GENK PENGACAU KELAS (GPK) 5
12 Mei 2011 | Rubrik: Serial - Dibaca: 3016 kali
BAHASA PUNYA GAYA
Februari kelabu.
Lagi-lagi hujan.
Amel memandangi langit yang gelap dari balik jendela kamarnya. Gadis berambut sebahu itu saat ini sedang bengong di atas kursi meja belajar, menatap ke arah luar seolah sedang memanggil inspirasi datang. Di hadapannya, sebuah kertas merah jambu dengan gambar love-love masih terlihat kosong tanpa segurat pun goresan tinta.
Sudah beberapa kali Amel menggigiti bibir bawahnya, ragu.
Konyol gak sih kalo zaman begini masih nulis surat cinta?
Ia mengetuk-ngetukkan jari ke pinggiran meja belajarnya.
Tapi kalo gue gak nyatain, gimana dia tau kalo gue suka dia!
Jelas sekali dalam batinnya sedang berkecamuk kebimbangan.
“Aaakh!” Amel meremas-remas kertas di hadapannya, kemudian melemparnya dengan geram keluar jendela. Membiarkan kertas merah jambu itu dilumat rintik hujan.
Gadis berkulit putih itu akhirnya memutuskan untuk membuka buku catatan bahasa Indonesianya. Bukan, tentu saja bukan untuk melihat catatan pelajaran. Sejak Bu Desi digantikan ngajarnya oleh Fathiya, nyaris tidak ada catatan pelajaran yang diberikan. Biasanya Fathiya hanya menyebarkan fotocopy materi yang dibahasnya karena waktunya di kelas sangat sedikit.
Amel mengambil pensil mekaniknya, ia menuliskan sesuatu di buku catatannya itu. Seperti yang sudah ia lakukan sejak sebulan lalu, diam-diam ia memang menulis kisah cinta, dengan tokoh dan kejadian nyata, mulai dari saat bertemu sampai sekarang
Siang ini tulisan Amel itu sudah hampir mencapai lembar ke-30.
Hari ini gue sedih bange…
Belum selesai menulis, tiba-tiba Amel teringat pada materi yang diberikan oleh Fathiya kemarin siang.
“Ada yang mau jawab? Kira-kira kenapa sih orang suka pakai aksesoris? Misalnya topi, kacamata hitam, bando, atau yang pakai jilbab juga suka banget gonta-ganti warna jilbab, pakai jilbab dengan motif atau model beda-beda, sebenarnya buat apa itu semua?” tanya Fathiya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Sebagian besar anak menerka-nerka maksud Fathiya menanyakan hal ini, jangan-jangan bu Thiya pengen ikutan tren mode?
“Yaa biar gak bosen Bu!” jawab seorang cewek berambut bondol yang duduk di pojokan depan.
“Buat gaya kalee…” timpal yang lain.
“Nah, gaya itu sendiri tujuan sebenarnya biar apa sih? Kenapa harus gaya?” Fathiya melempar pertanyaan lagi, kali ini dengan mata yang lebih berbinar karena semangat.
“Kan udah saya jawab Bu… supaya gak bosen!” cewek bondol yang tadi menjawab kini terlihat sewot bin ngotot. Di tangannya terlihat aksesoris gelang berjejer rapi. Di depan rambut bondolnya juga terpasang sebuah bando dengan hiasan bunga-bunga. Tampaknya dia memang penggemar berat aksesoris.
“Bisa juga biar keliatan lebih menarik. Kan kalo pake’ aksesoris bisa keliatan lebih cling tuh!” kali ini Wahyu ikut sumbang suara.
Fathiya tersenyum super lebar.
“Terima kasih! Semua jawaban yang kalian berikan benar semua. Tujuan kita menambah aksesoris pada diri kita supaya kita kelihatan lebih bergaya, lebih menarik, dan agar kita sendiri tidak bosan. Sama juga dengan bahasa, jangan salah… bahasa pun punya gaya loh! Namanya gaya bahasa alias Majas. Tujuannya sama…”
Beberapa anak bisik-bisik. “Gue gak ngerti deh! Bahasa juga punya gaya? Gimana caranya? Dikasih bando atau pita-pita gitu?”
Fathiya mendengar percakapan polos itu, tapi tanpa berkata apa pun ia malah menuliskan sesuatu di papan tulis.
HIPERBOLA
PERSONIFIKASI
PENGANDAIAN
LITOTES
IRONI
METAFORA
METONIMIA
TOTEM PROPARTE
PARS PROTOTO
“Nah, beberapa nama yang saya tulis ini merupakan beberapa aksesoris yang bisa dipakai untuk tulisan fiksi kita! Saya coba perkenalkan satu per satu pada kalian. Tolong sebarkan ini dulu!”
Fathiya membagikan lembaran fotokopi berisi materi. Setelah itu ia mondar-mandir di depan kelas sambil memberi penjelasan.
“Hiperbola adalah gaya bahasa yang melebih-lebihkan sesuatu. Misalnya, kalian bermaksud menulis ‘dia menangis’, kalimat itu kan biasa banget, nah… supaya lebih menarik, kalian bisa memakai gaya hiperbola dengan menulis ‘air matanya membanjir’ atau ‘matanya membengkak segede bola sepak karena kebanyakan menangis’, pokoknya tuliskanlah hal yang berlebih-lebihan kalau mau menggunakan gaya Hiperbola!”
Begitu mendengar penjelasan Fathiya itu, bahkan Amel yang paling benci pelajaran bahasa Indonesia pun jadi tertarik untuk ikut menyimak.
“Nah, kalau personifikasi lain lagi. Dari namanya saja sudah terlihat, ‘person’ itu berarti orang, jadi maksudnya gaya bahasa ini membuat benda mati seolah bisa melakukan hal yang biasa dikerjakan oleh orang atau manusia.”
“Contohnya, Bu?”
“Misalnya begini… ‘lukisan itu memanggilku untuk mendekat’, padahal di dunia nyata lukisan kan tidak bisa memanggil. Atau… ‘mata penaku menari-nari di atas kertas’. Gaya bahasa seperti ini bukankah terasa lebih menarik untuk dibaca?”
2 Komentar :
iya ya,jd inget jaman annida msh majalah fisik.dah dua tahun ya nie cerita,lupa" ingat, inget(mbil megang jidat) pas lg bahas gaya bhsa hiperbola n personifikasi
suka bacany,coz nambah wawasan tentang tata cara penulisan(tp kl dah nyoba nulis g pernah diselesain ceritanya,he)
Isi Komentar :




