Untitled Document

Kategori : Cerbung

Dibaca : 6853 Kali

Dewa Ruci, Persembahan untuk Bapak (bagian 1)

Penulis: Adi Zam zam

Sinopsis

Ceritanya berfokus pada keluarga Wikyo Sumargono, mantan dalang yang harus hidup tertatih-tatih setelah masa jayanya usai. Akibat perselingkuhannya dengan mantan sindennya sendiri, keluarganya hampir saja berantakan. Ratri anak tertua, memutuskan berhenti berlatih menjadi dhalang dan memilih menjadi penyanyi orkes pimpinan mantan niyaga bapaknya. Dan terutama arya sena, anak penengah keluarga ini terpaksa harus menghidupi diri sendiri menjadi seorang loper koran untuk membiayai sekolahnya. Tokoh sampingan adalah Bambang Harmoko, anak hasil “oleh-oleh” emaknya yang pernah menjadi TKW di Arab Saudi. Akibat asal-usul gelapnya itu bambang harus berjuang mati-matian menyematkan identitas bahwa ia adalah orang jawa asli dihadapan tiga seteru abadinya dikelas. Bambang memutuskan akan belajar wayang pada bapaknya Arya (wayang termasuk kekhasan budaya Jawa ). Tak disangka, musibah menimpa Pak Wikyo, ia terkena stroke. Dan sayangnya mantan dalang itu sudah kehilangan selera mengajarkan ilmu pewayangan kepada siapa pun. Usaha Bambang hampir saja gagal. Bersama Arya, ia coba mengatasi kebuntuan masing-masing dengan menjual wayang maianan kreasi Pak Wikyo dari rumah ke rumah sambil mendhalang asal-asalan.

Keajaiban datang saat kedua anak itu ditemukan oleh Aki Purwo yang memiliki Sanggar Wayang Purwo Cerito (mantan guru Ratri). Arya dan Bambang diambil  dan dilatih menjadi dalang menggantikan Dewo yang akan ikut bapaknya ke Amerika. Kedua anak itupun mengawali jalan menuju cita-citanya setelah menjejakkan kaki di Belanda, memamerkan bakat mereka sebagai dalang muda.



1. Arya Sena dan Dewa Ruci

“Ada yang tahu gambar siapa ini?” Pak Ketut menunjukkan sebuah gambar wayang yang ada dalam bukunya.

Pandangan semua siswa tertuju ke arah gambar itu. Sebuah wayang bermata telengan (serupa bulatan mata), hidung dempak, seluruh wajah hitam legam, rambut terkembang, sunting waderan, memiliki sebuah kuku panjang, berkain poleng, dan bersepatu.

“Werkudara, Pak!” semua mata langsung beralih ke suara itu, Bambang Harmoko, wajah Arabnya jadi bersemu kemerahan karena sejenak menjadi pusat perhatian.

“Bukan,” Pak Ketut langsung menyahut. “Dia memang memiliki kuku Ponco Noko seperti Werkudara, tapi lihat! Dia bersepatu. Dalam pewayangan, yang memakai sepatu itu merupakan ciri bahwa dia seorang dewa.”

“Wuu.......! orang Arab mana tau wayang. Tahunya mah onta!” celetukan itu kontan membuat seisi kelas tertawa .wajah bambang berubah cemberut tak dihiraukan.

“Ini adalah gambar tokoh yang akan dimainkan oleh teman kalian.” Pak Ketut sedikit mengeraskan suara untuk menghentikan keriuhan itu.

Semua pandangan mulai beralih ke seseorang yang telah berdiri menunggu di depan kelas. Beberapa anak mengangguk-angguk.

