GENK PENGACAU KELAS 6
15 Mei 2011 | Rubrik: Serial - Dibaca: 3787 kali
Penulis: Syamsa Hawa
Anis tersenyum-senyum. Akhirnya dia mendapatkan copy-an makalah yang dia perlukan dari anak kosan sebelah. Dari raut mukanya, jelas sekali Anis sedang girang bukan kepalang, persis bocah SD yang menemukan koper penuh dengan uang seratus ribuan, kalau tu duit dibuat beli cendol, sudah pasti bisa membuat satu sekolahan banjir.
Asyiik… tinggal diketik ulang dang anti nama jadi namaku aja, nggak usah repot-repot mikir lagi, hehe, dosen juga nggak bakal “ngeh” kalau isi makalahnya sama dengan anak kelas lain, emangnya diperiksa satu-satu. Anis bergumam dalam hati sambil tetap cengngesan . lega rasanya kalau tugas membuat makalah yang rumit sudah selesai.
Begitu langkah Anis sampai di depan pintu kamar kosannya, air mukanya tiba-tiba berubah, alis matanya langsung berkernyit.
“Fathiya, apaan tuh?” serunya seketika.
Dalam kamar itu, Zainab Fathiya sedang sedang duduk selonjoran di lantai, di sampingnya menumpuk beberapa buku tulis. Salah satunya sedang dibaca Fathiya sambil cekikikan. Ekspresi wajahnya kelihatan jauh lebih girang daripada Anis barusan. Persis kayak bocah TK menemukan satu truk penuh duit seratus ribuan.
“Wooy, Thiya! Apaan sih ini?” Anis sampai harus mengulang pertanyaannya sambil mendekati tumpukan buku tulis itu, namun tampaknya Fathiya belum menyadari kehadirannya.
“Heh!” Anis menepuk bahu gadis itu, membuatnya tersentak.
“Oh… eh Anis, wa’alaikum salam.” Sahut Fathiya, tersenyum sekilas pada teman sekamarnya itu, lalu kembali melanjutkan bacaannya.
Anis dongkol, siapa juga yang ngucapin salam?
Anis mengambil buku di tangan Fathiya itu, lalu dipaksanya Fathiya menjawab.
“Apaan sih ini?”
Fathiya akhirnya baru benar-benar memperhatikan pertanyaan Anis. Gadis itu pun tersenyum lebar, “Ooh… init uh novel-novel buatan muridku.” Tangannya menepuk-nepuk tumpukan buku tulis itu dengan bangga.
“Murid kamu yang di SMA terbuka?”
“Ho-oh.”
Seakan tak percaya, Anis mengambil dan membuka-buka buku di tumpukan itu satu per satu. Ada yang tulisannya keriting-keriting kayak cabe, ada yang rapii banget, ada juga yang kayak tulisan dokter, nyaris tidak bisa dibaca kecuali oleh yang ahlinya, tapi yang jelas emang kesemua buku tulis itu berisikan cerita, novel bertuliskan tangan! Wow…
“Semua anak sekelas pada ngumpulin?” Anis membelalak.
“Nggak juga sih. Ada dua orang yang nggak nulis sama sekali, tapi kamu bisa tebak nggak apa yang ngebuat aku seneng banget?” Fathiya mendekatkan wajahnya ke arah Anis sambil matanya berbinar-binar penuh arti.
Anis menyipitkan mata, “Jangan bilang kalau anak-anak GPK pada ngumpulin tugas novel ini!”
“Iya benerr… ini aku lagi baca tulisan Wahyu, lucu banget deh ceritanya.” Fathiya tersenyum super lebar, selebar samudera Hindia, sambil memamerkan buku tulis dengan huruf paku yang super susah dibaca.
Anis meneguk ludah. Tiba-tiba ada perasaan aneh merayapi hatinya saat tak sengaja pandangan matanya tertumbuk pada makalah pinjaman yang mau disalin ulang itu. Ya ampun… gumam hatinya tak percaya. GPK aja bisa ngerjain tugas dengan tulisan sendiri, masa’ iya aku…
Anis jadi malu sendiri.
Sementara Anis termangu dengan pikirannya, Fathiya mengingat lagi kejadian kurang lebih sebulan lalu, setelah dia meminta anak-anak mengumpulkan tulisan mereka biarpun baru setengah jadi. Waktu itu Fathiya kaget berat begitu melihat ada buku Amel ikut dikumpulkan…
*
“Wah, Amel! Saya tidak menyangka kamu bisa menulis sebagus ini. Cerita yang kamu tulis ini seperti catatan harian yang hidup, penuh penjiwaan, membuat pembaca turut merasakan kebimbangan yang kamu tuliskan.”
