SAMPAH MEMBAWA BERKAH

Penulis: Muhammad Saleh

           

Sari masih terpaku. Berdiri di atas lanting bambu. Di ujungnya seutas tali tambang mengikat kuat, yang ditambatkan pada sebatang pohon kelapa. Tujuannya tentu untuk menahan laju arus air dari hulu ke hilir. Ya, lanting bambu itu yang menjadi tempat kegiatan warga kampungnya. Mandi, mencuci, maupun buang air besar.

            Ekor matanya tampak sibuk memperhatikan timbunan sampah yang hanyut terbawa air. Airnya bergulung-gulung bercampur dengan lumpur. Sehingga menjadikan airnya berwarna kuning kecoklatan. Itulah pemandangan yang selalu dia lihat, sehabis hujan lebat mengguyur kampungnya. Apalagi sekarang musim hujan, tentu pemandangan itu lebih sering dilihatnya.

            Sari berjongkok, mengambil air dengan gayung yang sedari tadi dipegangnya. Ia tatap air itu, kemudian menggeleng. Sangat kotor, gumamnya. Sari jadi enggan, untuk meneruskan niatnya mandi sore ini. Bukannya bersih, malah bisa gatal-gatal, pikirnya.

            Sari kembali berdiri, kali ini matanya tertuju pada sebuah jembatan. Yang sering disebut oleh warga kampungnya Jambatan Ba ayun. Karena memang jembatan itu hanya terbuat dari seutas tali besi yang dibentang sampai ke seberang. Apabila ada orang lewat, maka akan bergoyang.

            Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan tiga bocah sedang berdiri di tengah jembatan. Mereka sedang sibuk mengais sampah plastik yang hanyut dengan bilah kayu yang di ujungnya dipasang jaring yang dibentuk bulat dengan sebilah kawat. Tak tampak ketakutan dari wajah mereka, kalau terjatuh. Toh, mereka juga pandai berenang.

            Sari sangat mengenal bocah-bocah itu. Yang agak tinggi, berdiri paling kiri adalah Wahyu, di sebelahnya si rambut keriting adalah Dika. Dan satunya lagi, merupakan tetangga rumahnya, Arif.

Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 |