“Inilah si Dewa Ruei itu,” lanjut Pak Ketut kemudian, “seperti yang telah Bapak uraikan minggu lalu, bahwa induk dari semua cerita pewayangan adalah kitab Ramayana dan Mahabarata. Tapi, ada juga cerita-cerita karangan baru asli made in indonesia yang dalam kedua kitab tersebut tidak ada. Cerita-cerita tersebut dibuat oleh para Wali Sanga sebenarnya untuk mengajari orang-orang awam tentang agama Islam. Ada lakon Jimat Kalimasada senjata andalannya Prabu Darmokusumo itu. Ada juga lakon Pustaka Weni yang mencuri Jimat Kalimasada. Kemudian lakon Petruk Dadi Ratu. Lalu lakon Partadewa atau Harjuna Wiwaha yang sebenarnya dikarang oleh Empu Kanwa pada zaman Airlangga, tetapi diubah sedemikian rupa dan disesuaikan dengan ajaran keislaman. Termasuk juga lakon Dewa Ruci yang akan diceritakan oleh teman kalian nanti. Cerita Dewa Ruci itu mengandung ajaran filsafat serta keagamaan yang dalam sekali. Ceritanya mengambarkan seorang ksatria yang dengan kemauan keras mencari jalan sebaik-baiknya yang dapat membawanya pada kebahagiaan kekal disurga. Dalam usahanya dalam memperoleh cita-citanya itu ia menjumpai bermacam kesukaran. Tetapi berkat kekuatan tekad dan ketabahan hati, akhirnya dia dapat mencapai cita-citanya itu. Ia tidak saja menerima petunjuk-petunjuk tentang kehidupan didunia fana saja, tapi ia juga memperoleh wejangan mengenai kehidupan yang langgeng abadi, serta tentang caranya agar dia bisa masuk dunia keabadian itu. Nah, untuk  cerita selengkapnya Bapak harap kalian mendengarkan cerita Arya sebaik-baiknya. Sebagai tugas, Bapak ingin kalian nanti menyimpulkan isi cerita itu berdasarkan analisa kalian sendiri-sendiri. Ingat jangan saling mencontek.”

Seisi kelas berdengung bak lebah. Beberapa anak terdengar mengeluh.

“Ayo, Ya!” Pak Ketut mengantuk memberikan aba-aba kepada Arya Sena.

“Boleh dengan bahasa saya sendiri, Pak?” tanya Arya dengan raut memendam khawatir. Sebenarnya hatinya masih merasa tak nyaman. Seisi kelas mendesaknya untuk maju memenuhi tugas Pak Ketut karena mereka tau bahwa Arya seorang anak dalang.

“Iya, itu malah bagus,” Pak Ketut mengangguk.

Arya lalu mulai menarik nafas dalam-dalam. Ia tak berani menatap ke arah teman-temannya. Beberapa memang terlihat senyam-senyum, itulah yang ia risaukan. Meski ia tidak seorang dalang, tapi semua temannya tak ada yang tahu bahwa Arya belum pernah sekali pun belajar mendalang!

Pandangan Arya terpaku ke dinding belakang kelas. Pikirannya mulai mengembara kesebuah ruang di mana disana masa kecilnya ia begitu akrab dengan semua tokoh pewayangan. Lalu berganti bayang wajah lelaki yang rambutnya mulai beruban dan kerut-merut di sekitar mata. Bapaknya.

“ Hee....Bumi gonjang ganjing mubenge jaman mak keteplas koyo gangsing. Kabeh dadi semrawut sebab pikiran kusut...”

Terdengar suara cekikikan. Seketika itu juga Arya menghentikan kalimatnya. Pandangannya beralih ke teman-temannya. Beberapa terlihat menutup ekspresi mulutnya.

“Ayo, teruskan. Tidak usah malu,” suara Pak Ketut memecah jeda, seolah-olah tahu keadaan batin Arya.

“Semua semrawut sebab pikiran kusut. Sang Bima iyo Sang Werkudara termenung dan terus termenung dalam kemelut pikiran ….”

Beberapa anak tak kuasa lagi menahan tawa . Tapi Arya tak lagi memedulikan itu meski dadanya berdegup keras. Ekor matanya sekilas bisa menangkap tangan pak ketut yang memberi isyarat agar semuanya diam mendengarkan.

“Apakah hidup hanya untuk makan, tidur, berak? Apakah hidup hanya untuk mejeng, majang lalu manak? 3 ….....”

Terdengar tawa lagi. Kali ini lebih keras.

“Sang Werkudara lalu mengutarakan kegundahan hatinya kepada sang guru, iyo Sang Begawan Durna dari Padepokan Sokalima.....” suara Arya makin terdengar tegas dan enak didengar. Suaranyanya mulai terjaga dalam irama lagu yang dibuatnya sendiri.

