Mahasiswa Calo
10 Agt 2011 | Rubrik: Cerpen - Dibaca: 3538 kali
Sidiq duduk mematung di stasiun kereta api sambil memperhatikan kalau-kalau ada orang bisa menjadi targetnya. Biasanya ia mengincar ibu-ibu dengan penampilan cukup lumayan dan sikapnya lemah lembut. Ibu-ibu dengan wajah terawat yang terlihat tidak pernah bekerja kasar. Mereka biasanya tidak suka berdesak-desakan mengantre di loket kereta. Mereka lebih mudah untuk ditawari untuk mendapatkan tiket dengan mudah meskipun dengan harga berlipat. Setelah satu setengah jam menunggu, Sidiq pun tersenyum penuh arti karena telah menemukan orang yang menjadi sasarannya.
Sidiq pun mulai basa-basi-busuk. Ia ngobrol ngalor ngidul dengan seorang ibu yang baru datang di stasiun. Benar saja, ternyata ibu itu akan membeli tiket untuk keperluan mudik keluarganya ke Jakarta. Sidiq pun berpura-pura juga sedang mencari tiket ke Jakarta. Ia mulai membual sudah empat jam mengantre, tapi belum bisa mendapatkan tiket karena antrenya memang luar biasa dan pengantre ada beberapa yang brutal ingin mendapatkan tiket, sehingga ia lebih baik mengalah. Ia bercerita panjang lebar tentang betapa susahnya mengantre untuk mendapatkan selembar tiket pada saat sekarang ini. Maklum menjelang lebaran. Tapi itu adalah cerita yang tidak sepenuhnya benar. Ia melebih-lebihkan cerita itu sehingga sasarannya tidak punya keberanian untuk mengantre tiket.
Setengah jam sudah Sidiq membual tentang horornya stasiun saat ini. Ia mulai melihat sasarannya terpengaruh. Saat seperti inilah saat yang tepat untuk menawarkan jasanya. Ia tersenyum sekilas, kemudian pasang tampang serius kembali.
“Gini, Bu... kalo ibu mau, ada temen saya yang nawarin tiket, kebetulan dia ga jadi mudik tapi dah telanjur beli tiket. Kalo ibu mau beli tiket temen saya itu, nanti saya bantu. Tapi ya... harganya lebih mahal. Soalnya kemaren dia juga belinya tiket harganya segitu. Tapi saya cuma nawarin lho, Bu... Saya cuma niat bantu ibu saja. Daripada ibu susah-susah ngantre tiket. Udah lama, buang waktu, tenaga, belum tentu dapet pula...,” Sidiq berusaha meyakinkan sasarannya itu.
“Adek sendiri kenapa nggak beli tiket temen adek itu?” tanya ibu setengah baya tersebut.
“Wah, Bu... saya ini anak kos, Bu, mana cukup uang buat beli tiket dengan harga berlipat gitu. Saya mah kelasnya ngantre seperti ini. Kalo dapet syukur, kalo nggak ya... terpaksa lebaran di kost-an. Bareng-bareng sama teman-teman yang senasib dengan saya.” Sidiq memasang tampang memelas.
“Mmm... gitu ya. Berapa harga tiket dari temen adek itu?” tanya ibu itu.
“Kata temen saya kemaren dia beli lewat tangan kedua, tiga ratus ribu, Bu....”
“Wuihh... mahal sekali. Belinya lewat calo, ya? Dia punya berapa tiket?”
“Ya gitu deh, Bu... Calo-calo jaman sekarang memang bikin harga seenaknya. Mentang-mentang kita butuh, malah dimanfaatkan...,” Sidiq tertawa dalam hati mendengar ucapannya sendiri, dia sedang menyindir dirinya sendiri: calo. “Dia punya kalo nggak salah empat, mungkin lebih,” lanjut Sidiq.
Ibu setengah baya tersebut merenung sejenak. Kemudian ia mengeluarkan hape dari dalam tasnya dan mengetik sesuatu, sepertinya sedang berkirim sms dengan seseorang. Mungkin dia sedang sms-an dengan suami atau keluarganya yanng lain.
Beberapa menit kemudian...
“Baiklah, Dek... Ibu ambil empat tiket. Bisa adek hubungi teman adek itu?” kata ibu itu mantap.
“Bisa, Bu.. tentu saja. Sebentar, Bu, saya telpon temen saya.”
Kemudian Sidiq menelpon Yuni, temennya yang menjadi penjaga loket tiket kereta. Dia berbicara lebih banyak dengan bahasa isyarat yang hanya dia dan Yuni yang tahu maksudnya. Yuni sangat paham, bahwa Sidiq sudah mendapatkan sasaran dan sekarang butuh empat tiket. Keuntungan akan mereka bagi dua.
Sidiq tersenyum puas. Ia berbohong pada ibu itu bahwa temennya akan ke stasiun dalam beberapa menit lagi. Ia minta ijin pada ibu itu untuk menemuinya di parkiran, padahal sebenarnya ia pergi ke samping loket, tempat ia dan yuni janjian, kemudian mendapatkan tiket dari Yuni, tanpa antri. Dengan mudahnya ia mendapatkan tiket itu. Tiketpun tidak seperti yang santer beredar bahwa tiket sudah hampir habis. Kenyaataannya tiket masih begitu banyak.
Dalam hitungan menit, empat tiket sudah berada di tangan Sidiq. Ia sudah membayar tiket itu dengan uang modalnya. Harga tiket tidak ada separoh dari harga yang ia tawarkan kepada sasarannya. Lumayan....
Sebenarnya dari hati terdalam ia tidak ingin menjalankan bisnisnya ini. Namun apa boleh buat, inilah yang bisa ia lakukan untuk menyambung hidupnya sebagai mahasiswa. Sudah dua tahun ini suplai uang dari orang tuanya sangat terbatas, sementara ia butuh banyak uang untuk menyelesaikan skripsinya. Ia juga sudah tidak boleh lagi mengajukan beasiswa, karena ia adalah langganan penerima beasiswa di fakultasnya. Hampir semua jenis beasiswa pernah ia dapatkan, hingga pihak kampus tidak lagi menerima pengajuan beasiswa darinya, agar beasiswa bisa didapatkan oleh mahasiswa secara merata. Ya..kasih kesempatan lah buat mahasiswa yang lain.
Terpaksa ia harus menjalani bisnis melanggar hukum seperti ini. Ah, apa boleh buat... Toh sasarannya bukan orang miskin. Sasarannya adalah orang-orang berduit. Semoga Alloh menghitungnya sebagai amal sedekah buat mereka, doanya dalam hati. Apalagi selama ini ia selalu lancar menjalankan bisnisnya. Mungkin ini adalah pertolongan dari Alloh karena dia benar-benar pada posisi sulit.
Setelah tiket ada di tangan, ia segera menyerahkannya pada sasarannya. Si ibu yang masih cantik di usianya yang kurang lebih lima puluh tahun itu masih duduk manis sambil memainkan hapenya.
“Ini, Bu... tiketnya sudah ada,” kata Sidiq sambil menyerahkan empat lembar tiket yang masih mulus.
“Cepat sekali, Dek. Rumah temen adek deket ya dari sini?" komentar ibu setegah baya itu.
“Gitu deh, Bu.. nggak jauh-jauh amat dari sini," jawab Sidiq sekenanya. Ia tak ingin memperpanjang pembicaraan, karena yang ada dalam hatinya hanya transaksi itu segera terlaksana. Ia segera mendapatkan uang satu juta duaratus ribu rupiah, yang akan ia bagi dengan Yuni. Untuk transaksi ini Yuni mendapatkan untung dua ratus ribu. Lima puluh ribu per tiket yang ia beli diam-diam itu. Ini sudah menjadi kesepakatan sejak ia memulai bisnis percaloan tiket.
“Oke, Dek. Ibu ngambil uang dulu di atm, ya... Soalnya ibu hanya membawa uang tunai lima ratus ribu rupiah. Sebentar ya...,” kata ibu itu santun.
“Silakan, Bu... saya akan tunggu di sini," kata Sidiq. Dalam hati ia berdoa agar semua lancar. Skripsi telah menunggu untuk diselesaikan. Pokoknya ia harus lulus semester ini. Kalau tidak, profesi memalukan ini tetap harus ia jalani lebih lama lagi.
“Ini, Dek... dihitung dulu. Ibu masukkan amplop biar nggak begitu mencolok,” ibu itu menyerahkan sebuah amplop berisikan uang.
Sidiq menerima uang itu dengan suka hati. Dengan cepat ia menghitung uang dan segera memasukkan ke kantong yang berasa di bagian dalam jaketnya. Setelah itu ia segera berpamitan. Ia segera kembali ke kos. Menenggelamkan tubuhnya di kasur butut warisan senior kosnya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya setiap kali ia selesai melakukan transaksi.
Sering ia terpikir untuk menyudahi bisnisnya ini dan menggantinya dengan pekerjaan lain yang lebih aman. Sebenarnya ia sudah bekerja sebagai guru privat. Ia mengambil jam malam, mulai jam 7 sampai jam 9 malam dari hari senin sampai jumat. Tapi hasil yang didapat hanya untuk kebutuhannya sehari-hari. Sementara untuk SPP kuliah dan biaya skripsi ia harus mencari sampingan yang lain. Dan malangnya sampingan sebagai calo yang harus ia jalani. Pekerjaan yang bertentangan dengan hukum, padahal ia adalah mahasiswa fakultas hukum. Ya...ia adalah mahasiswa hukum yang melanggar hukum. Ia selalu berdoa semoga ia tidak akan dihukum.
***
16 Komentar :
Cerpennya bagus, pesannya mengena. Hanya latar waktunya saya kira Ramadhan, karena disebutkan menjelang lebaran. Ternyata terkaan saya keliru, karena tokoh makan di waktu siang.
makan siang di bulan ramadhan? Hhhmm...
Endingnya ketebak, datar. konfliknya juga kurang nendang. Tapi lumayan lah untuk bacaan sekilas, semangat..
Nta
Walaupun sempat ketebak, tapi endingnya mantabb... kayaknya ikut maluuu banget bacanya, kayak ketangkap basah berbuat dosa. Salut buat penulisnya
Hem.. ceritanya bagus. tidak terlalu panjang.. pesannya nyampe. tapi kok sedikit aneh ya? kenapa si dosen bisa tahu kalau si sidiq "bisnis" tiket? hem.. agak kurang ngerti sih di adegan ini.. logika ceritanya nggak dapet.. ^^v dan endingnya bisa tertebak sebenarnya..
waktu dosen ngajak makan siang ke rumahnya.. sempat surprised juga kalau dosen ngajak makan siang dan si sidiq nerima gitu aja tawarannya.. agak sungkan dikit kenapa sama dosen.. pengalaman saya skripsi dulu malah nggak boleh ngomongin skripsi di luar kampus. takutnya ada apa-apa. hehehe
over all ceritanya bagoes!!! ^^v
semangat untuk penulisnya..
Subhanallah pesannya nyampe, suka endingnya seolah-olah saya sendiri yg menjadi sidiq. Allah SWT juga tak melihat hasil tapi kerjakeras kita yang dilakukan dengan tidak melanggar aturan-Nya. semangat untuk penulis
Mudah2an jd inspirasi buat para calo ... bahwa penipuan itu bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain, semoga calo2 di Indonesia segera lenyap dan mulai dengan yang bersih dan jujur.
nah..jadi inget pepatah..
"karena nila setitik...rusak susu sebelanga.."
sayang ya..hoho
eniwei, cerpennya bagus. simple, mudah dipahami ^^b
Strukturnya tidak rumit, hanya terdiri dari 2 bagian (saat nyalo di stasiun dan saat terbongkar kedoknya). Juga hanya ada 3 karakter pokok penyampai pesan (Sidiq si pelaku, Bu Ratih si korban dan Pak Arif si hakim). Idenya oke. Pesannya sampai. Konflik batinnya sudah tajam. Endingnya sip lah. Alurnya sudah mengalir. Emm... cuma, adegan 'buka puasa'nya di siang hari perlu diganti dengan yang lain, kali...
Ceritanya bagus... Tapi di halaman kedua ceritanya sudah dapat ditebak, jadi endingnya kurang seru...
Isi Komentar :




