Untitled Document

Kategori : Cerpen

Dibaca : 3166 Kali

Maling!

Penulis : Yazmin Aisyah

"Maling...maliiing...!"

"Maling? Mana malingnya?"

"Lha iku?"

"Yang tadi lewat iku maling to, Pak?!"

"Lha iyo... kok pada bengong?"

"Maling opo?"

"Ndak penting, yang penting..."

"Kejaaaar!!"

Suara derap belasan kaki bergemuruh, ada yang bersandal. Tak sedikit yang karena panik dan emosi melupakan sandalnya yang bergeletakan dekat pintu rumah.

"Allahhu Akbar! Allahu Akbar!"

"Maling nekad, maghrib-maghib kok ya maling!"

"Kalo ndak nekad dia ndak bakalan jadi maling!"

"Maling apa?"

"Besi, di penampungan rongsokan!"

"Masya Allah, cuma maling besi, bisa bonyok dia kalau sempet ketangkep!"

"Iyo, mbok ya kalau maling yang berharga dikit, jadi kalo ketangkep ndak malu-maluin..."

"Hus! Bu Las iki ngawur..."

"Lha iyo, Bu Kir, sayang to...? Tapi biar aja digebukin, orang ngumpulin rongsokan susah susah, eh, dia maen ambil saja..."

"Mungkin butuh buat makan. Terlalu banyak orang miskin. Pada males kerja."

"Sendirinya juga miskin..."

"Sampeyan juga. Wong sekampung kita cuma Pak RT yang kaya..."

"Korupsi, bikin KTP saja lima puluh ribu. Padahal cuma tiga puluh lima ribu. Kalau sepuluh orang sudah berapa? "

"Eh, sudah, sudah...maghrib-maghrib ngerumpi. Ndak denger adzan?"

"Kamu sendiri?"

Cengar-cengir, yang barusan menegur, perempuan bertubuh tambun.

"Lagi "libur"..."

"Huuuu..." serempak mereka memonyongkan bibir, lalu masuk ke rumah masing-masing. Bukan rumah sebenarnya, hanya petakan-petakan tiga ruangan yang berdempet-dempet. Sesak. Kumuh.

Salah satu perempuan tadi, yang dipanggil Bu Las, masuk dan mendapati Romlah, anak gadis tanggungnya, sedang tidur-tiduran di depan televisi krasak-kresek bersemut empat belas inch.

"Ealah...ni bocah. Shalat! Nonton teve terus..."

"Ibu aja ndak shalat..."

"Eh, dasar anak kurang ajar, sok mau ngajarin Ibu."

"Yee...di mana-mana juga kalo mau nyuruh anak shalat, ibu dulu yang shalat. Ini sih boro-boro...apalagi Bapak, maghrib-maghrib ngilang... cari istri lagi kali...Ibu galak sih!"

BUKK!

Bantal dilempar, Romlah mengelak tangkas, lalu kabur keluar. Padahal hari sudah gelap. Jalan-jalan juga. Penduduk terlalu miskin untuk memasang lampu jalan. Atau pelit? Takut menghadapi tagihan listrik yang membengkak?

***

Tengah malam, suami Bu Las pulang. Bajunya basah, badannya berpeluh, sandalnya putus.

"Ealah, Pak... iku sandal putus meneh, aku ndak punya duit beli yang baru..."

"Biar nanti disambung pake peniti..."

"Bapak dari mana to sampe basah basahan?"

"Ngejar maling!"

"Dapet?"

"Malingnya gesit kok, Bune ... ngilang di deket kebun... nyebur kali" lalu naik pagar pembatas kebun ke kampung sebelah. Hilang."

"Kok Bapak tahu?"

Sang suami gelagapan.

"Eh...eh...anu... ya perkiraan aja. Pasti orang kampung sebelah yang maling..."

"Yo ndak mungkin, orang kampung sebelah ndak miskin kayak kampung kita."

"Kata siapa? Sok tahu!"

"Lho...aku kan ikut kumpul-kumpul pengajian, pernah diundang ke mesjid kampung itu. Umah e apik apik..."

"Nah...nah... ikut pengajian tapi aku ndak pernah lihat Bune shalat?"

Bu Las nyengir.

"Kalo di rumah males, Pak, ndak ada yang lihat. Kalo di pengajian aku shalat kok..."

Tiba-tiba Bu Las ingat sesuatu, lalu rautnya berubah, garang. "Kamu aja ndak shalat!"

"Lho, lho, kalo aku ya..." Ragu-ragu. "Sibuk!"

"Sibuk opo? Wong pengangguran aja ngakune sibuk." Bu Las bersungut sungut, lalu membanting pintu.

"Besok ndak ada duit buat beli beras, Romlah juga bilang ndak mau sekolah lagi. Sering bolos karena ndak ada ongkos. Malu."

"Nih!"

Suaminya menyorongkan dua lembar lima ribuan. Perempuan itu menggerutu panjang pendek.

"Duit segini cukup opo? Pokok e mulai besok Bapak harus ngasih aku lima puluh ribu sehari. Kalo sampe minggu depan nasibku masih ndak jelas, aku mau balik ke rumah orangtuaku. Percuma ndue bojo..."

PLAKK!

"Kurang ajar, wedus... kenapa dulu mau kawin sama aku? Aku sudah dari dulu miskin!"

Bu Las mengusap-usap pipinya yang terkena tamparan, ia cemberut, lalu membanting tubuh ke kasur butut di ruang tengah. Di ruang sebelah, yang pintunya hanya ditutup dengan selembar gorden butut, Romlah sudah mendengkur.