“Pergilah ke Gunung Reksamuka. Di sana Tirta Prawita Sari berada! Air yang akan membasuh segala kegundahan hidupmu!Perintah sang guru.

Maka disingkirkannya semua beban keduniaan yang menggayuti hati demi mentaati perintah sang guru.

Anak istri ditinggal. Sanak saudara dipamiti. Onak duri diterjang. Jalan nan sukar pun tak peduli. Dan saat gunung besar nan angkuh itu telah berdiri tegak didepan mata......Duh!” Hentakan suara Arya menggema. Ia baru tersadar bahwa kelas telah menjadi hening karena mendengarkan ceritanya.

“Betapa besarnya gunung itu. Tapi siapa peduli, ha?! Sang arya sena mengacungkan kuku ponco nokonya...” Arya mengangkat tanan kanannya. Terbawa ekspresi.

“Seisi gunung penghuninya geger gember. Jin genderuwo,kuntilanak pating jlerit mblayu sipat kuping4. Hee........Bumi gonjang ganjing karena Werkudara memamerkan kekuatannya. Lalu terdengarlah petir guntur menggelegar.

Hei, manusia edan! Siapa kamu? Berani-beraninya kamu mengusik tempat kediaman kami!

Mereka Rukmuka dan Rukmakala lalu mengajak tanding Wurkudara sang Putra Bayu.

Dhas........Dhess.....Bukk.......dhuerr!! Ponco Noko berkelebatan, rujak polo5 berubah halilintar. Dua raksasa itu pun terkapar.

Tiba-tiba jasad kedua raksasa itu moksa lenyap. Dua dewa bertubuh tinggi  tegap telah berdiri di hadapan Werkudara.

Terima kasih, engkau telah menyelamatkan kami dari sebuah kutukan, kata mereka.

Lalu Sang Werkudara diberi sabuk6 Cinde Wilis dengan bara kembar yang dipakainya di paha kanan kini. Itu sebagai tanda terima kasih.

Hei! Di mana Tirta 7  Prawita Sari itu kaliaan sembunyikan?! Werkudara mengacungkan kuku ponco nokonya.

Kau telah ditipu oleh gurumu, Wahai Ksatria.
        
Jangan jadi provokator !

Sumpah langit bumi jadi saksi. Engkau telah ditipu oleh gurumu, wahai ksatria.

Wajah Werkudara tersaput mendung. Ia pulang dengan hati muram kecewa.dan semakin bertambah muram karena ternyata sang guru malah menyambutnya dengan wajah berhias senyum gembira .

Apakah benar guru telah menipuku ?

Air suci itu memang tak ada digunung tersebut, wahai anakku. Tapi tahukah kamu apa penyebab kegembiraanku, wahai anakku? Kau telah lulus ujian pertama. Ketaatanmu pada guru, sang penunjuk jalan, adalah modal awal.

Lalu di mana letak Air Pembasuh Jiwa itu, wahai guruku?

Pusat lautan, anakku. Air suci itu ada dipusat lautan.
        
Hee..... bumi gonjang ganjing, angin dadi sampyuh kerana kuating kekarep.8 Anak istri ditinggal. Sanak saudara dipamiti. Onak duri diterjang. Jalan nan sukar pun tak peduli. Dan saat samudera luas itu telah membentang di pelupuk mata....

Werkudara dihadang oleh empat saudara tunggal keturunan Dewa Bayu. Bayu kinara iyo anoman berwujud kera putih. Bayu kanitra iyo situbanda berwujud gajah. Bayu anras iyo jaya kreka berwujud burung garuda. Dan bayu langgeng iyo begawan maenaka berwujud pendeta gunung. Tapi duuuh... angin dadi sampyuh kerana kuating kekarep.Paneakara9 Pecah! Werkudara dikeroyok empat saudaranya sendiri.

Werkudara lari menyelamatkan diri dari para saudaranya yang menjelma gajah setubanda. Werkudara terjun ke dalam laut. Tapi setubanda segera menopangnya kembali ke permukaan. Werkudara ngotot tenggelam ke dalam laut. Hingga akhirnya setubanda hilang kesabaran dan dibiarkannya Werkudara tenggelam terbawa ombak samudera.......”

Tok...Tok !

Bunyi ketukan pintu memecah suasana yang telah diciptakan oleh cerita Arya. Semua menoleh kearah pintu.

Pak Yanto, guru BP, lalu masuk menuju pak ketut. Pak Yanto membisikkan sesuatu. Arya bisa melihat raut Pak Ketut yang terlihat kaget sambil menoleh sekilas ke arahnya. Saat Pak Yanto telah keluar, Pak Ketut mempersilakan agar Arya kembali meneruskan ceritanya.

Arya menarik nafas dalam-dalam untuk kembali berkonsentrasi. Diusapnya keringat yang membanjiri keningnya. Sejenak Arya menoleh ke arah Pak ketut saat telinganya mendengar gurunya itu juga melakukan hal yang sama. Tapi Pak Ketut menyambut tatapan itu denga senyum.

“Werdukara tenggelam ditelan ombak. Sesaat kemudian terdengar suara deru. Tiba-tiba muncullah naga liar sebesar pohon kelapa mengancam Werkudara. Ponco noko berkelebat menyambar-nyambar. Tapi duuh...ketiwasan....ketiwasan 10 . Tubuh Werkudara terkapar. Tapi sang naga juga terkapar.

Werkudara kaget saat terbangun dari matinya. Seorang makhluk kerdil yang wujudnya menyerupai dirinya telah berdiri menungguinya.

Who Are You?
Ooh, I am Dewa Ruci.”
Seisi kelas tertawa mendengar bahasa gado-gado itu.

“What Are you looking for, hah? Buat apa kamu susah-susah menerobos ke tempatku ini? Apa kau tidak tahu bahwa sanak keluargamu semuanya sedang menangisi kepergianmu?

Saya hendak mencari Tirta Prawita Sari. Duh, paduka.

O....bocah nekat, bocah nekat. Kalau begitu masuklah ke dalam tubuhku.

Werkudara bengong.

What is the matter?

Tubuh hamba kan lebih besar dari paduka?

Heh bocah gendheng, jangankan tubuhmu, jagat dan seisinya pun dapat masuk ke telingaku .

Meski setengah percaya, Werkudara menuruti juga perintah itu. Ia berjalan saja ke arah Dewa Ruci.

Sekarang ceritakan apa yang kau rasakan, hei Bayu Putra.
        
Hamba bingung, duh, Paduka.

Kalau begitu bersamadilah. Renungi semua yang telah kau lewati semasa hidupmu. Lalu renungi juga apa yang sebenarnya engkau ingini.

Bumi gonjang-ganjing....bumi gonjang-ganjing....merah, hitam, kuning, biru, putih, semuanya berebut ingin menguasai werkudara. Setelah itu muncullah bulan warna keemasan yang diliputi warna pelangi.

Sekarang pulanglah, hei, Bayu Putra.
        
Tidak, paduka. Bukankah sudah berada di syurga, tempat yang diingini semua manusia, wahai Paduka?

Di negerimu sedang terjadi bencana, cepat pulanglah sana!

Bumi gonjang-ganjing....Bumi gonjang-ganjing....Werkudara marah bukan kepalang. Werkudara dendam hingga ke sumsum tulang. Hingga akhirnya ia beradu tanding dengan sang guru di medan Kurusetra...” Arya pun mengakhiri ceritanya.

Tepuk tangan segera memenuhi kelas. Arya masih belum berani melihat reaksi teman-temannya. Ia merasakan punggungnya telah basah. Beruntung Pak Ketut segera menyuruhnya kembali ketempat duduknya.

“Nah, untuk minggu depan kalian Bapak tugasi untuk menganalisa cerita tadi. Masing-masing tiga point.” Pak Ketut melirik arlojinya saat bel bergantian jam pelajaran berdering.

Kelas langsung berubah riuh. Beberapa anak yang tak sabar menunggu, langsung menghambur ke luar karena Pak Ketut yang tak kunjung keluar ruangan.

“Kamu hebat, sejak umur berapa bapakmu mangajari?” Bambang merangkul Arya yang hanya sebatas ketiaknya.

Arya menggeleng malu.
        
