Jangan Hapus Mimpiku Part 2
26 Juli 2011 | Rubrik: Cerpen Interaktif - Dibaca: 2515 kali
Udara malam menusuk-nusuk kulitku meski jaket tebal sudah membungkus tubuhku dengan rapi. Ini kali pertamanya aku menyeberang pulau, sendirian dengan tas ransel besar yang berhasil menyulapku menjadi jelmaan kura-kura. Laut yang biasanya menyuguhkan damai di hatiku jika melihatnya, kini terlihat mencekam karena aku tak melihat selain warna hitam bergelombang di sekelilingku. Uang tabunganku hanya cukup untuk ongkos jalur darat, setelah sekitar 40 jam lebih mengendap seperti serbuk teh dalam gelas di bis damri, kini aku harus merasakan ganasnya angin malam di atas kapal laut.
Kutatap lampu-lampu yang putih menyala di pinggiran kota Lampung, semakin lama semakin mengecil; tanda kalau kapalku semakin menjauhi pulau Sumatera, pulau dimana aku lahir dan dibesarkan, sekaligus pulau yang melahirkan mimpi besarku untuk menjadi sutradara. Kualihkan pandanganku pada langit yang malam ini tak berbintang.
Bayangan kesuksesanku seperti terlukis indah di atas sana, namun mendadak kacau berantakan ketika terpampang wajah galak ibu. Aku menggigit bibir, cemas. Sejak kepergianku dari rumah, aku sengaja menonaktifkan hapeku. Aku malah sempat membeli sim card baru untuk menghindari serbuan telpon ataupun sms ibu.
Aku berjanji akan secepatnya menghubungi ibu, nanti ketika aku menginjakkan kakiku di Jakarta! Bayangan tugu monas yang konon indah itu menari-nari di benakku. Ibu Kota Negeriku yang sampai aku berumur 18 tahun belum pernah kusambangi. Selama ini aku hanya mengenalnya lewat televisi 21 inch di rumah, lewat sinetron-sinetron tidak bermutu yang digemari ibuku. Jakarta: panas, tak ramah, dimana kesenjangan sosial begitu menganga lebar. Namun juga tak ayal menjadi kota tujuan bagi pemimpi sepertiku.
“Sendirian aja mbak?” sebuah suara membuyarkan lamunanku, seorang laki-laki yang terlihat lebih tua beberapa tahun di atasku itu sudah berada tepat di sampingku.
“Iya.” Jawabku ketus, agak waspada.
“Mau ngapain ke Jakarta?” tanyanya seolah tahu isi kepalaku.
“Kuliah.” Aku menjawab pendek sambil memperhatikan penampilannya, tidak ada yang mencurigakan sebenarnya. Hanya saja, aku memang harus lebih waspada dengan orang asing. Siapa tahu dibalik sikap ramah dan tampang kerennya, lelaki ini menyimpan rencana busuk.
“Kuliah, hmm..rencana yang bagus, semoga benar-benar kuliah ya sesampainya disana.” Ujarnya santai sambil melempar pandangan ke lautan yang pekat. “Banyak orang berencana begitu saat pergi ke Jakarta, nyatanya setelah sampai disana hanya jadi gelandangan atau paling banter jadi pelayan toko di mall.” Tambahnya lagi enteng.
Ugh! Menangnya aku ada tampang mengemis? Begini-begini aku ini anak pemilik butik terkenal di kota Medan tauk! Batinku sebal melihat tampang sok tahunya.
“Oh iya, kita belum kenalan. Saya Ryan, calon mahasiswa teknik mesin yang sekarang cuma jadi montir rendahan di bengkel salah satu sudut kota Jakarta.”
Peduli amat! Aku makin sebal. Mau dia calon kondektur bus juga apa peduliku?
“Mau kuliah dimana? Jurusan apa?”
“Saya mau jadi sutradara.” Jawabku agak melenceng dari pertanyaan meski substansinya tetap sama; tujuanku pergi ke Jakarta.
“Wah, penerus Hanung Bramantyo gitu? Hahaha…” suara tawanya membahana, memecah hening malam di tengah laut. Wajahku sudah mulai masam berlipat tujuh.
“Apa salahnya dengan mimpi saya? Kamu sama aja kayak ibu!” makiku kesal.
“Ibu? Jangan bilang kamu pergi tanpa sepengetahuan ibu kamu?” matanya menghujamku tajam. Aku hanya mengangguk pasrah, merasa bersalah. Seperti pesakitan yang menunggu vonis dari hakim.
“Kamu pikir tanpa restu ibu, kamu bisa dengan mudah menggapai mimpi kamu?”
“Ibu gak akan kasih restu sebelum melihat aku berhasil!”
Ia menyeringai kecut, “Anak kecil, berhasil itu bukan cuma modal nekat, tapi juga otak!”
Aku mendengus, memilih meninggalkannya daripada berdebat dengan orang sok tahu macam dia lebih baik aku istrahat. Mataku mulai mengerjap-ngerjap;ngantuk. Kuposisikan dudukku di kursi yang tersedia, irama musik dangdut menghentak-hentak membuat telingaku sakit. Beberapa orang bapak-bapak asyik mahsyuk bergoyang. Aku sudah setengah sadar.
