Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Perempuan Itu telah Lupa Namanya

16 Agt 2011 | Rubrik: Epik - Dibaca: 3332 kali

Penulis: Adi Zamzam

 

Kau akan melihat perempuan itu terus berjalan dan terus berjalan dari satu kota ke kota lain. Tapi ia bukan orang klan Samaale yang terkenal suka mengembara itu. Mungkin suatu ketika kau telah melihatnya di Oddur, di Baidoa, di Baqi, dan ia juga pernah terlihat di rumah sakit Medina—Mogadishu. Saat itu ia bilang, Osman—anak sulungnya—tertembak. Tapi para perawat tak pernah melihat rupa Osman dan di mana perempuan itu meninggalkannya.

Tubuhnya tinggi kurus. Kulitnya hitam legam. Matanya menyerupai buah persik dengan manik hitam menyala di tengahnya. Mata yang selalu memancarkan aura kehidupan. Ia pernah bilang bahwa ia akan terus hidup demi ketiga anaknya. Tapi semua orang yang mendengar pengakuannya itu malah menganggapnya gila karena tak pernah melihat anak-anak itu. Rambut ikalnya yang tergerai masai terlihat kusut tak pernah disisir. Dulu ia juga memakai kerudung, seperti kebanyakan perempuan umumnya. Tapi kerudungnya telah dirampas paksa oleh seorang lelaki entah yang menodongkan senjata ke arahnya. Dan lagi-lagi orang-orang yang mendengarnya tak percaya. Buat apa lelaki bersenjata merampas kerudung? Kain sarung yang melilit di tubuhnya pun amat kotor seperti tak pernah dicuci.

Perempuan itu tak akan menoleh meski kau memanggilnya dengan nama apapun. Pernah suatu ketika ia turut hanyut dalam arus manusia yang merangsek ke Afghoyee. Meski tubuhnya kerempeng, ia masih terlihat gesit menyelinap di antara sekumpulan manusia yang berdesak-desakan demi mengantri bahan makanan. Saat petugas pembagi bahan makanan menanyakan namanya, ia hanya menjawab bahwa ketiga anaknya amat membutuhkan makanan. Si petugas berkeras menanyakan nama perempuan itu dan di mana ia tinggal. Namun perempuan itu masih juga tak mau mengatakan siapa namanya dan terus saja meracau bahwa ia butuh banyak makanan untuk ketiga anaknya yang sudah lama menunggu.

Entah, perempuan itu telah lupa namanya ataukah memang ia sengaja melupakan namanya. Yang jelas, ia tak peduli lagi dengan namanya. Yang bisa membuatnya menoleh dan gegas bangkit hanyalah ketika telinganya mendengar kabar pembagian makanan.

*          *          *

 

Sebuah ledakan membuat suasana kawasan perbelanjaan Khat menjadi kacau-balau. Orang-orang menjerit, berlarian menyelamatkan diri. Debu mengepul, menebarkan aroma mesiu. Ia sudah memperingatkan lelakinya untuk segera membereskan dagangan dan menjauh saja dari tempat itu. Selalu, setiap kali ada sekawanan tentara patroli, bisa dipastikan mulut bahaya menganga menebarkan bencana. Tapi lelakinya tak mau mendengar dan lebih menuruti rasa penasaran.

Ia masih bisa melihat sosok lelakinya ketika berusaha menyeret beberapa jasad yang bergelimpangan. Sebelum akhirnya bom kedua meledak. Hening berdenging sesaat. Air matanya meleleh tanpa diundang. Ia ingat, hari itu Sabtu. Matahari masih mengintip malu-malu. Beberapa orang tampak berlumuran darah saat melarikan diri. Tapi ia tak melihat lelakinya. Airmata semakin menderas ketika ia menemukan potongan tangan—yang amat dikenalnya—terserak di tengah jalanan. Ia berteriak agar orang-orang yang panik tak menginjak potongan tangan itu.

Ia terbangun. Diusapnya keringat yang membasahi leher, sembari mendesiskan rasa syukur karena terbebas dari mimpi buruk yang selalu menguntit malam-malamnya. Saat ia menoleh ke samping, ah, ternyata ketiga anaknya juga turut terbangun.