“Apa boleh aku ikut belajar mendalang di rumahmu?”

Arya Mendongak mencari keseriusan di wajah temannya itu.

“Minggir, minggir! Hei, Dewa Ruci, minggir....!” Sseseorang sengaja membelah rangkulan tangan Bambang dan menerobos hingga kedua teman itu terpisah. Si Noval.

“Wuu, dasar Mulut Ember!” Bambang menggeleng.

“Wuu......orang Arab kesasar!” Noval membalas.

“Arya, tunggu sebentar!”

Suara itu menghentikan langkah Arya dan Bambang. Pak Ketut terlihat terburu menghampiri Arya.

Menarik nafas berat sejenak, “Kamu boleh ikut pulang bersama Bapak sekarang.”

Kening Arya mengerut. Ia jadi teringat kedatangan Pak Yanto tadi. Ada firasat buruk menyelinap.

“Bapakmu tadi mengalami kecelakaan. Sekarang ada di puskesmas,” Pak Ketut melanjutkan kalimatnya.

Wajah lelaki beruban itu kembali membayang. Wajah yang selalu terlihat sedih saat beliau diam-diam menyendiri. Kedua mata Arya mulai menghangat.

***

“Tidak ada?”
        
“Memang tidak ada pasien yang bernama Wikyo Sumargono, Pak.” Pegawai administrasi itu masih meneliti catatannya.

“Maaf, kalau begitu saya pamit saja. Terima kasih.”

Arya masih saj diam mengikuti langkah Pak Ketut yang lebar-lebar.

“Apa bapakmu belum pernah masuk rumah sakit ya?”

“Pernah, Pak. Gempa kemarin kaki beliau patah sehingga harus dibawa ke rumah sakit.”

“Patah?“ Lelaki itu membuat nada bicara nya seolah terkejut, padahal dalam kepalanya sudah membayang seorang lelaki pincang yang sering diceritakan oleh seorang gadis. Gadis yang selalu berwajah mendung jika berbicara tentang bapaknya.

“Waktu itu beliau menggendong Abimanyu, adik saya, Pak. Saat hampir sampai di pintu, beliau tertimpa tembok. Tapi Alhamdulillah cuma kaki beliau yang cidera. Adik saya terpental jatuh.”

Jika mengingat keadaan bapaknya, Arya selalu tak bisa bersembunyi dari rasa sedih. Arya teringat salah satu tembang 11 pacung yang sering digumamkan bapaknya saat membuat wayang mainan dagangannya...

Lila lamun kelangan nora gegetun
trima yen ketaman
sak serik sameng dumadi
Tri legawa nelangsa srah mring bathara 12.

Arya ingat apa yang pernah dikatakan Mbak Wigati, sebenarnya Bapak sangat kecewa dengan kehidupannya sendiri. Sejak grup wayang kulit yang dipimpin beliau bubar, beliau jadi seperti orang yang tidak pedulian. Bahkan dulu Emak sampai dibiarkan tiga tahun tak dinafkahinya. Beliau tidak mau mencari pekerjaan lain dan kesehariannya hanya diisi dengan melamun dan nembang .13 Seperti orang gila. Arya ingat hari-hari kelam itu. Saat itu ia masih kelas 5 SD. Saat itu otaknya selalu berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang.

Beda lagi menurut cerita Mbak Ratri. Bapak itu orang yang sombong, tak mau turun pangkat menjadi seseorang yang lebih rendah derajatnya daripad seorang dalang. Beliau pun berubah menjadi seorang yang pemarah dan gampang tersinggung. Beliau pun tak mau lagi kumpul dengan tetangga meski itu hanya untuk menghadiri hajatan selamatan. Tapi tuduhan Mbak Ratri ternyata kini salah.Bapak kini sudah mau turun pangkat bahkan mungkin hingga ke pangkat terendah dalam kehidupannya.

Wajah Arya terantuk punggung Pak Ketut saat motor itu telah berhenti di depan rumahnya. Satu-satunya rumah yang masih berbentuk joglo kuno di desa Tegalmulyo. Arya melihat banyak tetangga yang berkumpul diruang tamu rumahnya.

