SEBUAH BUKU DI TENGAH PERTARUNGAN KEYAKINAN

Diposting: Senin, 07 Desember 2009 / 18:13:20 | Oleh: annida | Kategori: Aksara

Halaman ini diakses sebanyak: 386 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Buku adalah jendela dunia, begitu orang bijak berujar. Namun, bijak jugakah bila kita mengatakan bahwa buku adalah medan laga, tempat para petarung intelektual mempertaruhkan keyakinannya? Mungkin ya, apalagi jika melihat sejarah; betapa sebagai arena pertarungan buku kerap harus menghadapi lawan yang tak seimbang: api.

Sebagai Arena, Penghapus Trauma

Pembakaran buku kembali terjadi. Kali agak spesial peristiwanya, karena melibatkan insan akademis.  Pada 2 September lalu, massa yang tergabung dalam Front Anti Komunis (FAK) menggelar pengadilan jalanan dengan membakar buku Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah (Hasta Mitra, 2008) karya Soemarsono. Dalam peristiwa yang diikuti oleh beberapa ormas Islam se-Jawa Timur itu juga hadir Prof. Dr. Aminuddin Kasdi, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Surabaya.

Peristiwa itu segera menuai gelombang protes dari berbagai kalangan, terutama para aktivis dunia literasi. Mereka menyayangkan tindakan pembakaran buku secara umum dan pernyataan Prof. Aminuddin secara khusus, yang berkata bahwa orang-orang komunis selalu menikam dari belakang. Buku karangan Soemarsono juga dinilainya sebagai penyelewengan sejarah, terkait penyebutan Soemarsono sebagai tokoh kunci dalam salah satu tulisannya yang berjudul "Soemarsono: Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya".

Peristiwa itu memang terjadi di Jawa Timur, tapi jika dirangkaikan dengan kejadian serupa di tanah air, rangkaiannya menjadi cukup panjang. Pascareformasi saja, sepanjang Juni-Agustus 2007 terjadi pembakaran terhadap buku-buku sejarah di beberapa wilayah. Sebanyak 14.960 eksemplar buku sejarah dari 13 penerbit dibakar. Buku sebanyak itu merupakan hasil operasi di 15 daerah di Jateng. Di Depok, Jabar, 1.400 eksemplar buku sejarah Indonesia dimusnahkan. Peristiwa ini diikuti oleh Dinas Pendidikan Purwakarta yang meludeskan sekitar 300 buku. Dengan catatan ini, peristiwa pembakaran buku terjadi paling banyak pada pemerintahan SBY.

Buku, tentu saja, sangat rentan terhadap api, sehingga aksi pembakaran menjadi sangat efektif untuk melenyapkan bukti "penyelewengan sejarah, ideologi sesat, atau pemikiran yang tak sepaham". Namun, jika pembakaran dimaksudkan sebagai cara untuk melenyapkan ideologi, maka apapun jenis aksinya ideologi tak akan pernah mati. Bukunya boleh musnah, tapi tidak dengan pikiran-pikirannya, sebab teks-teks yang ikut hilang bersama kertas yang menjadi abu telah tersalin ke dalam otak pembacanya.

Jika kita mencoba membuat metafora buku sebagai arena pertempuran, buku dengan ideologi apapun sesungguhnya membuka pintu untuk sebuah peperangan. Tidak ada ideologi dalam buku yang tidak bisa dilawan dengan ideologi (dalam buku) juga.

