Untitled Document

Kategori : Cerpen

Dibaca : 5738 Kali

SAMPAH MEMBAWA BERKAH

Penulis: Muhammad Saleh

           

Sari masih terpaku. Berdiri di atas lanting bambu. Di ujungnya seutas tali tambang mengikat kuat, yang ditambatkan pada sebatang pohon kelapa. Tujuannya tentu untuk menahan laju arus air dari hulu ke hilir. Ya, lanting bambu itu yang menjadi tempat kegiatan warga kampungnya. Mandi, mencuci, maupun buang air besar.

            Ekor matanya tampak sibuk memperhatikan timbunan sampah yang hanyut terbawa air. Airnya bergulung-gulung bercampur dengan lumpur. Sehingga menjadikan airnya berwarna kuning kecoklatan. Itulah pemandangan yang selalu dia lihat, sehabis hujan lebat mengguyur kampungnya. Apalagi sekarang musim hujan, tentu pemandangan itu lebih sering dilihatnya.

            Sari berjongkok, mengambil air dengan gayung yang sedari tadi dipegangnya. Ia tatap air itu, kemudian menggeleng. Sangat kotor, gumamnya. Sari jadi enggan, untuk meneruskan niatnya mandi sore ini. Bukannya bersih, malah bisa gatal-gatal, pikirnya.

            Sari kembali berdiri, kali ini matanya tertuju pada sebuah jembatan. Yang sering disebut oleh warga kampungnya Jambatan Ba ayun. Karena memang jembatan itu hanya terbuat dari seutas tali besi yang dibentang sampai ke seberang. Apabila ada orang lewat, maka akan bergoyang.

            Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan tiga bocah sedang berdiri di tengah jembatan. Mereka sedang sibuk mengais sampah plastik yang hanyut dengan bilah kayu yang di ujungnya dipasang jaring yang dibentuk bulat dengan sebilah kawat. Tak tampak ketakutan dari wajah mereka, kalau terjatuh. Toh, mereka juga pandai berenang.

            Sari sangat mengenal bocah-bocah itu. Yang agak tinggi, berdiri paling kiri adalah Wahyu, di sebelahnya si rambut keriting adalah Dika. Dan satunya lagi, merupakan tetangga rumahnya, Arif.

            Arif tampak melambai-lambaikan tangannya, saat menyadari Sari memperhatikannya dari ujung lanting bambu. Sari hanya membalas dengan senyuman. Dalam hatinya, ia merasa kasihan dengan bocah-bocah itu. Masih kecil, harus menjadi pemulung untuk menambah uang jajan mereka, bahkan juga untuk bayar iuran sekolah. Orang tua mereka tak mungkin dapat memberikan uang jajan yang banyak, terkadang malah tidak ada. Toh, untuk kebutuhan hidup saja, orang tua mereka masih kekurangan.

            Sari putuskan untuk kembali ke rumahnya. Semoga masih ada air untuknya mandi, walau hanya untuk mengelap tubuh saja, harapnya dalam hati. Begitu sampai di rumah, ibunya langsung menyapa

            “Lho, kok, nggak jadi mandi?” tanya ibunya sambil merapikan anyaman tikar pandan yang baru selesai dianyam. Ibunya salah satu pengrajin anyaman tikar pandan di kampungnya. Hasilnya lumayan untuk biaya hidup.

            “Nggak, Bu. Airnya keruh, banyak sampah lagi.”

            Ibunya mengangguk mengerti. Beliau tahu, Sari begitu menjaga kesehatan tubuhnya. Walaupun orang kampung, kesehatan tetap yang utama untuk dijaga.

            “Makanya, kamu himbau warga kampung kita, untuk tidak membuang sampah ke sungai lagi…” lanjut ibunya.

            Apa yang dikatakan ibunya benar. Warga kampungnya sudah terbiasa membuang sampah ke sungai. Mungkin sudah bisa di sebut tradisi, sebab prilaku itu sudah ada puluhan tahun yang lalu, saat Sari masih kecil. Bahkan ada yang bilang, kurang afdol kalau tak buang sampah ke sungai. Pikiran yang keliru. Sampah hanya menambah kekumuhan sungai itu sendiri. Sehingga banyak warga yang terjangkit  penyakit kulit saat selesai mandi di sungai.