Arya segera berlari kedalam rumah. Di bale ruang tengah terlihat bapaknya terbujur. Emaknya sedang menguruti kaki beliau. Sedang Mbak Wigati menguruti bagian tangan. Bau balsem menyengat .

“Eueuh...” Terdengar suara Pak Wikyo yang bermaksud menunjukkan kursi untuk Pak ketut. Saat itulah Arya baru sadar mulut bapaknya perot kekanan .

“Kenapa tadi batal ke puskesmas, Mak?” Pak Ketut menarik kursinya ke dekat pembaringan Pak Wikyo.

“Bapak ndak mau, Nak Guru. Tadi yang nabrak juga datang ke sini. Dia bilang bersedia menanggung semua biaya perawatan. Tapi Bapak yang ndak mau. Kata Bapak, Bapaklah yang terjatuh sendiri. Jadi orang itu hanya meninggalkan uang untuk biaya obat jalan dan ganti rugi karena barang mainannya banyak yang rusak.”

Sementara itu di teras samping rumah, Arya menghampiri sepeda onta bapaknya yang tergeletak pasrah. Beberapa mobil kertas terlihat sobek, beberapa terompet hias patah, beberapa wayang mainan juga patah. Arya mencoba membetulkan beberapa yang masih bisa diselamatkan. Ia tahu, bapaknya telah membuatnya dengan susah payah.

“Membuat mainan seperti itu pasti butuh keterampilan yang lumayan susah ya.” Sebuah tepukan di bahu sedikit mengagetkan Arya Sena. Arya buru-buru mengusap kedua matanya.

“Kau harus bisa membujuk bapakmu untuk periksa kedokter ya.”

Arya menunduk dalam-dalam. Ingin sekali ia menjawab, sebenarnya Bapak tidak mau lagi menjadi beban keluarganya lagi. Tapi kalimat itu terkunci dan berganti, “Ya, Pak.”

“Bapakmu harus istirahat dulu sampai benar-benar pulih ya. Ini, ambillah. Siapa tahu itu bisa sedikit membantu.”

Kaget. Spontan Arya menolak uang itu. Tapi Pak Ketut begitu gigih sekali berusaha memasukkan selembar ratusan ribu itu kesaku Arya. Arya akhirnya menyerah saat guru bahasa Jawanya itu berucap, “Janganlah menolak pertolongan orang lain ya. Itu tak baik.”

Arya tak enak hati. Kenapa orang ini begitu baik sekali kepadanya, padahal tak ada hubungan kerabat apapun. Ah, bisa saja itu uang dari sekolah, pikir Arya. Tapi kalau benar dari sekolah, kenapa tidak diserahkan langsung ke Emak saja? Arya pernah dengar bahwa Pak Ketut mendirikan tempat kursus untuk orang-orang bule belajar bahasa Jawa. Mungkin saja beliau orang berduit. Mungkin saja ini uang beliau sendiri. Tapi atas dasar apa beliau memberi?

***

II.  Kau Orang Jawa Tulen! Sedang Aku?!

“Penyakit Bapak itu gejala awal stroke.” Ucapan dokter itu terus saja bergema di telinga Arya Saat ia mengayuh sepedanya pagi-pagi benar. Beberapa koran telah ia setorkan kepara pelanggan. Ia harus berpacu dengan waktu jika tak ingin terlambat kesekolah. “Ada beberapa makanan yang pantang Bapak makan. Selain itu juga Bapak harus bisa menenangkan pikiran agar tekanan darahnya tak naik lagi. Jangan terlalu berat memikirkan sesuatu. Jika tekanan darahnya naik lagi, fatalnya Bapak bisa lumpuh total. Tapi Bapak tak perlu khawatir. Asal bapak mau rutin berobat, insyaAllah bisa sembuh total.” Arya mengusap keringatnya yang berleleran.

“Koran, Pak ?” Arya berhenti di depan sebuah bengkel. Si pemilik bengkel menggeleng.

“Koran, Pak?” Arya berhenti lagi di depan sebuah toko elektronik. Si pemilik toko meminta satu.

Arya melirik arloji di tangannya. Masih ada waktu setengah jam lagi. Hari ini sengaja ia meminta tambah jatah ke Mas Erwin, pemilik Erwin Agency yang membuka kios koran di depan sekolahannya. Masih ada lima koran yang berada dalam tas punggungnya.

Arya menyandarkan sepeda bututnya ke tembok kesebuah pos polisi. Ia berniat menawarkan koran-koran itu saat lampu merah bergantian menghentikan kendaraan yang melintasi perempatan Tarumanegara.

“Koran, Pak?”

“Kompas, KR, Bernas, Jawa Pos, Suara Merdeka, Republika.”

Semangat Arya membubung lagi saat sebuah tangan kecil kembali ke arahnya.

“Baa.....Ternyata Dewa Ruci juga nyambi sebagai loper koran ya! Ha-ha-ha!” Tiba-tiba terdengar suara riuh dari mobil kijang berkaca gelap itu. Saat kaca mobil dibuka, dua wajah menyembul dari dalam mobil. Ternyata Noval dan Joko. Arya buru-buru membalikkan tubuh menjauh dari kijang metalik itu.

“Woi! Dewa Ruci, kami mau beli korannya!” Mereka masih saja berteriaak memanggil dengan tawa.

Tapi Arya tak peduli. Ia segera menuju ke arah sepedanya.

Ia menuntun sepedanya menyusuri Jalan Tarumanegara, menjauhi arah mobil yang berisi mulut-mulut jahil tadi. Tatapannya kosong ke arah lalu-lintas yang begitu padatnya, kadang terlintas, sampai kapan ia harus menghitung langkah di jalan setiap pagi seperti ini? Profesi yang ia lakoni jelas tak akan membuat pangkatnya naik. Hanya cukup untuk membiayai sekolahnya sendiri. Satu-satunya cahaya harapan yang bersinar di ujung jalan sana hanyalah sekolah. Tapi terkadang terbersit perasaan gamang juga di kepala Arya. Apa ia akan sanggup merangkak sampai perguruan tinggi?

“Hei, koran! Sini, koran!” Lamunan Arya terputus oleh teriakan suara sengau. Seorang jangkung berambut pirang berkacamata hitam melambaikan tangannya kearah Arya. Tapi ia harus menyeberang ke seberang jalan.

“Korane Wong Jogja, Cah!”14

Kening Arya langsung berkerut. Pandangannya beralih dari kaki ke wajah. Bulu-bulunya berwarna kemerahan.

“Kowe ndelengke opo, Cah?”15

“Mister Iso Ngomong Jowo?”16

“Eeng gek land!” Bule itu berseru. “Opo-opo Wae digumuni.”18
 
Arya hampir saja terbahak mendengar kalimat itu. Tapi ia buru-buru mengambil beberapa koran dalam tasnya. “Iso boso Indonesia yo mister?”19

Bule itu tersenyum, “Wong londo sinahu boso indonesia, wong indonesia sinahu boso londo.”20

Bibir Arya tidak lepas dari senyum, “Pilih Kedaulatan Rakyat apa Bernas, Mister?”

“Sing iki wae.”21 sambil mengulurkan selembar uang dua puluh ribuan. Arya segera merogoh saku celananya.

“Dalan ning keraton lewat endi, Cah?”22  suara sengau itu mulai bertanya.

“Dari sini lurus ke barat sampai nanti Mister ketemu kantor pos besar. Nah, dari situ nanti Mister beloklah ke Selatan.” Arya tak menoleh karena masih sibuk menghitung uang kembaliaan.

Tangan besar itu menepuk Arya, “Wis, jupuken wae susuke.”23

Arya serasa masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Bule itu memberikan salam perpisahan dengan senyum dan lambaian tangan.

***

Keringat Arya membanjir. Ia melemparkan begitu saja sepedanya di samping kios Mas Erwin. Pintu gerbang sekolahnya telah digerendel.

“Lewat belakang saja ya,” ucap Mas Erwin saat menerima koran Arya yang masih bersisa dua buah.

Arya harus memutar langkah. Ia memilih arah utara melalui lapangan SD yang besebelahan dengan komplek SMA. Jika ia memilih arah Selatan, jelas tak nyaman karena harus memanjat tembok pagar rumah orang dan melewati halaman belakang kantor guru SMP. Beberapa guru SD yang melihatnya menatapnya dengan tajam, menyangka Arya termasuk anggota geng anak-anak nakal. Perasaan tak nyaman itu menyelinap juga. Baru kali inilah Arya terlambat.