Amel kaget setengah mati mendengar pujian Fathiya di depan kelas yang dilayangkan untuk dirinya. Tulisan gue? Tulisan apa ya? Amel merasa pujian itu salah alamat, tapi pas dia melihat buku catatan bahasa Indonesianya ada di tangan Fathiya, barulah ia melotot dan serta-merta mendengus ke arah Tiwi.
“Wi, elu yang ngumpulin buku catatan gue ya?” tanyanya bernada mengancam. Tiwi mencibir kemudian berdiri sambil mengacungkan tangan.
“Bu Thiya, Amel curang. Selama ini dia berlagak nggak suka bahasa Indonesia, nggak taunya diem-diem ikut ngerjain tugas novel. Untung saya keburu nemuin buku catatan itu, kalau nggak… bisa-bisa cuma saya dan si Wahyu yang nggak dapat nilai bahasa di raport. Pokoknya saya sama Wahyu minta perpanjangan waktu supaya bisa ikut ngumpulin tugas.” Tiwi dengan gagah berani melaporkan pengkhianatan Amel terhadap GPK ke seluruh isi kelas.
Gigi Amel menggemerutuk. Dasar o’on! Itu bukan novel buat tugas bahasa tauk. Itu cuma catatan curhat gue tentang Edo. Gerutu hati Amel, panas dan gemas akan keluguan dan kedunguan partner GPK-nya itu.
Duh gimana nih, untungnya gue gak pake nama asli untuk tokoh-tokohnya, kalau nggak bisa mokal berat gue! Amel terlihat panik.
7 Komentar :
demennn banget sama cerita seru bin kocak plus bernilai pluss, bikin nambah wawasan, nambah keimanan. aku yang tadinya mengalami sindrom kendur semangat, jadi kencengg siap tancap gas hehe.. semangat menulis!
Ass. Nid. Sayang ya nida fokusnya hanya kedunia literasi, paahal dunia remaja itu kan luas dan ga sekecil daun kelor. Coba dong majalah Nida bahas yg lagi booming juga dikalangan remaja trus bagaimana cara menyikapinya secara islami. Jadi yang baca banyak nid...Misalnya bahas JB trus dalam islam sebaiknya gimana menyikapi "Bieber Fever" karena banyak yg suka dari kalangan remaja bahkan akhwat juga ada yang suka. Nah sekarang lagi heboh tentang Kimchi, Fenomena Boyband, Korea dll. Bahas apa aja, ga harus dunia literasi aja kan?! Mode, film, apa kek yg lagi booming. Oh ya, ada yg mau bikin boyband muslim ga? Ladang dakwah yang bagus juga lho! Cuma sekedar usul sih..Terakhir, semoga Nida makin eksis dan jadi lebih baik dari hari ke hari. Amin
Assalamu a'laikum...
akhirnya aku menemukanmu kembali annida ku..
hehe...
emang kyknya agak jadul (ember...) Annida kan dah lama jd Annida online selepas dr majalah, tapi baru ini, bisa tercapai nemui Annida lagi, maklum, ane bertempat di daerah yg gk mudah connect internet, tpi utn seterusnya, ane gk akan melepaskn Annida, lgi. akanku pantau teruss keadaan Isi mu...
hehe...
seneeeeeng banget deh...
oya Nid, bleh gk klo cerpen dr Annida dimuat di buletin kampus. pasti dicantumkan penulis dan sumbernya koq. eeem, boleh ya!
karna gk semua org kan niat utk buka Annida online, pdhal byk cerita yg bisa bermanfaat...!
annida
Terimakasih Sobat Nida atas komentar, saran, kritik, semuanya ditampung. Bagi Sobat nida yang mau menaruh cerita-cerita Annida di buletin kampus atau sekolah, silakan saja, asala jangan lupa cantumkan annida-online.com nya, oke ^_^
assalamu'alaikum.wr.wb..salam kenal nid..saya anak baru yang ingin coba2 ikut mengisi ruang kosong komentar mu. sya sangat bernafsu banget jika liat suatu bacaan lho(yang baik2 saja tau..yang bikin hati bahagia krn jadi ingat Allah terus jadi jgn macam2 ya) and apalagi yang gratis ehem..so..dengan adanya nida-online ini saya sangat sukaaa..(huruf a nya harus 3 ya!!!) jadi saya mau ngucapin jazakillah..terimakasih..thankyou..n gamsamida...buat Annida
nid G P K dunkkz yg edisi k 8 di posting pengen tau niii kelanjtnx pliiiiisssss
Isi Komentar :




