Aku, Koran, dan DVD
Diposting: Rabu, 28 Oktober 2009 / 21:18:01 | Oleh: annida | Kategori: Aimbox
Halaman ini diakses sebanyak: 494 kali
Rating: 0
Aku, Koran, dan DVD
Produksi: Frame
Sutradara/Penulis: Millaty Ismail
Dalam sebuah disksusi terbatas tentang film Perempuan Berkalung Sorban (PBS), Deddy Mizwar mengatakan bahwa salah satu ciri film yang baik adalah kemampuannya dalam menjelaskan dirinya sendiri. "Jadi, sutradara tidak perlu menjelas-jelaskan kepada publik maksud dan tujuan filmnya adalah begini dan begitu," kata Deddy.
Deddy memang sedang mengecam cara Hanung Bramantyo, sutradara PBS, dalam menjelaskan kepada publik perihal filmnya yang menuai banyak kritik. Namun, sudut pandang aktor sekaligus sutradara Naga Bonar Jadi Dua itu dapat diperluas spektrumnya; termasuk dalam ranah ilmu komunikasi, tempat komunikator dan komunikan disepahamkan oleh message (pesan) yang disampaikan dan diterima.
Seperti kita ketahui, dalam ilmu komunikasi, film masuk dalam kategori media penyampai pesan. Oleh karena itu, penyampai pesan (komunikator) harus membuat filmnya dapat dengan mudah dipahami oleh penerima pesan (komunikan), sehingga tidak perlu terjadi "jelas menjelaskan" seperti yang dilakukan oleh Hanung.
Film Aku, Koran, dan DVD ini menyimpan potensi untuk dijelas-jelaskan oleh sutradaranya (dan memang itu yang terjadi) mengingat ketidakjelasan konstruksi pesan filmya. Konon, penjelasan sutradara atas film ini adalah: dalam kegiatan hedonis semacam membeli vcd (tentu untuk ditonton) saja, orang memerlukan kerja keras (jualan koran). Itu saja, tidak lebih.
So, lihatlah betapa mubazirnya film ini karena menghabiskan scene demi scene hanya untuk mengendorst realitas dua bocah tukang koran. Efek dramatik berjualan koran sebagai kunci kerja keras pun tidak tercapai. Datar saja. Keyword DVD sebagai sarana hedonis seperti yang diasumsikan sutradara pun tak istimewa, bahkan tenggelam dalam kesadaran orang yang telah mengalami terpaaan media; bahwa menonton vcd adalah hal terlalu remeh. Sekarang sudah nggak zaman nonton DVD, karena sudah ada wakil yang lebih canggih.
Tentu saja, sebagai tontonan, film tetap bisa dinikmati. Kualitas gambar yang mendingan setidaknya dapat menghibur kebingungan kita dalam mencerna maksud film ini dibuat. Selamat menikmati. [Iyus]
Posting Sebelumnya
Belum ada Komentar pada posting ini. Jadilah komentator pertama.
Anda harus login dulu untuk posting komentar.