            Sari bimbang. Bagaimana ia menyikapi masalah ini. Ia ingin warga kampungnya terbiasa hidup sehat. Tetapi, di sisi lain, ia kasihan melihat bocah-bocah itu, yang mengais rezeki dari sampah yang hanyut di air. Kalau tak ada lagi sampah yang hanyut, dari mana bocah-bocah itu mendapatkan rupiah. Ah, Sari benar-benar pusing. Ia harus menemukan cara, agar tak ada yang merasa dirugikan.

***

            Ketika Sari mau berangkat kerja. Ia berpapasan dengan Arif yang mau berangkat ke sekolah.

            “Pagi, Kak Sari,” sapa Arif ramah dengan sejuta senyum.

            “Pagi. Oya, kemarin dapat berapa, Rif?” tanya Sari menyelidik. Ia ingin tahu, hasil “Tangkapan” Arif kemarin bersama teman-temannya.

            Ditanya begitu, Arif langsung nyengir malu sembari menggaruk-garuk kepalanya “Hehe…, Nggak banyak, Kak. Cuma dua ribu” Arif mengacungkan dua jarinya ke udara.

            Sari hanya mengangguk kecil, seraya ber “Oh…” pelan.

            “Ya sudah, Kak. Arif berangkat dulu, nanti terlambat…”

            Arif gegas mengayun langkahnya. Karena di seberang jalan, Wahyu dan Dika melambaikan tangan, agar segera menyusul mereka. Sari memandang Arif dengan prihatin.

            “Cuma dua ribu…” gumamnya. Uang itu tak sebanding dengan bahaya yang di tempuh bocah-bocah itu. Memungut sampah saat air sungai mengalir deras. Kalau terjatuh? Walaupun mereka pandai berenang. Tentu tubuh kecil mereka, tak akan mampu bertahan dengan arus sungai yang deras. Para tengkulak jalanan itu, masih tega mengambil banyak untung dari anak-anak itu, sesalnya.

***

            Sewaktu istirahat kerja. Sari gunakan untuk pergi ke perpustakaan daerah. Untuk mencari buku tentang sampah. Barangkali, dia menemukan cara dalam buku itu, untuk menanggulangi sampah. Tapi, sudah lima belas menit ia belum juga menemukan buku itu. Padahal lima belas menit berikutnya, ia sudah harus berada di tempat kerjanya. Ia putuskan untuk bertanya pada bagian administrasi. Apa memang, buku yang dia cari ada di perpustakaan ini. Sementara menunggu, Mba-nya melihat katalog di komputer di hadapannya. Sari berpaling ke arah televisi di sampingnya.

            Tak di sangka, ia menyaksikan sebuah tayangan menarik. Dalam tayangan itu terlihat ibu-ibu sedang mengantri menyetorkan sampah dalam tas kresek hitam. Pada seorang pria yang duduk di depan meja. Pria itu tampak ramah melayani ibu-ibu itu, sambil sesekali mengayunkan penanya di atas kertas, setelah mendengar suara pria lainnya yang ada di samping timbangan.

            “Bank Sampah,” pekiknya senang. Setelah melihat papan nama yang tersorot kamera menggantung di atas kepala pria itu.

            “Aduh, maaf, Mba. Buku yang Mba cari nggak ada di sini…” suara perempuan penunggu perpustakaan itu terdengar menyesal. Memang perpustakaan itu koleksinya belum lengkap.

            “Nggak papa, Mba. Saya permisi dulu.”

            Sari langsung pergi, senyum sumringah mengiringi langkahnya. Ia sudah mendapatkan cara, bagaimana mengatasi masalah sampah di kampungnya.

***

            “Apa kamu yakin, Sari? Dengan rencana itu…” tanya Ibunya ketika Sari mengutarakan maksudnya, ingin menjadi tengkulak pengumpul sampah.

            “Iya, Bu. Cuma itu cara satu-satunya, agar sungai di kampung kita tak banyak lagi sampah,” jawab Sari mantap. Ia yakin cara itu akan berhasil.

            “Baiklah. Ibu akan bantu kamu, mengumpulkan warga agar datang malam ini ke rumah kita. Untuk membahas rencana yang kau utarakan tadi.