*
Kini aku sudah terduduk manis lagi di dalam Damri, rasa haru sekaligus senang membuncah ketika kapal tadi mulai merapat. Aku sudah berada di pulau Jawa, tepatnya Pelabuhan Merak. Aneka truk besar bertebaran mengantri untuk menyebrang, hiruk pikuk para pekerja masih ramai di sini. Aku menghirup nafas dalam-dalam, merasakan aroma udara Pulau Jawa. Ibu, kan kuraih mimpiku disini.. gumamku pelan.
“…berhasil itu bukan cuma modal nekat, tapi juga otak!”
Semburan menyebalkan laki-laki bernama Ryan semalam itu tiba-tiba terngiang di telingaku. Apa sebaiknya aku menghubungi ibu sekarang? Bagaimana pun sikapnya padaku kemarin itu, ia pasti sangat cemas melihat anak semata wayangnya pergi.
“Sebaiknya kamu kembali ke rumah, minta restu ibu dengan cara baik-baik. Bagaimanapun restu ibu adalah salah satu poin penting dalam usahamu mengejar mimpi. Jangan sampai kamu menyesal seperti saya…” aku mengenal suaranya, ia sudah berdiri, bersiap untuk turun, Ryan. Ternyata ia berada dalam bis Damri yang sama denganku.
Aku mengernyit, mengelus pipiku. Bekas tamparan ibu hari itu; tak ada luka disana, namun sakitnya masih terasa perih di hatiku. Apa dengan aku kembali ke rumah, hati ibu yang sekeras batu itu akan luluh? Ah.. aku tidak yakin… (Bersambung…)
diBawahLangit,15 Juli 2011
Yuhuuu...!
PERHATIAN-PERHATIAN! Bagi Sobat Nida yang tertarik melanjutkan Cerpen interaktif JANGAN HAPUS MIMPIKU (part 3), silakan kirim lanjutannya ke email : majalah_annida@yahoo.com, dengan format .rtf atau .doc, subject: cerpin JHM 3. Selambat-lambatnya 10 hari setelah pemuatan JANGAN HAPUS MIMPIKU (part 2), atau selama naskah Part 3-nya belum ada yang tayang (artinya dari sekian banyak naskah kiriman, belum ada yang dinyatakan layak muat)
Jangan lupa sertakan nama dan alamat lengkap, karena ada bingkisan yang berhak kamu dapatkan jika karyamu yang terpilih. Makanya, cepetan tulis... dan kirim! ^_^
Halaman: 1 |
10 Komentar :
Penataan tanda baca kalimatnya sudah bagus, namun ada yang kurang pas untuk makna kiasannya seperti pada kalimat "tas ransel besar yang berhasil menyulapku menjadi jelmaan kura-kura" dan "setelah sekitar 40 jam lebih mengendap seperti serbuk teh dalam gelas di bis damri" kesannya terlalu jauh dari makna yang sebenarnya, coba dicari bahasa kiasan yang lain yang lebih mendekati istilahnya, padahal banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita diatas, alangkah lebih baiknya tidak membuat pembaca illfeel di awal cerita, agar semakin meyakinkan pembaca akan hikmah yang terkandung dalam cerita tersebut, oke sukses ya...ditunggu cerita selanjutnya :)
"Kamu pikir tanpa restu ibu, kamu bisa dengan mudah menggapai mimpi kamu?"
kalimat itu membuat basah mataku.... :'(
tulisannya oke,,,,
ceritanya sangat bagus, saya jasi tidak sabar menunggu lanjutannya. saya sangat setuju dengan kalimat: “Kamu pikir tanpa restu ibu, kamu bisa dengan mudah menggapai mimpi kamu?â€
“Anak kecil, berhasil itu bukan cuma modal nekat, tapi juga otak!â€
Memang dalam kenyataan selama ini banyak orang yang gagal karena menuruti keinginan kuatnya, tanpa restu dari orang tuanya (khususnya ibu). Secara keseluruhan cerita tadi sgt bagus, tetapi ada kalimat yang makna konotasinya terlalu jauh dari makna denotasinya, saya pun sulit memahami kalimat tsb seperti: "tas ransel besar yang berhasil menyulapku menjadi jelmaan kura-kura" dan "setelah sekitar 40 jam lebih mengendap seperti serbuk teh dalam gelas di bis damri"
Kereen. Bahasanya nyastra bgd. Suka. Jadi penasaran endingnya. Akankah ia mengurungkan natnya untuk menjadi sutradara? Bagaimana dengan ibu? Dilema. Klimaks yg cukup memikat.. (:D, sayyangerasaagaksotoyhohoho).
semua cerpennya bwaaaaaaaaaaaaagus sekaliiiiiiiiiiiiii ............ mantabbbbbbbbb
cerpennya oke, pengen sih ikutan buat part 3nya, tp ngak pe-de..hehe...part2 ini jd ngingetin ma pengalaman pribadi nih..pergi dari rumah krn ngak sepemikiran ma ortu..dan ternyata..jd kualat..hehe..bener banget sob..restu ortu jembatan kita dapatkan keberkahan dari Allah..dalam masalah apapun..mgkn komunikasi kita dgn ortu yg musti diperbaiki..lgian ortu mana sih yg ingin anaknya celaka..tul tak??!!!
Isi Komentar :




