu dan Panglima Ringgit berjalan bersama tadi malam...” bentak lelaki bermata elang. Ia tak ingin Jenderal de Kock menyangkanya memberikan berita bohong. Nyawanya taruhannya.

            “Sa-saya benar-benar tidak tahu, Tuan. Saya cuma bertiga di gubuk ini. Tak ada lagi orang lain.”

            Jenderal de Kock melepaskan cengkramannya, dan mendorong tubuh Ki Balu hingga terjerembab menimpa anak dan isterinya. Ketiganya kembali berpelukan sambil menangis dalam ketakutan yang sangat.

            Tubuh lelaki bermata elang mulai bergetar melihat tatapan Jenderal de Kock yang merah. Menandakan ia benar-benar marah dan kesal karena merasa dikibuli untuk kesekian kalinya.

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

4 Komentar :
2011-09-14 13:33:16 WIB

syiefha

walaupun critax kurang seru..,
tp akhir critax bagus...,bisa memberi pelajaran...,akan sbuah kesetiaan...,*)kbalikan dr pengkhianatan...,ng...,kurang menarik bg q..,soalx zaman sekarang kan bkan zaman penjajahan,,,.*)he,,he,,,g nyambung y,,,.
tp q akui...,,penulisx kreatif...,
trus berkarya..,

2011-10-03 14:55:55 WIB

Een

bagus, tapi itu fiksi bukan ya?

2012-03-30 04:38:19 WIB

Lily

Monoton ! Sll g happy ending

2012-03-31 01:50:13 WIB

Irawan

ceritanya mengambil setting masa lampau, sangat mengasyikkan dan pengen baca selanjutnya. Saya pengen tahu akhir ceritanya kayak apa..
terus menulis ya sista..


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)