SEUSAI MAGRIB DI ZENICA
12 Juli 2011 | Rubrik: Epik - Dibaca: 2645 kali
Puncak musim dingin, 1993
Petang akan segera datang saat aku telah duduk di deretan depan bus yang melaju pelan ke arah barat negeriku, Bosnia. Salju-salju yang melapisi jalanan musim dingin ini lumayan licin untuk dilalui roda bus yang kutumpangi.
Musim inilah yang selalu kunanti saat aku masih kecil. Saat butir-butir putih bersih turun dari langit hingga akhirnya merubah tanah menjadi putih. Saat pepohonan yang meranggas karena musim gugur mulai dihiasi salju yang hinggap di dahan-dahannya. Di manapun ada salju yang bisa dimainkan menjadi bola salju.
Namun, percayalah padaku, musim dingin yang terbaik dan paling mempesona di Eropa hanya bisa dinikmati di Sarajevo. Kota nan indah di Semenanjung Balkan, di lembah memukau dengan panorama Alpen Dinaric mengelilingi kota ini. Mungkin kalian akan meragukan ucapanku barusan, tapi sekali lagi percayalah padaku, suhu musim dingin di sini tak akan sedingin Glasgow atau Rejkyavik yang akan membekukanmu. Di sini kalian bisa menemukan kehangatan dan keindahan unik saat musim yang diselimuti salju tiba.
Kalian tahu kenapa bisa begitu? Karena Allah menganugerahkan hal indah ini kepada kota dan kami, penduduk Sarajevo.
Aku sudah melewati belasan kali musim dingin di negeriku ini, Bosnia. Musim dingin paling berkesan bagiku adalah ketika tahun 1984, saat Olimpiade Musim Dingin digelar di Sarajevo. Ketika itu Bosnia masih masuk dalam Yugoslavia. Aku baru berusia 4 tahun saat Tata dan Mama mengajakku dan kakak perempuanku menyaksikan perhelatan akbar ini.
Tapi musim dingin sekarang tak lagi indah seperti dulu. Sejak tank-tank dan kendaraan baja itu memasuki kota kami. Semua berawal musim dingin yang lalu. Para pengintai Serbia mulai datang di gunung-gunung yang mengelilingi Sarajevo. Mereka mengepung kami, penduduk Sarajevo. Semakin hari mereka semakin dekat dan akhirnya melakukan blokade di pusat kota.
Kurasa semua orang sudah tahu bahwa Sarajevo dihuni bangsa-bangsa yang berbeda. Bangsaku Bosnia, orang-orang Serbia, dan juga orang Kroasia. Kami semua memang berbeda. Tapi bukankah kami merupakan saudara yang pernah hidup berdampingan selama puluhan tahun di tanah yang sama? Sekarang semua tinggal sejarah dan kenangan belaka. Pasukan Serbia telah melakukan blokade di kotaku, Sarajevo tercinta. Bahkan aku sendiri tak pernah tahu apakah masih akan ada musim dingin lagi pada tahun-tahun berikutnya di kota ini.
Hari ini kami, semua orang yang ada di bus yang kutumpangi, akan bertolak dari negeri tercinta ini. Ya, kami akan eksodus menuju perbatasan Bosnia dan Kroasia, atau mungkin sampai di Zagreb. Entahlah, aku belum tahu akan ke mana diriku setelah ini. Sesungguhnya aku meragukan pilihan ini, bahwa aku harus hidup jauh dari Sarajevo. Di sana aku dilahirkan dan tumbuh. Namun, setiap saat nyawa terancam dalam kondisi perang seperti ini.
Bus melewati pepohonan yang rapat dan diselimuti lapisan putih salju.
“Kita sampai di Zenica!” kata seorang laki-laki di depanku. Dia duduk tepat di belakang pengemudi. “Kita akan beristirahat sejenak menanti Magrib.”
Sekolah asramaku diserang tiga hari yang lalu. Mungkin hanya itulah tempat teraman bagiku sebelum peristiwa mengerikan itu terjadi, tepat setelah makan siang dan siswa asrama beristirahat di sekitar halaman.
***
Tiga hari yang lalu di sekolah asrama di Sarajevo.
Pandanganku menerobos jauh menuju jajaran Alpen Dinaric yang diselmuti salju. Dulu, sempat terpikir olehku, kalau pegunungan itu menjadi tameng bagi Sarajevo. Tapi kini, justru dia menjadi penjara bagi kami, memerangkap kami di balik kemegahan mereka. Kemegahan yang justru dimanfaatkan oleh para Chetnik sebagai podium untuk melepaskan sebutir peluru ke tubuh sasaran mereka.
Fokusku beralih memandang halaman di tengah asrama sekolahku dari jendela yang tampak memutih, membeku. Salju sudah memadati semua permukaan tanah. Biasanya Jumat seperti hari ini aku dan teman asrama berkunjung ke Masjid Begova. Biasanya pula, sepanjang jalan menuju tempat itu, bisa kulihat betapa beragamnya kota ini. Bermacam-macam bangunan ibadah berdiri saling berdekatan. Tapi sekarang aku hanya berada di asrama ini dengan kekhawatiran akan apa yang terjadi sewaktu-waktu di luar sana.