Arya mengukur kira-kira tinggi tembok pagar belakang sekolah itu. Hampir dua kali setengah tubuhnya, jelas tidak mungkin meraih puncaknya meski ia melompat. Saat itulah pandangannya menemukan sebuah pohon pepaya yang tumbuh menjulang berdempetan dengan tembok. Ia menoleh ke sekeliling sejenak sebelum mulai memanjat. Kebun sekolahan itu sepi.

Arya menghitung dalam hati sebelum mulai melompat. Nafasnya satu-satunya saat ia berhasil mendarat. Saat bangkit, mendadak ia merasakan nyeri dilutut. Ia terpincang-pincang saat melangkah.

Arya tidak akan masuk kelas sekarang. Itu sama artinya dengan bunuh diri. Ia harus menunggu hingga jam bergantiaan pelajaran. Sekarang tempat teraman baginya adalah WC. Tapi sialnya ia harus ,menyebrangi ruang perpus, aula, dan gudang. Ia harus berjalan mengendap agar kepalanya tak terlihat melalui jendela.

“Hei, kau, balikkan tubuhmu !”
        
Arya tersentak mendengar suara dibelakangnya itu.Tamatlah sudah riwayatnya !

***

Tubuh Arya yang basah keringat telah meruapkan bau tak sedap. Panas matahari pagi telah berhasil memeras air dalam tubuhnya. Hampir dua jam pelajaran penuh ia dan tiga orang siswa lainnya dijemur dilapangan tengah. Semua penghuni sekolah jadi bisa mengetahui siapakah orangnya yang menjadi terhukum hari ini.

“Hee...Bumi gonjang-ganjing.... Dewa Ruci melompat pagar hari ini, ha-ha-ha...!”Arya disambut gelak tawa ejekan saat masuk ke dalam kelas.

“Hee..Bumi gonjang ganjing...Dewa Ruci dijemur kayak kerupuk hari ini, ha-ha-ha...!”

Tiba-tiba terjadi keributan. Bambang berhasil meninju pipi Noval hingga bibirnya berdarah. Joko dan Aris balas menggelandang tangan Bambang dan mendorongnya ke meja guru. Tubuh bongsor bambang terpelanting. Anak-anak perempuan menjerit.Arya langsung menahan tangan bambang yang berhasil bangkit.

“Sudah, Mbang, sudah... “
        
“Ini bukan karena kamu ya. Ini dendam pribadiku!” Bambang menepis tubuh Arya Sena hingga tubuh mungil itu terjengkang. Saat Arya mengaduh tertahan memegangi lututnya, Bambang baru tersadar akan perbuatannya.

Arya bisa melihat kedua mata Bambang yang memerah berkaca-kaca. Anak bongsor itu kemudian lari menembus kerumunan anak-anak, keluar kelas.

“Mau lari ke mana, hei, orang Arab kesasar!”

“Takut dengan kami ya?!”

Ketiga anak itu masih saja teriak-teriak menantang. Beberapa anak telah menahan tubuh mereka. Bersambung


Berbagi Tulisan

Artikel Sebelumnya :

  • Bukan Cinta Manusia Biasa (episode 6-tamat)
  • Bukan Cinta Manusia Biasa (episode 5)
  • Bukan Cinta Manusia Biasa (episode 3)
  • Bukan Cinta Manusia Biasa (episode 4)
  • Bukan Cinta Manusia Biasa (episode 2)
  • Bukan Cinta Manusia Biasa (Episode 1)
  • Belenggu Kasih Sayang (Bag 6 Tamat)
  • Belenggu Kasih Sayang (Bagian 6)
  • Belenggu Kasih Sayang (Bagian 5)
  • Belenggu Kasih Sayang (Bagian 4)
  • Belenggu Kasih Sayang (Bagian 3)
  • Belenggu Kasih Sayang (Bagian 2)
  • Belenggu Kasih Sayang (Bagian 1)
  • Baabul Fath (Bagian 4, Tamat)
  • Baabul Fath (Bagian 3)
  • Untitled Document