Maling!

maling.gif

Penulis : Yazmin Aisyah

"Maling...maliiing...!"

"Maling? Mana malingnya?"

"Lha iku?"

"Yang tadi lewat iku maling to, Pak?!"

"Lha iyo... kok pada bengong?"

"Maling opo?"

"Ndak penting, yang penting..."

"Kejaaaar!!"

Suara derap belasan kaki bergemuruh, ada yang bersandal. Tak sedikit yang karena panik dan emosi melupakan sandalnya yang bergeletakan dekat pintu rumah.

"Allahhu Akbar! Allahu Akbar!"

"Maling nekad, maghrib-maghib kok ya maling!"

"Kalo ndak nekad dia ndak bakalan jadi maling!"

"Maling apa?"

"Besi, di penampungan rongsokan!"

"Masya Allah, cuma maling besi, bisa bonyok dia kalau sempet ketangkep!"

"Iyo, mbok ya kalau maling yang berharga dikit, jadi kalo ketangkep ndak malu-maluin..."

"Hus! Bu Las iki ngawur..."

"Lha iyo, Bu Kir, sayang to...? Tapi biar aja digebukin, orang ngumpulin rongsokan susah susah, eh, dia maen ambil saja..."

"Mungkin butuh buat makan. Terlalu banyak orang miskin. Pada males kerja."

"Sendirinya juga miskin..."

"Sampeyan juga. Wong sekampung kita cuma Pak RT yang kaya..."

"Korupsi, bikin KTP saja lima puluh ribu. Padahal cuma tiga puluh lima ribu. Kalau sepuluh orang sudah berapa? "

"Eh, sudah, sudah...maghrib-maghrib ngerumpi. Ndak denger adzan?"

"Kamu sendiri?"

Cengar-cengir, yang barusan menegur, perempuan bertubuh tambun.

"Lagi "libur"..."

"Huuuu..." serempak mereka memonyongkan bibir, lalu masuk ke rumah masing-masing. Bukan rumah sebenarnya, hanya petakan-petakan tiga ruangan yang berdempet-dempet. Sesak. Kumuh.

Salah satu perempuan tadi, yang dipanggil Bu Las, masuk dan mendapati Romlah, anak gadis tanggungnya, sedang tidur-tiduran di depan televisi krasak-kresek bersemut empat belas inch.

"Ealah...ni bocah. Shalat! Nonton teve terus..."

"Ibu aja ndak shalat..."

"Eh, dasar anak kurang ajar, sok mau ngajarin Ibu."

"Yee...di mana-mana juga kalo mau nyuruh anak shalat, ibu dulu yang shalat. Ini sih boro-boro...apalagi Bapak, maghrib-maghrib ngilang... cari istri lagi kali...Ibu galak sih!"

BUKK!

Bantal dilempar, Romlah mengelak tangkas, lalu kabur keluar. Padahal hari sudah gelap. Jalan-jalan juga. Penduduk terlalu miskin untuk memasang lampu jalan. Atau pelit? Takut menghadapi tagihan listrik yang membengkak?

***

Tengah malam, suami Bu Las pulang. Bajunya basah, badannya berpeluh, sandalnya putus.

"Ealah, Pak... iku sandal putus meneh, aku ndak punya duit beli yang baru..."

"Biar nanti disambung pake peniti..."

"Bapak dari mana to sampe basah basahan?"

"Ngejar maling!"

"Dapet?"

"Malingnya gesit kok, Bune ... ngilang di deket kebun... nyebur kali" lalu naik pagar pembatas kebun ke kampung sebelah. Hilang."

"Kok Bapak tahu?"

Sang suami gelagapan.

"Eh...eh...anu... ya perkiraan aja. Pasti orang kampung sebelah yang maling..."

"Yo ndak mungkin, orang kampung sebelah ndak miskin kayak kampung kita."

"Kata siapa? Sok tahu!"

"Lho...aku kan ikut kumpul-kumpul pengajian, pernah diundang ke mesjid kampung itu. Umah e apik apik..."

"Nah...nah... ikut pengajian tapi aku ndak pernah lihat Bune shalat?"

Bu Las nyengir.

"Kalo di rumah males, Pak, ndak ada yang lihat. Kalo di pengajian aku shalat kok..."

Tiba-tiba Bu Las ingat sesuatu, lalu rautnya berubah, garang. "Kamu aja ndak shalat!"

"Lho, lho, kalo aku ya..." Ragu-ragu. "Sibuk!"

"Sibuk opo? Wong pengangguran aja ngakune sibuk." Bu Las bersungut sungut, lalu membanting pintu.

"Besok ndak ada duit buat beli beras, Romlah juga bilang ndak mau sekolah lagi. Sering bolos karena ndak ada ongkos. Malu."

"Nih!"

Suaminya menyorongkan dua lembar lima ribuan. Perempuan itu menggerutu panjang pendek.

"Duit segini cukup opo? Pokok e mulai besok Bapak harus ngasih aku lima puluh ribu sehari. Kalo sampe minggu depan nasibku masih ndak jelas, aku mau balik ke rumah orangtuaku. Percuma ndue bojo..."

PLAKK!

"Kurang ajar, wedus... kenapa dulu mau kawin sama aku? Aku sudah dari dulu miskin!"

Bu Las mengusap-usap pipinya yang terkena tamparan, ia cemberut, lalu membanting tubuh ke kasur butut di ruang tengah. Di ruang sebelah, yang pintunya hanya ditutup dengan selembar gorden butut, Romlah sudah mendengkur.

"Lho, lho, Bu, aku ndak jadi makan..."

Tidak merasa bersalah sudah menampar istrinya, buat apa? Tampar menampar sudah jadi makanan sehari-hari. Apalagi kalau cuma makian wedus, monyet, goblok.

"Sudah habis semua. Siapa suruh pulang tengah malem?"

"Nasi tok?"

"Ndak ada!"

"Yo wis, buatin kopi aja."

"Ndak adaaa!!" teriak Bu Las, kesal.

Cekurukkkkk, perutnya berbunyi nyaring. Mirip kokok ayam yang mau disembelih.

***

Halaman: 1 | 2 | 3 |