Ia meminta maaf karena tak sengaja telah membangunkan mereka. Tapi Osman, Omar, dan Saleh, diam tak menyahut dan hanya menunjukkan wajah memelas sembari mendekap perut. Ia menjadi paham kemudian ketika telinganya mendengar suara rintihan. Sepertinya  mereka terbangun karena kelaparan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sesuatu yang menjadi tujuan utamanya saat ini. Sebuah kabar yang didengarnya tadi siang ketika mengemis di pasar Bakara. Akan ada pembagian makanan besar-besaran di Gedo, kota yang berbatasan dengan Kenya dan Eithopia. Kata orang-orang, kehidupan di sana lebih terjamin dibanding Mogadishu yang akhir-akhir ini memanas dan mulai dipenuhi kamp-kamp para pengungsi. Konon, kesempatan melarikan diri ke negeri lain juga terbuka lebar.

Ia segera bangkit. Disuruhnya pula ketiga anaknya. Perjalanan harus secepatnya dilanjutkan. Jika kabar semacam itu sudah tersebar, tak bagus menunda-nunda perjalanan. Apalagi letak Gedo amat jauh. Ia tak mau ketinggalan mengantri lagi seperti kemarin ketika Mogadishu mendapatkan jatah makanan gratis.

Malam amat dingin. Bulan separuh tertutup jelaga tipis. Baobab dan akasia membeku dalam gelap. Bahkan para binatang malam pun seperti tengah bersepakat dengan sepi. Seolah mereka tengah bersembunyi dari sesuatu.

Sesuatu itu muncul tiba-tiba dari semak-semak, membenarkan perasaan tak enak yang menempel di benaknya. Moncong senapan tengah mengarah tepat ke kepalanya.

“Mau ke mana malam-malam kelayapan, ha?! Mau cari rajam?!” wajah lelaki itu terbebat kain hitam.

“Apa kau masih belum puas setelah mencabik-cabik kerudungku?” ia balas bertanya.

 “Tak ada yang boleh meninggalkan kota ini, mengerti?!” ujar yang satunya lagi, yang bertubuh lebih pendek.

“Minggir! Apa kau tak lihat ketiga anakku sedang butuh makanan?! Apa yang sebenarnya kalian perjuangkan?!” bentak perempuan itu, tak peduli apakah dua lelaki bersenjata di hadapannya adalah tentara ataukah para pemberontak.

Tak ada anak kecil di situ. Membuat dua lelaki berpenutup muka kembali saling pandang. Saling berbisik. Saling angguk. Tak tahu mengapa, keduanya lantas menyingkir meninggalkan perempuan sebatang kara itu.

*          *          *

 

Sepanjang perjalanan menuju daerah Gedo, teramat sering telinganya berdenging tanpa sebab. Suara-suara berlintasan bagai angin gurun yang tak pernah berhenti menuju diam. Namun ia tak memedulikan semuanya.

…Presiden Abdullahi Yusuf mencoba memecat Perdana Menteri Nur Hassan Hussein karena usahanya menarik Islamis moderat ke dalam pemerintahan. Namun Parlemen menyatakan pemecatan itu inkonstitusional…

Pemberontak Al Shabab mulai menguasai Baidoa…

Halaman: 1 | 2 |

Artikel Sebelumnya :

6 Komentar :
2011-08-16 11:00:44 WIB

sihabuddin

kpn aq sperti adi zam-zam? mulai annida cetak sampai on-line. tulisannya selalu nongol d ANNiDA

2011-08-16 11:20:54 WIB

lazione budy

susahnya bikin epic.
pahami pun setali tiga uang.
but, nice one!

2011-08-16 12:13:57 WIB

Salma

Terkesan, dengan Epik Annida. Tak bosan membacanya walau berulang-ulang. :-)

2011-08-16 13:50:56 WIB

Bujang

Cukup menarik. Walau penggambaran Somalia-nya nggak terlalu kuat, terasa hanya tempelan semata. Dan ada bagian yang justru membuat bangunan epik ini makin kurang bagus, yakni ketika penulis memasukan bagian berita tentang parlemen, presiden, dll. Hanya memperpanjang karakter saja, sebab tanpa bagian itu pun, epik ini sudah cukup asyik. Perpindahan plot kurang halus, terasa penulisnya seperti kehilangan ide dan berhenti sejenak sebelum melanjutkan. Selebihnya, asyik untuk dibaca.

2011-08-27 12:03:18 WIB

andini azzahra

epik annida dari dulu selalu membuatku beerdecak kagum, ceritanya selalu mengharu biru dan sarat pesan moral...
bujang...komenmu slalu tajam tapi membuat para penulisnya jadi lebih korektif lagi...good job!

2011-09-04 23:08:56 WIB

akarui cha

Terharu sekali membaca epik annida ini. Ya Allah, kasihan sekali ibu itu.


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)