Beberapa anak muncul dari teras bangunan tua asrama menuju halaman yang berselimutkan salju. Samar-samar kulihat mereka melambaikan tangan padaku.
“Ada apa?” tanyaku setelah kubuka jendela sambil kukeluarkan kepalaku.
“Ayolah, kemari!” ajak Fejsal.
Lantas segera saja aku menuruni tangga menuju halaman.
“Sudah lama kita tidak bermain-main dengan salju,” kata Raif, yang kemudian langsung mengambil salju segenggaman tangannya. “Rasakan ini!” dilemparkannya salju ke arahku.
Aku menatap mereka sesaat, hanya beberapa detik, hingga sekumpulan salju nan dingin menghantam wajahku. Kudengar tawa mereka meledak seketika. Aku tak tinggal diam, segera saja kubalas perbuatan mereka. Satu lemparan saljuku tepat mengenai Zlatan. Akhirnya lempar melempar salju terjadi di antar kami. Sudah lama kami tak bermain seperti ini. Banyak kesempatan yang telah terenggut akibat perang yang melanda negeri ini.
“Bagaimana kalau kita berlomba melempar bola salju yang paling jauh?” Zlatan menantang.
Tak perlu waktu lama, Fejsal, Raif dan aku sepakat.
Satu persatu dari kami melempar bola salju sejauh mungkin. Sampai detik ini Raif masih unggul, sementara Fejsal harus dipastikan kalah. Zlatan mengambil ancang-ancang sebelum melempar. Satu pekikan suaranya menjadi tanda terlemparnya bola salju dari tangannya. Kupicingkan mataku untuk melihat sejauh mana salju itu akan mendarat.
Bola salju melambung menuju atap asrama di seberang, tapi saat mendarat kudengar suara ledakan yang sangat keras. Bukan karena bola salju itu menghantam atap. Ada bola besar lain yang menghantam atap asrama kami. Meriam baru saja ditembakkan dan membuat atap rusak.
“KITA DISERANG!”
Aku panik saat melihat tentara Serbia mulai memasuki halaman asrama. Bersenjatakan senapan-senapan mereka menyerbu bangunan-bangunan asrama. Beberapa di antara mereka tampak menaiki tangga.
Tak ada waktu lagi, aku menyelinap di celah antara bangunan tua asramaku. Kakiku gemetar, jantungku berdegup kencang, keringat dingin meleleh di keningku membasahi pipi. Ya Allah, apa yang akan terjadi? Aku ketakutan.
Suara ledakan dan gempuran meriam kembali terdengar. Teriakan-teriakan menggema di semua sudut asrama. Apa yang terjadi pada teman-temanku? Apakah kami memang pantas diperlakukan seperti ini di tanah, di negeri kami sendiri.
Aku mematung di tempatku bersembunyi dengan segala suara mengerikan yang bertalu-talu di telingaku. Sekilas kulihat sepatu-sepatu berkelebat ke sana kemari. Sepatu-sepatu para tentara! Aku pun semakin ketakutan, khawatir mereka menemukanku lalu menangkapku. Dalam persembunyianku aku terus berdoa di antara rasa bersalah akibat ulahku sebelum sekolah di asrama ini yang menyergapku.
Aku ingin menunjukan pada orang tuaku bahwa aku sudah bukan anak yang bandel lagi. Dulu aku tak bisa mengeja huruf-huruf Al Quran untuk kubaca. Tapi kini aku sudah bisa membedakan antara idhar dan ikhfa. Aku sudah bisa membaca Al Quran sekarang.
Aku meringkuk di sana hingga malam tiba, tak tahu apakah teman-temanku selamat atau tidak.
***
Hari itu Allah melindungiku. Entah bagaimana aku bisa sampai di pengungsian dengan selamat. Aku hanya berlari saat menjelang tengah malam, melewati aleja yang sangat mencekam, hingga beberapa orang membimbingku untuk berteduh di sebuah bangunan peninggalan kekaisaran ottoman yang masih tersisa.
Dan hari ini, kami telah menumpang bus menuju perbatasan. Kami kembali naik ke bus setelah menunaikan sholat Magrib.
Samar-samar kudengar pembicaraan beberapa pemuda di belakangku.
“Setelah ini aku ingin ke Madrid, atau mungkin Sevilla, Spanyol. Aku ingin melihat jejak-jejak keemasan Islam di Andalusia,” kata seorang pemuda yang tampaknya beberapa tahun lebih tua dariku.
“Ah, aku ingin ke Prancis saja. Di sana banyak muslim dari Afrika utara kurasa. Dan di sana pasti lebih aman.”
Mereka sudah punya rencana setelah ini akan ke mana. Sementara aku? Aku tak tahu harus ke mana. Mungkin aku akan ke Italia. Aku suka sekali sepak bola. Sepertinya Italia negeri yang bagus untuk berlatih sepak bola. Atau mungkin juga ke Jerman, sepak bolanya juga bagus.
