"Penulis Harus Idealis, Tapi Juga Realistis"
Diposting: Kamis, 21 Januari 2010 / 02:40:40 | Oleh: annida | Kategori: Aksara
Halaman ini diakses sebanyak: 177 kali
Rating: 0
Bambang Joko Susilo, Penulis
Sejak dulu, ada gurauan bahwa orang yang memilih hidup menjadi penulis adalah orang yang nekat dan tersesat. Akan tetapi apa boleh buat, bagi saya menjadi penulis adalah panggilan jiwa, sehingga saya memutuskan untuk serius memenuhi panggilan itu.
Jika ditanya siapa yang paling bertanggung jawab atas nasib penulis, apalagi saat ini cukup banyak penulis yang nasibnya memilukan, apakah pemerintah yang bertanggung jawab? Atau penerbit? Menurut saya yang memikul tanggung jawab paling besar yaa penulis itu sendiri, sudah tahu jadi penulis itu tidak ada jaminan hidup sukses, kok ya masih mau jadi penulis!
Memang
sih, pemerintah seharusnya ada andil untuk memperbaiki nasib penulis.
Sebagaimana guru, penulis juga
Kalau
dikatakan nasib penulis ada pada kejujuran penerbit, saya sebenarnya tidak bisa
berkomentar banyak, karena selama ini saya memang tidak pernah komplain pada
penerbit, saya menerima dan percaya saja pada perhitungan mereka. Akan tetapi,
ada rekan sesama penulis yang bercerita, dan ini juga ditambah pengakuan dari
orang dalam penerbit itu sendiri, bahwa ada kasus di mana penerbit berlaku
curang, ada sebuah buku yang sebenarnya sudah mengalami cetakan ulang, tapi
malah masih dicantumkan "cetakan pertama" agar penulisnya tidak tahu, padahal
buku tersebut lux dan harganya di atas tujuh puluh ribu rupiah per eksemplar.
Tindakan tidak jujur penerbit tersebut
Bicara mengenai mutu karya para penulis di industri perbukuan saat ini, memang seringkali penulis berkarya tergantung pada tren, kalau yang sedang laku teenlit, ramai-ramai para penulis membuat teenlit, kalau yang sedang tren adalah buku seperti Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, maka banyak penulis lain mengekornya. Bagi saya, tren adalah ritme alam yang tidak terbendung, wajar jika dewasa ini banyak penulis yang berkarya sesuai pesanan atau minat pasar.
Saya sendiri menilai, penulis itu terbagi dua: penulis idealisme dengan penulis realistis. Nah, di zaman sekarang ini menurut saya keduanya harus sejalan, idealis tapi juga realistis! Tidak bisa penulis hanya mengandalkan idealisme saja, tapi perutnya kosong, itu omong kosong. Akan tetapi, penulis yang realistis harus juga dilandasi oleh idealisme, karena idealisme inilah yang bisa menyemangatinya untuk terus menjadi penulis. Tanpa idealisme, realisme penulis akan luntur.
Itulah
sebabnya, terkadang saya membagi tulisan karya saya menjadi dua: karya yang
idealis dan karya yang realistis. Untuk karya yang idealis, saya tidak bersedia
penerbit mengotak-atiknya, kalau mau menerbitkan yaa harus seperti itu, jangan
ditambah atau dikurangi! Lebih baik saya mondar-mandir mencari penerbit lain
yang mau menerbitkan apa adanya, tidak peduli butuh waktu lama sekalipun,
daripada harus direvisi
Saya
setuju sekali jika ada gagasan untuk membentuk Asosiasi Penulis Profesional,
forum yang bertujuan untuk mengurus masalah komersial penulis. Yang namanya
menulis profesional itu
Nah, saya rasa yang perlu diperhatikan oleh forum seperti itu nantinya adalah mengenai negosiasi surat perjanjian antara penulis dengan penerbit, kalau bisa… yang namanya royalti itu diseragamkan saja, kalau mau mematok 10 persen yaa 10 persen untuk semua penerbit, jangan dikurang-kurangi lagi, 10 persen saja bukan jumlah yang besar. Belum lagi dipotong pajak, kalau bisa pajak untuk penulis yang penghasilannya masih kecil ditiadakan saja!
Kemudian
mengenai sistem pembayaran beli putus, seringkali penulis dirugikan dengan
sistem ini, karena jika karyanya yang dibeli putus itu laris manis, penerbit
sering acuh tak acuh terhadap jasa penulisnya. Kalau bisa, dibuat klausul dalam
Lampiran movie tidak tersedia.
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.




