Juara
06 Sept 2011 | Rubrik: Cerpen Ngocol - Dibaca: 6738 kali
“Syaithon… Syaithon…,” Mila meledekku.
“Enak aja Syaiton, Syaiton. Toni, bukan Syaiton, tauk! Mentang-mentang namaku diambil dari Ta'awudz, aku dipanggil Syaiton? Terlalu kamu, Mil!” ucapku kesal. Yang diprotes hanya nyengir kuda nil di tempat duduknya.
Makin lama seluruh bangku di kelasku makin terisi. Kebetulan si burung camar “Lia” kemarin ke rumahku. Dia begitu takjub melihat prestasi adik kembarku yang masih duduk di kelas 2 SMP. Diapun menceritakan ke semua teman di kelas.
Mendengar itu, kupingku semakin lebar dan seperti yang sudah-sudah, di akhir ceritanya kunyeletuk, “Siapa dulu kakaknya?! Toni!” ucapku bangga.
“Eh, Ton, kamu tuh ya jangan ngebanggain adikmu terus, sebisa mungkin kau harus berprestasi juga kayak mereka, donk! Kalau aku sih malu cuma bisa ngebanggain prestasi adikku, sementara aku STD banget alias standar-standar ajah,” ucap Anton sinis.
“Iya, betul! Taunya cuma bilang, “Siapa dulu kakaknya?! Toni!” kalau aku nggak bangga banget dengan hasil orang meski itu adikku sendiri, sedangkan aku tidak ada apa-apanya,” tambah Mila sambil mendowerkan bibirnya yang memang sudah dower dari sononya.
“Ya, kusepakat dengan kalian berdua!” si Burung Camar juga mendukung dua temanku.
“Aku juga!” tambah Vivi.
Hampir satu kelas memandangku dengan pandangan sinis, hanya beberapa orang saja yang cuek dengan keributan ini. Mukaku mulai berwarna pink saking menahan malu. Sejak saat itu, kuberjanji aku harus berprestasi meski di bidang non akademik. Aku yakin Allah memberikan sesuatu yang lebih pada diriku yang tidak dimiliki orang lain. Bahkan, kedua adik kembarku, meski aku dan mereka berasal dari satu bahan dan pabrik yang sama.
Aku masih ingat kata Bu Puji. Guru bahasa Indonesiaku waktu SMP dulu. Menurut beliau, kupunya bakat dalam tulis menulis. Begitu juga kata Bu Irma, guru bahasa Indonesia yang sekarang. Setiap ada tugas membuat puisi, cerpen, essay, dan karya ilmiah, punyaku selalu mendapat nilai plus ketimbang yang lainnya. Kir-fikir, kenapa tidak kukembangkan bakat itu ya? Aku mulai sadar akan kelebihanku. Sejak saat itu, kumulai berlatih menulis dan berkonsultasi kepada penulis-penulis senior. Tak tanggung-tanggung, kuputar otak agar tulisanku diterima di media dan mulai gencar mencari informasi lomba menulis.
***
Informasi lomba menulis telah kudapatkan. Yang pertama kali akan kuikuti ialah lomba menulis cerpen di sekolahku sendiri yang diadakan oleh OSIS. Ku bertekad harus juara dalam lomba ini. Apalagi nama-nama pemenang lomba akan ditempel di mading sekolah. Kalau aku yang jadi juaranya, pasti teman-teman sekelas akan melihatnya. Dan yang pasti, tidak aka ada lagi yang mencibir bila aku bercerita prestasi adikku dan kuakhiri dengan kata “Siapa dulu kakaknya?! Toni!”. Apalagi kalau aku bisa juara tingkat kabupaten, propinsi dan nasional. Wuih, pasti mereka bakalan iri padaku!
Naskah cerpen telah kusetorkan ke kantor OSIS. Waktu terus berjalan. Hari yang kutunggu-tunggu telah sampai. Jantungku deg-degan tak karuan menuju mading sekolah. Di sana telah banyak siswa berkumpul, tak tahu aku apa yang mereka lakukan. Sampai di sana, ternyata... Aku mendapat juara harapan 1! Great, briliant, yippy!
Meski hanya di posisi harapan 1, kutetap bahagia karena ini adalah awal yang baik. Apalagi waktu melihat pengumuman di situ ada si Anton dan si Mila. Dan yang membuatku bangga, aku telah mengalahkan sekian siswa dari tiga jurusan di sekolah ini!
Dengan semangat menggebu-gebu, kumenuju kantor OSIS untuk mengambil bingkisan, sertifikat dan tropi yang akan menambah koleksi piala di ruang tamu rumah. Dengan senyum sumingrah, kulangsung masuk ke ruangan OSIS.
“Selamat, ya…. Kamu berhasil menjadi juara harapan 1 dari empat peserta yang ikut,” kata salah satu pengurus OSIS sambil senyum-senyum dan memberikan hadiahnya untukku.
“Apa?! Empat peserta?!”
“Iya, itu sudah bagus kan dari pada tidak ikut?” aduh… semoga saja teman-teman di kelas tidak tahu ini. Untungnya, yang jadi pengurus OSIS di kelasku tidak besar mulut, dan pastinya dia tidak akan menceritakan ini demi gengsi perlombaan OSIS.
Aku tidak boleh putus asa. Masih banyak lomba karya tulis lain yang belum aku ikuti. Kali ini ada lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh salah satu universitas di kotaku. Yang paling seru pesertanya tidak dibatasi usia. Selain itu, pengumuman pemenang akan dibacakan ketika pelaksanaan seminar yang mengundang anak-anak OSIS SMA seseantero kota. Dan beritanya akan menyebar di sekolah. Duh... senangnya! Aku harus ikut!
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Juara pertama diraih oleh Audzubillahiminassyaythonirrojim, dari SMA Bambu Runcing. Serentak semua peserta tertawa mendengar namaku dipanggil. Cuma anak OSIS sekolahku yang tidak tertawa. Mereka terlihat bangga padaku karna membawa harum nama sekolah. Namun ku tak peduli dengan itu. Pembacaan pemenang diteruskan. Juara kedua diraih oleh Amira Handayani dari SDN Suka Hati. “Lho, kok anak SD?” gumamku dalam hati.
Juara ketiga dan harapan dua telah dibacakan. Dari juara kedua sampai harapan dua, pemenangnya semuanya anak SD. Aku menunduk tak berani menghadap ke depan. Kumulai menyangka semua pesertanya anak SD kecuali aku. Dan ternyata, benar saja... semua peserta rata-rata anak SD dan yang SMA hanya diriku! Kutahu hal ini dari pengurus OSIS yang datang waktu itu, yang katanya dapat informasi dari panitia. Pantesan waktu pembacaan pemenang, panitia banyak yang senyum-senyum geli. Tapi, tak apalah. Ini pasti menandakan beberapa tahun lagi kotaku akan melahirkan sastrawan-sastrawan andal!
***
Lagi, aku tak boleh berkecil hati. Masih ada lomba lain yang belum aku ikuti, yakni lomba karya ilmiah tingkat propinsi yang diadakan oleh salah satu kampus ternama di negeri ini. Kusangat haqqul yakin, aku akan masuk dalam peringkat sepuluh besar. Dan aku akan mempresentasikan karyaku di depan para juri professional. Wuih!
Sebelum kumengirim naskah karya ilmiah tersebut, kuminta bantuan temanku yang sudah sering menjurai lomba karya ilmiah tingkat nasional. Ku banyak belajar dari dia, bagaimana menulis yang baik dan benar. Dia juga yakin aku akan masuk sepuluh besar, meski persaingan dijamin sangat ketat.
Kutinggal menunggu waktu pengumuman nominasi sepuluh besar yang akan dihubungi melalui telepon dan website kampus tersebut.
“Hore…!” Aku berjingkrak-jingkrak kegirangan setelah dihubungi melalui telepon oleh pihak panitia penyelenggara bahwa aku masuk sepuluh besar. Satu minggu lagi aku akan mempresentasikannya. Cihuy! Dan yang pasti, pesertanya sangat banyak, berhadiah jutaan rupiah dan pesertanya bukan anak SD karena lomba ini memang khusus untuk anak SMA. Diriku senang bukan kepalang. Ibuku yang melihat tingkahku, tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Kumulai belajar bagaimana melakukan presentasi yang baik dan benar agar bisa meyakinkan para juri. Temanku yang sudah merasakan asam garam lomba karya tulis, yakin aku akan masuk lima besar. Yah, meskipun dia tidak menjamin aku bakalan jadi juara pertama.
Sebelum sampai pada hari H, semuanya telah kupersiapkan dengan matang, agar tidak malu-maluin. Akupun berangkat menuju ibu kota propinsi yang bisa ditempuh dua jam dari kotaku sejak jam 06:00, karena acara dimulai jam 08:00. Motor kulaju sesuai dengan perkiraan. Namun naas, setengah jam perjalanan, ban-ku bocor. Mau tidak mau kuharus ke bengkel. Pikiranku tidak enak. 30 menit berlalu ban-ku sudah ditambal. Kuyakini masih ada harapan. Lambat sedikit tidak apa-apa, pasti ada despensasi. Laju motor kupercepat. Tak sampai 15 menit perjalanan, ternyata ada kemacetan yang cukup panjang. Kata seorang pejalan kaki, panjangnya diperkirakan 4 kilometer gara-gara ada dua pohon besar yang tumbang. Penyebabnya hujan besar dan angin kencang yang terjadi tadi malam.
Sudah satu jam aku menunggu, tapi kemacetan tetap tidak berubah. Akhirnya kukembali ke rumah dengan perasaan kecewa. Mungkin belum saatnya aku jadi juara yang sesungguhnya. Kuyakin masih ada hari esok untuk menambah koleksi piala di rumahku. Tapi tunggu, apa karena niatku yang salah, ya? Hanya karena tidak ingin dipandang remeh teman sekelas. Kalau begitu, akan kuubah niatku. Lillahi ta`ala saja. Tetap semangat...! ^___^
Surabaya, 25 Juli 2011
Halaman: 1 |
36 Komentar :
hijazz
bagus...lucu ...n pesan yang sangt ngena....jadi...niatkn smua yng qta jlani hnya krena Alloh...pasti Alloh kasih jalan...yang lancr
Berkah dari sebuah nama :)
Berawal dari nama, cerita ini bermula.
Diakhiri dari nama pula, cerita ini menyimpang sejuta makna.
LANJUTKAN!!
#3F1
Berkah dari sebuah nama :)
[RALAT]
Berawal dari nama, cerita ini bermula. Diakhiri dari nama pula, cerita ini menyimpan sejuta makna. LANJUTKAN!!
#3F1
Isi Komentar :




