GENK PENGACAU KELAS (GPK) 7
14 Juni 2011 | Rubrik: Serial - Dibaca: 8542 kali
Alhamdulillah, GPK datang lagi dengan sekuel terbaru nih Sob... pastinya berbeda tema dengan sebelumnya, tapi tetap bisa menimba ilmu menulis dari serial yang satu ini, ikutin terus yaa tiap serinya, hanya di annida-online.com pasti!
Syamsa Hawa
Liburan mati gaya!
Amel suntuk berat meskipun di hadapannya sedang berlangsung konser Super Junior yang spektakuler, lagu “Bonamana” mulai memasuki klimaksnya, Dong Hae dan Eun Hyuk sedang beraksi dengan lompatan dan tarian yang biasanya membuat Amel teriak gak karu-karuan kayak orang kesetanan.
Apalagi aksi tarian tersebut ditambah dengan suara desahan dari cowok-cowok kiyut asal Korea itu yang bisa bikin cewek ngiler sambil gigit jari, “Ssah... ssah... ssah”, persis suara penghulu usai ijab-kabul.
Tapi kali ini beda, menonton adegan tersebut, Amel malah menguap super lebar. Mungkin karena konser Suju ini sudah di-replay 39 kali di netbooknya, membuat Amel akhirnya jenuh juga.
Liburan mau ngapain lagi yaa? Amel pusing sendiri.
Jalan-jalan ke mall, udah. Uang simpanannya sampai habis buat karaoke-an dan berburu pernak-pernik lucu yang begitu sudah dibawa pulang, baru ia sadari kalau barang yang dibelinya itu gak penting, gak meaning, dan malah bikin pening karena tabungannya ludes.
Nonton film juga udah. Mulai dari film bioskop sampai film yang gak ada di bioskop. Saking hebohnya nonton sepanjang hari non-stop, DVD Player bapaknya berasap, kemudian wassalam!
Amel harus rela dengar ceramah bapaknya yang menasehati ia agar jangan sering-sering menonton, Amel diminta untuk menjadi anak berguna bagi nusa bangsa, serta cinta tanah air, meski tanah ngontrak, air beli. Pokoknya, Pak Amri memang te-o-pe-be-ge-te dah untuk urusan ceramah, karena sudah terlatih sebagai kepala sekolah.
Sejak diberlakukan larangan menonton itulah, Amel malah beralih dari DVD Player ke Youtube, ia jadi rajin mendownload lagu-lagu Korea—yang anehnya—mampu ia hapal liriknya dalam sehari semalam saja. Bandingkan dengan kemampuannya menghapal surat al-‘Alaq yang sudah lewat sebulan pun masih banyak keliru di tajwid!
Puncaknya, hari ini ia merasa boring tingkat tinggi, sudah pada level bingung mau ngapain, dan males ngapa-ngapain. Ini adalah penyakit akut yang sering mewabah kala liburan tiba.
Kejenuhan itu terus menggerayangi Amel, sampai akhirnya sebuah sms masuk ke Blackberry jadi-jadiannya pada pukul 11.20, dan kemudian membuat Amel terlonjak kaget.
“Oh, my God!” pekiknya tertahan. Mukanya merah padam, dan senyum lebar bersemu di pipinya.
Isi smsnya sih biasa aja, bukan pengumuman bahwa Amel menang undian, atau sms penipuan sejenisnya:
“Amel, bisa kita ketemuan sore ini di markas?”
Cuma itu saja, diakhiri tanda tanya, tanpa ada embel-embel “plis balas secepatnya” atau “tiada kesan tanpa kehadiranmu”.
Yang membuat Amel surprise memang bukan isi smsnya, melainkan pengirimnya! Sms itu dikirim oleh Edo! Edo ketua GPK boo!
Edo minta ketemuan sama Amel? Kyaaa! Kejadian langka yang mungkin hanya bisa ditemui 75-76 tahun sekali kayak Komet Halley!