Maka, melakukan perlawanan ideologi terhadap sebuah buku dengan cara menulis ideologi tandingan, adalah cara yang lebih efektif, mulia, dan beradab. Efektif, karena buku-buku perlawanan akan memperkaya wawasan pembaca dalam menentukan pilihan ideologinya. Mulia, kaitannya dengan cara yang pernah ditempuh oleh para pendahulu kita. Imam Al-Ghazali, misalnya, pernah menulis kitab Tahafut al-Falasifah sebagai reaksinya terhadap aksi para filsuf Muslim yang mempraktikkan ajaran-ajaran Yunani. Hebatnya, Al-Ghazali tidak menulis kritik kerasnya berdasarkan emosi yang melua-luap. Sebelum menulis Tahafut al-Falasifah, ia mempelajari filsafat Yunani hingga tuntas. Hasilnya, Al-Ghazali mengelompokkan filsafat Yunani menjadi tiga aliran, yaitu Dahriyyun (mirip aliran materialisme), Thabi iyyun (mirip aliran naturalis), Ilahiyyun (nirip aliran Deisme). Menurut Al-Ghazali, Dahriyyun mengingkari keterciptaan alam. Alam senantiasa ada dengan dirinya sendiri, tak ada yang menciptakan. Aliran Thabiiyyun mengakui adanya Tuhan tapi justru mereka berkesimpulan "tidak mungkin yang telah tiada kembali". Menurutnya, jiwa itu akan mati dan tidak akan kembali. Aliran ketiga, Ilahiyyun, adalah kelompok mutakhir para filosof Yunani. Tokoh-tokohnya adalah Socrates, Plato (murid Socrates), dan Aristoteles (murid Plato). Menurut Al-Ghazali, Aristoteles-lah yang berhasil menyusuan logika (manthiq) dan ilmu pengetahuan, tapi masih terdapat beberapa produk pemikirannya yang wajib dikafirkan sebagaimana wajib mengafirkan pemikiran bidah dari para filosof Islam pengikutnya seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi. Menurut Al-Ghazali, pemikiran filsafat Yunani seperti filsafat Socrates, Plato, dan Aristoteles, bahkan juga filsafat Ibnu Sina dan al-Farabi tidak sesuai dengan yang dicarinya, bahkan kacau (tahafut).

Cara-cara yang dilakukan Al-Ghazali selain mulia juga beradab, sebab kehadiran sebuah buku tidak menyebabkan trauma bagi masyarakat Akibat tindakan-tindakan destruktif (seperti pembakaran). Ini terbukti dengan terbitnya buku-buku jawaban atas buku Al-Ghazali dari kalangan ilmuwan Muslim penganut filsafat Yunani, yaitu kitab Tahafut al-Tahafut karya Ibnu Rushd dan novel-filsafat Ibnu Tufail, Hayy Ibn Yaqzan. Moral mereka pun tak terganggu dengan perbedaan keyakinan itu. Ibnu Tufail, misalanya berkata tentang Al-Ghazali: "Tak di ragukan lagi bahwa Syeikh Abu Hamid (Al-Ghazali) termasuk orang yang telah merasakan puncak kebahagian dan telah sampai kepada fase termulia dan kudus (fase ulu asshidq atau pengetahuan sejati dalam konteks nilai pengetahuan).

Tradisi para ilmuwan ini mengajarkan kepada kita bahwa buku-buku tandingan yang menjawab sebuah buku yang dianggap menyimpang, begitu juga sebaliknya, dapat menggiring masyarakat untuk membentuk kelompok-kelompok pemikir-kritis yang dapat dijadikan tempat menyiapkan amunisi perlawanan ideologi. Masyarakat juga terhindar dari budaya anarkis yang dapat menyebabkan mereka terseret pada proses penghinaan terhadap intelektual dan akal sehat, cara-cara yang pernah dilakukan komplotan perampok Tartar ketika menjarah Baghdad dengan, salah satunya, membakar perpustakaan berisi ribuan buku pada era Khalifah Al-Mu tasim.

 

Saling Melindungi, Saling Memberi Manfaat

Jika melawan ideologi yang dianggap sesat dilakukan dengan menulis, dan hasilnya adalah iklim edukasi yang dapat menguatkan kecerdasan masyarakat, maka melawan ideologi yang sekadar berselisih paham tentu akan mendatangkan kebaikan yang lebih banyak. Hal ini dapat kita lihat di kalangan para aktivis dunia pergerakan.

