ARTIS MENULIS: KABAR MANIS ATAU BERITA MIRIS?

Diposting: Jumat, 12 Februari 2010 / 11:37:29 | Oleh: annida | Kategori: Aksara

Halaman ini diakses sebanyak: 245 kali Kirim ke teman via email Cetak konten ini

Rating: 0

Dunia baca-tulis Indonesia mencatat kesaksian baru tentang kehadiran sejumlah penulis yang berasal dari kalangan pesohor. Mereka adalah para artis yang, tiba-tiba saja, mampu menorehkan renungan, amatan, bahkan imajinasinya ke dalam rangkaian kalimat yang selama ini menjadi domain para penulis, sastrawan. Apakah ini kabar yang manis, yang berarti menjadi bukti kedigjayaan dunia menulis yang mampu menembus kalangan pelaku budaya hedon? Atau, ini malah jadi berita yang memiriskan, mengingat mencuat juga fenomena penulis hantu yang kehadirannya amat memuluskan niat para artis untuk berlaga di dunia literasi, dunia yang mengandalkan kekuatan otak, ketajaman mata-batin, yang selama ini telanjur dipersepsikan jauh dari dunia artis? Kita lihat saja.

Membuka Tempurung Mereka

Bagimana dunia artis dapat menjelaskan kepada kita tentang "tempurung" mereka? Tayangan infotainment bisa menjelaskannya. Tipikal program teve yang satu ini bisa disimpulkan dalam satu kata saja: gosip. Dan, agaknya, kata ini dapat mewakili situasi di dalam tempurung kehidupan kaum artis. Mengapa demikian?

Ya, tampaknya karena ada relasi yang erat antara karakter kehidupan artis yang mengharuskannya untuk show up (baca: selalu tampil) dan kebutuhan media untuk menyuplai informasi kepada publik tentang para pelaku dunia hiburan (film, sinetron, musik, iklan). Di sinilah berlaku kaidah "name makes news".

Artis digosipkan, tentu saja, karena mereka adalah jenis manusia yang dikenal secara luas sebagai pelaku di dunia program televisi. Ini satu sisi, dan satu sisi lainnya adalah media massa yang mendorong publik untuk, secara terus menerus, mengetahui kehidupan mereka di luar ketokohan mereka sebagai aktor, penyanyi, bintang sinetron, atau bintang iklan. Perselingkuhan, perceraian, pertengkaran, adalah tiga contoh dari sekian banyak angle dunia artis yang diterima oleh publik.

Ruang yang berada di antara kehidupan artis dan kebutuhan media itulah tempat publik mencerna karakter profil artis melalui gossip dengan berbeda-beda nama tetapi tetap satu jua, yaitu infotainment itu tadi. Program televisi yang mengedepankan berita-berita sensasional kaum pesohor ini mengokohkan tempurung kehidupan kaum artis sebagai tempat yang jauh dari isu-isu intelektual, human insterest, dan kebudayaan secara umum, sesuatu yang telah lama menjadi ranah perhatian kaum intelektual seperti sastrawan dan peneliti.

Lekatnya citra kaum artis sebagai kalangan yang jauh dari ranah intelektual, tampaknya karena dunia hiburan yang serba menjajikan kehidupan yang menjadi impian khas kaum urban: terkenal dan kaya. Untuk mencapai impian itu, calon artis bahkan rela untuk mengesampingkan pendidikannya. Logika yang mereka pakai adalah, jika dengan berakting mudah mendapatkan uang, mengapa pula mereka harus capek-capek sekolah, karena toh kelak mereka juga harus bekerja-sebagai tuntutan sosial.  

Dengan situasi tempurung seperti ini, kaum artis kemudian membentuk kalangan snob; gila popularitas dan tak mau bergaul dengan "orang kecil". Mereka menjauhkan diri dari kutub kehidupan sosial dan citra mereka didefinisikan oleh media sebagai kehidupan selebritas. Mereka amat dekat dengan pusat-pusat perubahan trend, dari pakaian, kosmetik, hingga perkakas teknologi. 

 

Migrasi yang Ekstrem

Saat citra snob telah lekat dalam kehidupan kaum artis, manuver yang mereka lakukan alih-alih keluar dari tempurungnya menjadi terlihat ekstrem. Misalnya saat beberapa di antara mereka mengajukan diri menjadi  calon legislatif (caleg) pada pemilu atau menjadi calon wakil bupati di pilkada. Meski masyarakat bisa menerimanya, tapi tak pelak mereka pun berpikir, "apa yang bisa dikerjakan artis kalau mereka terpilih jadi wakil rakyat/pejabat daerah?".  Pikiran ini berangkat dari kenyataan tak terelakkan yang diwartakan oleh infotaiment tentang kehidupan kaum artis.

Nah, itu pulalah yang terjadi ketika beberapa orang artis ikut gigi di ranah kepenulisan. Pengamat perbukuan Hawe Setiawan melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang lumrah, mengingat dunia kepenulisan bisa dimasuki oleh siapa saja. Di dunia internasional, kata Hawe, hal ini malah bukan hal yang asing. Hawe mencontohkan John Travolta yang menulis buku buku cerita Propeller One-Way Night Coach.

