Untitled Document

Kategori : Resensi

Dibaca : 843 Kali

Tertawa Bersama, Lalu Mari Belajar Arif Beragama

 

Judul Buku: Bocah Muslim di Negeri James Bond

Penulis: Imran Ahmad

Penerbit: Mizan

Jumlah halaman: 466

 

Jika masa kanak-kanak adalah masa yang indah tanpa beban, menikmati dekapan hangat keluarga, dan dianggap “menggemaskan” oleh lingkungan dengan berbagai pemakluman jika dianggap salah, maka apakah ini juga berlaku bagi Imran Ahmad? Buku Bocah Muslim di Negeri James Bond menjawab pertanyaan ini. Mengungkapkan perasaan terdalam dari pengalaman-pengalaman masa kecil Imran Ahmad di Inggris, kita disuguhnya kenyataan Barat menyisakan ketimpangan yang di mata seorang bocah membingungkan. Status muslim, nama yang sama sekali tidak “Inggris”, dan berasal dari keluarga imigran pula menyisakan kenangan atas perlakuan-perlakuan yang pernah dialami Ahmad dari teman, guru, dan lingkungan rumahnya.

Imran menuliskan hal itu menjadi biografi yang sangat apa adanya. Keluar dari pandangannya sebagai manusia saja, yang kebetulan menjadi muslim di tengah dominasi komunitas nonmuslim. Tentunya sesuai kapasitas umurnya dalam rentang 1 tahun hingga 25 tahun. Tulisannya sangat humanis karena tidak menyiratkan kemarahan yang meluap-luap atau konfrontasi yang keras. Ketidakadilan, diskriminasi, dan cap buruk muslim (sebagai teroris, misalnya) di negara-negara Barat, sebenarnya adalah ketidaknyamanan secara universal yang bisa menimpa siapa saja. Setidaknya itulah pemikiran yang bergulir ketika membaca memoar yang ditulis Imran.

Karena ini sebuah memoar, peristiwa-peristiwa paling pribadi pun dikemukakan dengan jelas oleh Imran. Cukup penting untuk kita memahami sejauh mana sebenarnya sikap mental anak imigran muslim di Inggris berinteraksi dengan teman-temannya. Di lingkungan rumahnya Imran dan keluarganya mendapat sikap tak menyenangkan dari tetangga sampai pada level cukup brutal hanya karena pribumi Inggris itu menilai imigran adalah perampok harta di Inggris. Imran sering mengungkapkan keinginannya membalas serangan itu dan berharap sesuatu yang buruk terjadi pada tetangganya. Untuk itu ia hanya mampu bergumam dalam hati saja.

Gairah masa muda sejak bersekolah hingga menginjak perguruan tinggi pada diri Imran selalu berhadapan dengan kebiasaan sebagai muslim. Di sinilah letak kelucuan banyak terjadi. Imran menggunakan jas dengan memakai celana katun didalamnya menghindari gesekan kasar pada kulitnya. Setengah mati sejak sekolah dan berlanjut ketika bekerja ia menyembunyikan agar tak seorang pun tahu. Lalu beberapa kisah tentang kedekatannya dengan Janice, sahabatnya yang ia yakini betul nanti menjadi isterinya meskipun Janice menolak dipacari Imran. Ketika Imran mulai berkarir di Unilever, impian itu tak pernah terwujud. Janice menikah dengan pria Australia setelah gadis itu bekerja di sana.

Sungguh tidak ada bagian yang tidak menarik dari buku ini karena begitu ringannya Imran bercerita. Semua hal yang bersifat remeh sehari-hari tertuang tapi sarat perenungan sebuah makna. Termasuk ketakutannya jika Islam bukanlah sebuah agama yang benar, karena Auden dan Robinson (kristen fundamentalis) yang menakuti-nakuti akan ada hari pengangkatan dan yang mengimani segera bearti selamat. Sementara dirinya muslim yang berarti termasuk bagian yang tidak memperoleh keselamatan itu.

Di Inggris Imran telah menjadi bagian dari negara yang dipimpin Ratu Elizabeth. Belajar, bersekolah, bekerja, dan tak lagi berharap akan menjadi warga negara Pakistan karena keluarganya telah memutuskan. Usaha yang ia lakukan untuk menjadi lebih Inggris dari anak-anak Inggris  asli sekalipun menunjukkan betapa setiap orang tidak ingin dianggap tidak pantas dan patut dijauhi. Imran menjaga penampilan, sesuatu yang dianggapnya Tuan Keren dibanding teman-temannya yang urakan. Menggunakan dialek berbahasa Inggris yang benar dan selalu menunjukkan prestasi akademik yang terjaga. Meskipun Imran pernah gagal mendapatkan gelar honours bidang kimia karena masa labilnya sebagai pemuda, kemudian ia kejar pada tahun berikutnya sampai program doktor.

Masih banyak peristiwa-peristiwa seru, kecil dan besar yang dialami Imran. Sudut pandangnya memang sangat subjektif menceritakan siapa dan apapun yang berkelebat di pikirannya. Tapi dari subjektifitas yang jujur itulah sebenarnya banyak orang bisa mengetahui “bagaimana rasanya menjadi muslim, imigran pula di Barat?”

Imran telah berhasil menuliskan masa-masa penting hidupnya yang menggelikan, padahal serius. Ringan padahal berat dalam konteks keberagaman peradaban manusia. Soal perbedaan semuanya akan kembali sunatullah yang dalam bahasa umumnya kenyataan. Tetap saja nurani kemanusiaan memang tak pernah bohong karena ia meruang dalam dimensi universal. Imran mencoba mengetuk bagian ini kepada siapa pun yang membaca bukunya. [Elzam]

 


Artikel Sebelumnya :

Untitled Document