Amel serta-merta berlari ke arah lemari, melihat koleksi bajunya, jangan sampai ia ketemuan sama Edo dengan memakai baju seragam SMA seperti biasanya, gak banget! Setelah mematut diri dengan sebelas model baju berbeda. Amel baru sadar bahwa ia belum membalas sms Edo tadi.
Buru-buru ia send jawaban yang disisipi icon smile itu.
“Buat Edo, apapun bisa:)”
Jawaban sms yang agak-agak menjijaykan memang. Apa boleh buat, orang sedang kasmaran lagaknya memang beda.
***
Edo melihat kembali email itu, yang sudah ia print di atas selembar kertas buram, email dari Zainab Fathiya. Baginya, email itu sungguh membawa angin segar, ia sudah tak sabar untuk memenuhi apa yang diinstruksikan Fathiya di dalamnya.
Sebenarnya, nama “Zainab Fathiya” sendiri bagi Edo sudah membawa perasaan yang spesial. Semacam ada energi magis yang membuatnya berdebar-debar tiap kali email dari Fathiya datang, itu sudah terjadi beberapa bulan terakhir.
Diawali dari tiga bulan setelah Fathiya tidak lagi mengajar di SMA terbuka, gadis itu menemui Edo dan menyatakan bahwa novel enam puluh halamannya lolos seleksi dan akan dimuat di rubrik cerita bersambung majalah remaja terkemuka di Indonesia.
“Do, kamu tidak akan tahu seberapa besar manfaat dari tulisanmu, sampai orang lain membacanya. Karyamu itu bagus sekali loh!” ungkap Zainab Fathiya, tulus.
“Kalau kamu ada naskah lainnya, coba deh kirim ke saya! Alhamdulillah... saya baru saja diterima jadi redaktur freelance majalah ini. Tulisan tangan pun tak apa-apa.”
Sejak itu, Edo seperti terhipnotis untuk terus-menerus menulis dan mengirimkannya melalui Fathiya. Karena saat itu ia tidak punya HP, jawaban mengenai kelayakan naskahnya biasa dikirim oleh Fathiya melalui email, itulah sebabnya setiap kali email dari Fathiya datang, Edo selalu merasa jantungnya berdebar-debar. Harap-harap cemas. Apakah naskahnya akan dimuat, atau diminta revisi, atau malah ditolak.
Syukurlah begitu honor dari naskah cerbungnya sudah dibayar untuk 3 edisi, Edo mampu membeli HP sendiri, meskipun second, tidak berkamera dan tidak bisa internetan, tapi sangat menolongnya dalam berkomunikasi. Juga membuatnya bangga karena kini ia sudah bisa memenuhi sendiri kebutuhan hariannya. Tidak perlu lagi mengandalkan ibunya.
Dan tadi malam, Fathiya meng-sms tawaran yang amat menggiurkan baginya, yang rasanya tak sabar untuk segera ia penuhi.
***
22 Komentar :
mantaaaaaaaaaap... ceritanya.... gw bangeut... GPK Maju teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuus...
,,wah jd penasaran kisah slanjutnya ky gmana,, ????
,,,ayo nid segera terbitin lagii,, GPK ke 8-ny,,,
serialnya bagus.... dari awal baca udah bikin penasaran apa sih yang bakal dilakukan bu guru Fathiya untuk mengatasi 'kekacauan' yg ada di kelas barunya itu & akhirnya sukses, terutama mengatasi GPK..! selain itu, di dalam ceritanya banyak pengetahuan yang dapat dipelajari tentang dunia kepenulisan yang diselipkan (terutama untuk yang lagi belajar menulis).
selamat ya... serialnya keren... aku suka... ayo, katanya mau ada lanjutannya..?? ditunggu ya, NIDA…^^
waaaahhhh...kereeeennn......jd gk sabar nunggu episod selanjutnya.....
dari GPK 1 sampai GPK 7 ceritanya begitu mengalir dengan bahasa yang ringan dan bumbu ngocolnya.... bikin ketagihan.....hehe
subhanallah, yang nulis jago banget... seru lho ceritanya.... ada lanjutanya kan? please... penasaran nih... alin tunggu ya?
Isi Komentar :