"Lho, lho, Bu, aku ndak jadi makan..."

Tidak merasa bersalah sudah menampar istrinya, buat apa? Tampar menampar sudah jadi makanan sehari-hari. Apalagi kalau cuma makian wedus, monyet, goblok.

"Sudah habis semua. Siapa suruh pulang tengah malem?"

"Nasi tok?"

"Ndak ada!"

"Yo wis, buatin kopi aja."

"Ndak adaaa!!" teriak Bu Las, kesal.

Cekurukkkkk, perutnya berbunyi nyaring. Mirip kokok ayam yang mau disembelih.

***

Pagi menjelang siang, ibu-ibu sudah ngerumpi lagi. Sambil merubungi tukang sayur yang melayani dengan muka cemberut. Kesal, terlalu banyak orang ngutang. Apa mereka tidak mengerti kalau jualan butuh modal?

"Hebat iku maling, dikejar orang banyak ndak ketangkep."

"Mungkin punya ilmu meringankan tubuh."

"Ngawur, jaman moderen kok ya masih ada ilmu begituan."

"Ehh...ndak percaya? Yang pesugihan sama miara tuyul aja masih ada."

"Ayo, Ibu ibu! Cepetan belanjanya, saya masih mau keliling."

Tukang sayur tidak sabar. Sudah tukang ngerumpi, ngutang melulu...tapi dia selalu tidak tegaan. Yang ngutang, dikasih juga. Seperti...

"Wah, ada cumi, kesukaan Romlah, berapa ini?"

"Setengah kilo, lima belas ribu."

"Aku ambil ya, Pak...engg...duitnya nanti...kalo bapaknya dapet duit..."

Tukang sayur cuma bisa pasrah. Salahnya, bawa dagangan mahal ke kumpulan ibu-ibu tukang ngutang.

"Makanya ati-ati naro barang, lagi musim maling."

Rupanya obrolan maling masih berlanjut.

"Ada lagi yang mau belanja?"

"Eh, Pak Sayur, buru buru tenan..."

"Jumat, Bu. Mau Jumatan."

"Oh iyo...yo wis, kita kan mau pengajian juga."

Tukang sayur cuma mengelus dada. Selama itu mendengar celotehan ibu-ibu, cuma laku setengah kilo cumi, itu pun diutang. Heh...

Bu Las masuk, menendang kaki suaminya yang masih mendengkur.

"Poko e nanti malam sudah harus ada duit lima puluh ribu."

Suaminya tetap mendengkur, entah dengar atau tidak.

"Pak! Denger tidak? Awas ya!"

Suara dengkuran suaminya makin keras, bersaing dengan suara orang mengaji yang bertalu-talu dari masjid. Sudah hampir waktunya Jumatan.

***

Tengah malam, lagi-lagi bangun tengah malam. Tapi kali ini bukan suaminya yang membangunkan. Tapi suara teriakan gaduh tak jauh dari rumah. Bu Las meloncat dari kasur, anaknya mengekor sambil mengusap-ngusap mata yang belekan.

"Ada apa?"

"Maling ketangkep."

Bu Kir dan Welas, janda bertubuh tambun itu sudah lebih dulu berkumpul di muka rumah.

"Maling besi lagi?"

"Katanya ndak, kemaren wis sukses. Ya sekarang nyikat yang lebih berharga dong. Katanya TV Bu RT yang baru."

"Waah, TV mahal. 21 inch lagi."

"Biar saja, dapet korupsi ini. Lagian Bu RT kan meditnya minta ampun."

"Tapi ketangkep kok."

"Yuk, lihat!"

Mereka beramai-ramai mendekati kerumunan warga yang sudah lebih dulu tiba. Kebanyakan bapak-bapak dan pemuda. Mereka membawa pentungan.

"Wah, pasti bonyok."

Suara mengerang terdengar jelas. Bikin merinding. Orang orang yang gelap mata, hilang sudah rasa kasihan. Gedebak gedebuk, seperti memukul karung saja.

"Buka sarungnya!"

Maling itu mengenakan sarung yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya matanya yang terlihat. Mata itu pun sudah lebam.

"Susah, Pak..."

Ibu-ibu meragsek maju, mencari pengalaman pertama melihat maling digebuki massa. Selama ini hanya lihat di TV saja. Entah masih ada rasa iba atau tidak.

"Dasar maling kurang ajar!" suara pak RT berang.

"Kalau mau nonton TV ya beli sendiri!"

"Pemalas!"

"Cincang saja!"

"Jangan! Jangan! Dibawa ke kantor polisi aja!"

"Huh, polisi. Sama aja. Di sana juga digebukin. Mending kita yang gebukin!"

"Setuju, nanti kalau sudah puas baru kita bawa."

"Eh, buka dulu sarungnya, siapa tahu kita kenal."

Sarung dibuka, seketika suara pekikan bersahut-sahutan.

"Lho...Pak e?!" pekik Bu Las.

"Bapak!!" Romlah tak kalah histeris.

Maling itu menatap Bu Las, lalu anaknya.

"Bune...maaf...aku belum bisa ngasih duit lima puluh ribu sehari. Tapi jangan pulang ke rumah orangtuamu ya. Siapa yang ngurus Bapak nanti?"

Orang-orang melongo. Bu Las ambruk. Romlah menangis tersedu-sedu.

 

Kedaton, 060309

The story about the tragic poor people


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document