            “Makasih, Bu.” Peluk Sari pada ibunya. “Ini, demi kampung kita.”

            Malam harinya, warga sudah berkumpul. Sari mulai mengatakan rencananya. Warga diminta untuk tidak membuang sampah ke sungai lagi. Komentar protes langsung menggema memecah langit-langit rumahnya. Namun kembali tenang saat Sari melanjutkan. Bahwa sampahnya akan dia kumpulkan, dan dijual pada tengkulak besar di kota. Dan hasilnya akan dibagikan kembali kepada warga, sesuai dengan banyak sampahnya. Dan yang bertugas mengumpulkan dari rumah ke rumah adalah anak-anak, seperti Wahyu, Dika, Arif, dan yang lainnya. Sehingga mereka tak perlu lagi memungut sampah di sungai. Dan tentu mereka juga akan dikasih gaji, dari hasil penjualannya.

            Semua tampak setuju dengan rencana itu, walaupun ada satu, dua orang yang masih keberatan. Setelah Sari menjelaskannya kembali apa bahayanya bila sampah terus menerus dibuang ke sungai. Akhirnya  mereka setuju juga.

            “Dari itu, Bapak-bapak. Ibu-ibu, agar kiranya dapat memilahkan sampah kering dan basah.” Lanjut Sari “Sampah yang tidak laku dijual, akan kita bakar atau kita kubur. Dan itu bisa menjadi pupuk kompos, yang bisa kita gunakan menjadi pupuk untuk tanaman!”

            Akhirnya keputusan disepakati. Tak ada lagi warga yang boleh membuang sampah ke sungai. Jika melanggar, maka akan di denda oleh Pak RT, yang bertugas mengawasi kegiatan ini.

***

            Sebulan sudah kegiatan itu berjalan. Sari merasa senang, rencananya berjalan lancar, tanpa kendala yang berarti. Ia juga tetap bisa menjalankan pekerjaannya di kantor. Ia hanya menjual sampah-sampah yang terkumpul pada hari minggu ke tengkulak di kota.

            Pagi ini hujan lebat  kembali mengguyur kampungnya. Ia terpaksa menunggu hujan reda untuk berangkat menjual sampah-sampahnya. Ia kemudian berdiri di samping jendela. Matanya lurus menatap sungai di belakang rumahnya. Ia tersenyum. Ada kepuasan yang membersit hatinya.

            Setelah hujan tinggal gerimis kecil. Ia turun ke lanting bambu. Sari terpaku. Berdiri di atas lanting bambu itu. Di ujungnya seutas tali tambang mengikat kuat, yang ditambatkan pada sebatang pohon kelapa. Tujuannya tentu untuk menahan laju arus air dari hulu ke hilir. Ya, lanting bambu itu yang menjadi tempat kegiatan warga kampungnya. Mandi, mencuci, maupun buang air besar.

            Ekor matanya tampak sibuk memperhatikan arus sungai yang mengalir deras. Airnya bergulung-gulung bercampur dengan lumpur. Sehingga menjadikan airnya berwarna kuning kecoklatan. Itulah pemandangan yang selalu dia lihat, sehabis hujan lebat mengguyur kampungnya. Apalagi sekarang musim hujan, tentu pemandangan itu lebih sering dilihatnya.

            Tapi ada yang beda. Arus itu tak lagi membawa sampah yang banyak, seperti sebulan yang lalu. Hanya beberapa sampah yang bisa di hitung dengan jari. Mungkin itu sampah yang larut dari kampung sebelah. Ia tersenyum bangga. Ternyata rencananya berhasil, selain sungainya kini hampir bebas dari samaph. Wargapun mendapat penghasilan tambahan, dari menjual sampah-sampah itu. Ia bertekad, akan mensosialisasikannya ke kampung tetangga. Agar lima tahun ke depan, sungai di kotanya benar-benar tanpa sampah. Usaha yang tak mudah, tapi Sari akan terus berusaha.

            Matanya kini beralih menatap ke jembatan goyang. Tak ada lagi anak-anak yang menunggu sampah yang hanyut di situ. Ia tak perlu kuatir lagi akan keselamatan mereka. Ah, ternyata sampah juga bisa membawa berkah, batinnya senang.

 

Barabai, 14 Desember 2010


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document