Tentu saja, mempersamakan artis Indonesia dengan artis Hollywood bukanlah tindakan yang bijaksana. Dari sisi intelejensia, misalnya, artis kita punya masalah serius pada wawasan ilmu pengetahuan dan cara menyampaikan gagasan. Sebuah tayangan teve yang mencegat para artis lalu menodongnya dengan pertanyaan umum seperti, "apa yang dimaksud dengan hak interpelasi?", misalnya, menunjukkan hal yang memprihatinkan. Tak ada seorang pun artis yang dicegat dengan pertanyaan itu sanggup menjawabnya. Bahkan, pembawa acara "nekat" mengajukan pertanyaan yang "remeh" kepada seorang komedian terkenal. Pertanyaannya: "Apa bunyi sila ketiga Pancasila?" Hasilnya, sang komedian berkelit sambil menggerutu, "Apa sih, pertanyaan anak SD begitu ditanyain?"

Dengan situasi seperti ini, tak mengherankan bahwa ketika penyanyi Dewi "Dee" Lestari mengawali debut kepenulisannya dengan novel Supernova, ia berusaha mati-matian meyakinkan publik bahwa dirinya bukan cuma seorang artis melainkan juga seorang sastrawan. Tak tanggung-tanggung, Dee membiayai sendiri penerbitan bukunya, dengan cover bertuliskan keterangan "Karya Sastra" sekaligus menjembreng endorsement dari kalangan sastrawan papan atas Indonesia. Tak cukup begitu, Dee juga menyambangi para mahasiswa dengan program roadshow dari kampus ke kampus untuk menjual novelnya dengan harga mahasiswa.

Tak semua artis mengikuti langkah spektakuler Dee. Sebagian artis seperti Rieke Dyah Pitaloka tak begitu ngoyo dengan sebutan sastrawan atau penulis puisi. Ia tampaknya cukup tahu diri dengan jam terbang dan kemampuan bersastranya yang minim, sehingga kumpulan puisinya, Renungan Kloset (GPU, 2003), tak diasong-asongkan sebagai karya sastra. Begitu juga dengan Happy Salma dan buku kumpulan cerpennya, Telaga Fatamorgana (Koekoesan, 2008), yang tak menggeser artis sinetron itu menjadi sastrawan.

Artis yang tampaknya "kapok" dengan maneuver kreatifnya adalah penyanyi Melly Goeslaw. Setelah kumpulan cerpennya 10 Arrrrrgh (Gagas Media, 2005) terbit dan tidak menyebabkan Melly disambut dengan predikat cerpenis, musisi berbakat ini belum menulis cerpen lagi.

 

Bayang-bayang Penulis Hantu

Artis yang niatnya mendekati Dee adalah Wulan Guritno dan Opick. Dalam keterangan persnya saat meluncurkan novel Feel, Wulan dan suaminya, Adilla Dimitri, mengakui ia sudah cukup lama mempersiapkan novel karyanya. Namun, aroma "kerja bareng" antara Wulan, Adilla, dan temannya tercium cukup santer. Dalam Feel, Wulan menyertakan nama temannya yang diakuinya membantu penulisan novel perdananya itu. Wulan tak menyebutkan seperti apa bantuan sang teman dalam novelnya. Namun, orang yang sudah akrab dengan dunia ghost writer (penulis hantu) segera paham dengan modus yang dipakai Wulan.

Berbeda dengan Wulan, Opick secara terus terang mengakui bahwa dirinya menggunakan jasa penulis hantu dalam menggarap novel perdananya, Di Bawah Langit. Jika dibandingkan dengan Wulan, Opick memang lebih punya modal untuk menulis. Selama bertahun-tahun Opick meniti karier sebagai pemusik yang lagu-lagunya ditulisnya sendiri. Namun, untuk mendongkrak dirinya menjadi novelis, Opick tak segan-segan menggunakan jasa ghost writer.

"Saya meminta bantuan Taufiqurrahman untuk bekerjasama dalam novel saya ini. Sebelumnya saya terlebih dulu menulis dan menyusun cerita adaptasi dari versi film dan lagu Di Bawah Langit. Kemudian saya serahkan kepada Mas Taufiq untuk dituliskan kembali dan dikembangkan menjadi sebuah novel dengan gaya bahasa yang lebih puitis, lebih bagus dan enak dibaca, tapi nggak boleh jauh-jauh dari versi film yang sudah saya tulis itu," ungkap Opick.

 

Manis atau Miris?

Pada akhirnya, pengecualian selalu ada. Jika bandingannya luar negeri, orang tahu aktor Arnold Schwarzenegger menjadi gubernur California, atau Ben Afleck yang juga menulis skenario film. Untuk Indonesia, pengecualian itu masih terlalu pagi untuk dilihat hasilnya. Rano Karno memang berhasil menjadi wakil bupati Tangerang, atau Dede Yusuf yang menjadi wakil gubernur Jawa Barat. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka terpilih lebih karena faktor keartisannya. Sulit untuk memungkiri fakta ini.

Sementara itu, kemunculan para artis yang ikut berlaga di medan kepenulisan Indonesia, juga masih harus menunggu matahari terbit lebih tinggi, untuk membuktikan apakah para artis itu memang menulis secara murni karya-karya yang dihasilkannya, atau ada bantuan tangan-tangan (penulis) hantu? Dengan demikian, kita berharap, artis menulis betul-betul menjadi berita yang manis, bukan sebaliknya. [Iyus/wawancara: elzam/nyimas]

 

Lampiran movie tidak tersedia.

Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.

 

Anda harus login dulu untuk posting komentar.

Iklan

lmcpi-kecil.jpg

download_form.jpg

iklan-buku-nida-small.jpg

pustaka-annida.jpg

sang murabbi.gif

 
 
 
 
Username :
Password :
Username :
Password :
E-Mail :
Kode Validasi : Visual CAPTCHA

Ketik 6 (Enam) Digit Kode Validasi

Username :