Kalangan yang disebut-sebut sebagai salafi, misalnya, punya tradisi positif dalam merespon perbedaan pandangan keislaman. Mereka menulis buku yang mencoba mengkritisi fenomena atau buku karya aktivis dari jamaah yang berbeda. Sebuah buku yang mereka tulis, misalnya, berjudul Rapor Merah Aa Gym, MQ di Penjara Tasawuf karya Abdurrahman Al-Mukaffi (Darul Falah, Jakarta 2003). Buku ini segera mendapat respon dari kalangan yang pro Aa Gym yang menulis buku tandingan berjudul Salah Paham Penyakit Umat Islam Masa Kini (Jawaban Atas Buku Rapor Merah Aa Gym) yang ditulis oleh Tengku Zulkarnaen. Buku Terbitan Yayasan Al-Hakim (Jakarta, Agustus 2003) ini membantah tuduhan-tuduhan Al-Mukaffi terhadap Aa Gym dan jamaah MQ-nya. Lepas dari cara-cara kalangan salafi yang terkenal suka membidahkan, merasa benar sendiri, bahkan tak jarang mengafirkan jamaah lain, tradisi menulis buku dalam menuangkan pandangan-pandangan mereka merupakan budaya yang produktif dibandingkan aksi-aksi destruktif seperti pembakaran buku, adu jotos, atau adu mulut.

Perkembangan menggembirakan juga datang dari kalangan pembincang topik-topik yang sensitif seperti poligami. Jika dulu para pelaku poligami lebih memilih defensif dengan cara menyerang balik orang-orang yang dipandang mengusik pilihan keyakinan mereka dengan cara-cara klasik seperti adu mulut, kini mulai muncul perlawanan yang positif dan sportif. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya buku Menghapus Catatan Gelap Poligami karya Didin Amaruddin (Yayasan Adil, 2007). Buku ini terbit sebagai bantahan atas buku karya Cahyadi Takariawan, Bahagiakan Diri dengan Satu Istri (Era Intermedia, 2007) yang menuai protes dan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk dari aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL)  Nong Darol Mahmada yang menulis resensinya di web Gatra dan JIL dengan memuji-muji Cahyadi.

Dalam analisisnya, Didin menganggap bahwa sikap Cahyadi terhadap praktik poligami sama dengan sikap para penentang poligami dari kalangan Islam liberal seperti Amir Ali dan Musdah Mulia. Pendapat Amir Ali, Musdah Mulia, dan Pak Cah substansi samanya, yaitu pengingkaran terhadap poligami. Hanya kemasannya saja yang berbeda untuk gagasan yang sama. Amir Ali, mempertimbangankan kondisi sosial politik yang berubah, Musdah pertimbangan hak azasi manusia, sementara Pak Cah memakai kemasan fiqhud dakwah dan kewajaran pada zamannya untuk memalingkan orang dari poligami. Jadi apapun kemasannya, produk gagasan yang dijual tetap sama; bahwa poligami tidak relevan lagi untuk diterapkan saat ini, tulis Didin.   

Sementara itu kepada wartawan Cahyadi menjelaskan sikapnya terkait dengan bukunya yang menuai kontroversi. Menurut Cahyadi, ia menulis buku BDDSI tidaklah untuk membahas hukum poligami yang menurutnya sudah final. Ia mengibaratkan poligami dengan shalat. Kewajiban shalat, kata Cahyadi, tak bisa dibantah. Namun, dalam praktiknya, banyak orang yang shalat tapi tetap menjalankan maksiat dan dosa. "Apakah yang salah shalatnya?" katanya. Demikian juga dengan poligami. Melalui bukunya, Cahyadi berniat "meluruskan" para pelaku poligami dan bukan mengampanyekan antipoligami.

Saling serang antara Cahyadi dan Didi, dalam bukunya masing-masing, adalah contoh baik bagi upaya melindungi kepentingan kelompok masyarakat dari tindakan-tindakah represif yang dapat mengancam integritas mereka. Dalam iklim ini, masyarakat yang propoligami tidak merasa terzalimi oleh buku Cahyadi, sebagaimana mereka yang antipoligami tidak merasa gerah ketika membaca buku Didin. Mereka justru dapat menarik manfaat dari aktivitas adu wacana lintas keyakinan itu. [Iyus/berbagai sumber]

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :