Jum'at, 18 Mei 2012 / 26 Jumadil Akhir 1433 H
Login | Register

file
    Share

Islam, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan

28 Juli 2011 | Rubrik: Berita Penerbit - Dibaca: 1065 kali

Annida-Online-- Sobat Nida, suka bertanya-tanya nggak, kenapa ya orang Indonesia sering memenangi olimpiade-olimpiade tingkat internasional mengalahkan Amerika dan negara-negara maju lainnya, tapi kok negara kita gini-gini aja? Jawabannya: tidak adanya latar belakang budaya cinta ilmu pengetahuan.

Seperti yang dituturkan Husain Heriyanto dalam bedah buku perdanannya, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, yang diadakan di Universitas Paramadina (27/7). Menurutnya, remaja Amerika kini sedang mengalami penurunan dari segi kualitas, namun sistem dan sarana pendidikan mereka mau tidak mau mengharuskan remajanya untuk mencintai ilmu pengetahuan.

"Walaupun SDM kita sudah mengungguli remaja-remaja Amerika, namun sistem dan sarana kita tidak mendukung budaya cinta ilmu pengetahuan. Di negara-negara maju, riset dibebas pajak-kan, anak-anak pintar dicari negara untuk tidak dipersulit masalah biaya pendidikan. Berbeda dengan negara kita yang menganggap riset sebagai kegiatan buang-buang duit. Padahal itu kan investasi buat masa depan," papar Husain.

Oleh karena itu, melalui buku barunya ini, Husain ingin mengajak seluruh masyarakat untuk mengembangkan kembali etos keilmuan  yang kuat dan mendalam, dan menjadikannya sebagai bagian hidup umat Islam. Seperti yang telah diukir oleh ilmuwan Islam klasik seperti Al-Jabar, Ibnu Sina, Al-Khawrizmi, dan lainnya.

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas paramadina dan Penerbit Mizan, dihadirkan juga dosen  filsafat dan sains Paramadina yang menjabat sebagai direktur PSIK, Fuad Mahbub Siraj. Bukan hanya mengomentari buku Husain, Fuad juga memberikan banyak pandangannya terhadap ilmu pengetahuan dan kondisi ummat Islam dulu dan kini.

"Penulis seperti ingin membangun kesadaran kita bahwa keilmuan dan Islam pernah berjaya. Bukan mengajak nostalgia akan kejayaan kita dulu, tapi mengajak kita untuk kembali gemar menggali keilmuan," ujar Fuad.

Nah, Sobat Nida... tugas kita lho mengembalikan kejayaan keilmuan Islam. Seperti kata Husain, salah satunya dengan menanamkan terus budaya baca pada diri setiap kita dan anak cucu kita. Yoyo... semangat membalikkan kejayaan keilmuan Islam! [nurjanah]

Artikel Sebelumnya :

3 Komentar :
2011-07-28 11:48:19 WIB

santi Syamsiyah

Yup betul bgt, kita harus rajin baca & mnegajk orang lain rajin baca...ih sedih yach klw liat tahun ini yg sekolah ke negerei tp hasil nem yg...aah, ga tau deh pendidikan kita bakal ky gmn???ups, kita harus slalu saling ngingetin ya....wa tawa shoubil haqqi watawaa shoubish sobri

2011-08-02 15:13:33 WIB

Siti Aisyah

betul itu,, kita sebagai generasi penerus bangsa harus mengemballikan budaya membaca..
oleh karena itu, saya sebagai remaja ingin sekali membuat teman2 suka membaca dg cara dari diri kita sendiri dulu cinta membaca , baru org lain nnti berpikir ... dan juga akku pernah mengutip hasil dari perkataan trainer aku wktu aku training. kita boleh mnuntut ilmu kmanapun tapi, kita tdk boleh melupakan al-qur'an :)
mari kita kembalikan kejayaan keilmuan Islam!!!

2011-08-10 11:47:58 WIB

akarui cha

Anak anak Indonesia memang punya kemampuan dan kecerdasan yang sungguh luar biasa. Tapi sayangnya, budaya membaca masih kurang disukai anak anak jaman sekarang. Anggapan teman teman saya kepada saya adalah 'si kutu buku' dan itu terkesan kami nggak gaul. Padahal dengan banyak membaca, saya merasa cukup gaul dan up to date daripada teman teman yang kurang suka membaca. Wah, ternyata semangat cinta ilmu memang harus benar benar di tanamkan kepada anak anak sejak usia dini. Agar generasi selanjutnya nggak jadi seperti saat ini. Amin ^^


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)