Tapi aku tak sepenuhnya yakin dengan ide-ideku itu. Andai saja negeri ini masih aman. Aku bisa bermain sepak bola dengan nyaman di sini. Tahukah kalian, Yugoslavia adalah tim besar di dunia sebelum kami pecah.
Terlalu banyak kenangan yang pernah kulalui di negeri ini. Apakah aku harus berlindung ke Negara lain? Dan pergi dari negeri ini?
Sekilas kulihat seorang bocah kecil yang duduk di seberang kursiku bersama seorang pria tua.
“Deda, kita akan ke mana?”
“Ke tempat yang sangat indah. Kamu bisa bermain sesukamu di sana.”
“Bukankah aku bisa bermain sesukaku di halaman rumah kita?” tanya bocah laki-laki itu polos.
Kakek tua itu tak menjawab.
“Deda, ayo kita kembali ke rumah. Di sana tempat bermain terbaikku. Aku tak ingin bermain di tempat lain.”
“Kita tak bisa.”
“Kalau Deda takut tentara-tentara itu, aku akan melindungi Deda.”
Sesuatu seakan-akan menusuk jangtungku, ketika mendengar kata-kata bocah kecil itu. Bahkan, bocah kecil itu pun tidak takut sama sekali untuk tetap tinggal di sini. Mungkin dia belum sepenuhnya mengerti, tapi aku malu karena aku sendiri tak tahu di mana keluargaku sekarang, Teta, Mama, Deda, Baka?
Aku malah sudah duduk di atas bus menuju Zagreb. Sementara mereka, mungkin, sedang bersembunyi di antara puing-puing bangunan Sarajevo kami, dengan senapan-senapan yang tengah mengincar mereka.
Seketika aku berdiri dan mendekati sopir bus yang membawaku.
“Pak, Hentikan busnya.”
“Hah?”
“Tolong, hentikan busnya.”
Sesaat bus direm hingga berhenti. Aku melompat dari bus dan berjalan menjauh.
“Hei, Nak, mau ke mana kamu?” panggil sopir tadi.
“Saya akan kembali ke Sarajevo.”
“Jangan! Terlalu bahaya, Nak!”
“Saya yakin Allah akan melindungi saya,” balasku, lalu berlari menjejaki salju putih yang tebal.
Samar-samar aku mendengar teriakan beberapa penumpang bus yang lain. Namun aku terus berlari menuju timur.
Aku tak akan pergi dari tanah tercinta ini. Aku akan tetap di sini hingga aku tua nanti. Aku akan memakai kaos berbendera Bosnia saat aku dewasa, dan membawa Bosnia menjadi juara sepak bola.
Masih banyak orang yang kucintai dan menyayangiku di sana, di Sarajevo. Bagaimana mungkin aku akan pergi dari negeri ini? Aku harus menemukan mereka dan melindungi mereka. Aku tak boleh takut, aku harus berani, karena ini adalah negeriku dan mereka adalah keluargaku. Dan aku akan menyaksikan musim dingin-musim dingin paling indah dari tempat manapun di kota kelahiranku. Aku yakin itu.
Malam telah tiba saat aku terus berlari menuju timur. Ya Allah, lindungilah kami di negeri tercinta ini. Dalam langkah-langkah menapaki salju dan menembus malam, doaku terus terucap.
*Keterangan:
Aleja :Jalan
Tata :Ayah
Mama :Ibu
Deda :Kakek
Baka :Nenek
Chetnik :Tentara sipil Serbia
Halaman: 1 |
18 Komentar :
Alhamdulillah, seusai Magrib tadi buka annida udah ada cerpenku. Thanks, Nida :)
Semoga bisa dinikmati para pembaca
Sempet kaget "Kok halaman 2nya gak ada?" sanking terbius dengan kata demi kata yg dirangkai penulis :)
subhanallah ,, penulis yang cerdas ,,
bangga nih jadi temanya sang penulis ,,
asemangat Fian ,,, mumtaz
menulislah ,,, karena kecerdasan akan terlihat dari rangkaian kata ,,,
menulislah ,,, karena kedalaman paham akan tercermin dari rapihnya kalimat ,,,
moga manfaat
subhanallah....bgaimnpun keadaan ngeri kita,pnuh korupsilah,ini,itu....tp aq ttp tak akn mningglknmu,,,ibu pertiwiku..
krna d tngan kita masa depan negri ini ada..
semangat bang alfian..
Subhanallah... penulis mampu membuat pembaca larut dalam tulisannya, seakan-akan mengalaminya. . lokalitas karyanya juga sangat terasa. Tema yg diangkat pun sangat menarik. 4 jempol untuk penulis...
great boi!!!!!nice write.... gag salah kamu jadi juara lomba b.indo waktu SD... hahaha
kelihatan kalau penulisnya banyak wawasan.kalau nulis cerpen kayak gini apa harus ke negeri itu dulu ya?
Terima kasih, semua :) sudah membaca cerpen ini.
@Ayu ss: Dengan banyak riset (membaca dan mengikuti perkembangan sejarahnya) kita bisa kok nulis setting yang belum pernah kita kunjungi :)
Isi Komentar :




