Tanggungjawab Setiap Publikasi Berpulang pada Penulisnya

Diposting: Jumat, 12 Februari 2010 / 11:19:38 | Oleh: annida | Kategori: Aksara

Halaman ini diakses sebanyak: 111 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Hawe Setiawan

 

Pada hemat saya, kegiatan tulis-menulis pada dasarnya baik untuk siapa saja, tak terkecuali untuk kalangan selebritis. Jika "budaya pop" kita dibarengi dengan keterampilan dan kesanggupan mengolah kata sedemikian rupa hingga mencapai taraf yang sedikit banyak dapat disebut sastra, saya kira, apa yang disebut "budaya pop" itu sendiri akan berkembang ke arah yang lebih baik. Malah, siapa tahu, hal itu akan turut memperkaya apa yang disebut "sastra" itu sendiri. Yang sangat penting ditekankan dalam hal ini, menurut saya, adalah menghindari kekeliruan memahami apa yang disebut "budaya pop" dan kekeliruan memahami tujuan menulis. Tujuan utama menulis buku, saya kira, bukan untuk mendapatkan predikat "penulis".

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri para penulis yang berasal dari dunia hiburan. Yang pasti, adanya bintang-bintang dari dunia hiburan yang menulis buku bukanlah fenomena baru. John Travolta, misalnya, menulis buku cerita Propeller One-Way Night Coach. Barangkali, sejumlah selebritis di Indonesia sedang berupaya untuk terus memperbaharui diri melalui kegiatan menulis.

Opini publik menganggap artis tidak memiliki cukup kompetensi atau IQ yang jongkok, yang bertolak belakang dengan kemampuan menulis. Kalaupun ada pendapat demikian, saya kira, belum tentu pendapat itu mengandung kebenaran. Boleh jadi pendapat seperti itu bersifat stereotipikal. Sebaliknya, kemungkinan menggejalanya inkompetensi juga bisa terjadi pada kalangan yang menyebut diri atau disebut sebagai penulis. Yang pasti, untuk menulis, sebagaimana untuk melakukan bidang kegiatan lainnya, memang diperlukan kecerdasan tersendiri. 

Adanya ghost writer bisa dimanfaatkan seseorang untuk memuluskan keinginan menjadi penulis. Tapi saya tidak tahu proses kreatif seperti apa yang ditempuh oleh para artis. Yang pasti, tanggung jawab dari setiap publikasi tentu akan terpulang pada orang yang namanya  disebutkan dalam publikasi dimaksud sebagai penulisnya. Saya sendiri tidak sempat membaca sebagian besar karya yang ditulis artis, sayang sekali. Sejauh ini, karya yang sempat saya baca adalah Supernova karya Dewi Lestari dan beberapa puisi karya Rike Dyah Pitaloka. Menurut kesan saya, mereka sepertinya punya publik pembacanya sendiri.

Lalu bagaimana penerimaan masyarakat terhadap buku-buku yang ditulis artis itu sendiri? Pertanyaan ini sangat penting, tapi untuk menjawabnya diperlukan survai yang cermat. Survai diperlukan untuk mengetahui resepsi pembaca atas karya-karya mereka. Yang pasti, hari depan karya-karya mereka akan sangat bergantung pada sejauh mana karya-karya itu diterima oleh masyarakat pembaca. Pada hemat saya, buku yang baik adalah buku yang tidak pernah membosankan untuk dibaca berulang-ulang.

Dari sisi industri buku, saya kira adanya tulisan-tulisan karya para selebritis tentu merupakan ladang usaha tersendiri. Hal yang penting disadari dalam hal ini adalah kesadaran bahwa kalaupun industri buku mementingan keuntungan dari bisnis penerbitan, dalam jangka panjang kepentingan itu tetap mesti ditopang oleh selera atau ukuran estetika yang baik. Buku buruk selain akan berumur pendek juga dapat merugikan industri penerbitan itu sendiri.

Saya kurang sependapat jika artis menulis buku secara umum hanya agar lebih terkenal atau dianggap multi talenta sehingga eksistensi mereka tetap terjaga sesuai tuntutan profesi mereka yang mengharuskan demikian. Sebagai dosen yang mengajarkan kegiatan tulis-menulis, saya sepakat dengan pandangan penulis Brenda Ueland (1891-1985): "everybody I talented, original and has something important to say". Sekalipun mereka menulis untuk meningkatkan popularitas, baik sekali jika mereka pun menyadari bahwa jalan menulis menuntut kesanggupan untuk menggali apa yang penting ditulis dan bagaimana cara menuliskannya. [Elzam]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :