AHMAD BERTANYA TENTANG TUHANNYA

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis:  Adi Zamzam


Malam kesepuluh agresi militer Israel ke Gaza di awal tahun 2009


Malam gulita. Telah sepuluh hari ini listrik padam. Makanan dan air pun langka. Bahkan derik binatang malam. Hanya terdengar deru pesawat Israel yang mondar-mandir di angkasa. Lalu bunyi bumm! Blarr! Det... det... det! Dorr!

Ahmad merangsek mendekati kakaknya. Pakaiannya yang putih masih bisa terlihat meski berada dalam dekap gelap. Yazeed baru saja menyelesaikan tahajjudnya.

”Kau belum tidur, Dik?” jemari nan dingin itu menyentuh kaki Ahmad.

”Ahmad takut, Kak,” suara itu hampir saja tak terdengar, terlindih bunyi ledakan beruntun.

”Sini, mendekatlah.”

Ahmad buru-buru menghambur ke tubuh kakaknya. Hangat sekali di pangkuan Kak Yazeed. Tapi jemari kakaknya terasa dingin sekali di kepalanya.

”Kakak tadi berdo’a apa?”

”Banyak.”

”Apa Allah akan mengabulkan semuanya, Kak?”

”Pasti. Pasti Allah akan mengabulkan. Ahmad masih ingat sebuah hadits yang sering diucapkan Abi? Kalau tidak sekarang, pasti nanti. Kalau tidak nanti, barangkali permintaan kita akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik.”

”Kakak tadi minta apa?”

Bumm!

”Ummi, semoga dijamu di taman Fidaus-Nya.”

”Lalu?”

Bumm! Bumm!

”Abi kembali dengan selamat.”

”Lalu?”

”Sudahlah, Dik. Ayo, tidurlah. Jangan sampai nanti kamu sakit karena kurang tidur.”

”Apa Kakak juga minta supaya orang-orang zionis itu dihancurkan?”

”Iya, Kakak juga minta itu.”

Blarr!

Bumi bergetar. Cahaya serupa kembang api berpendar tak jauh dari tempat itu, hingga Ahmad bisa melihat sekilas wajah kakaknya yang menatap kosong ke luar jendela. Jendela yang dibuat oleh bom Israel yang juga meremukkan tubuh umminya di hari ketiga agresi. Ahmad meraih pipi kakaknya dan mengusapnya lembut. Hangat sekali air mata itu. Yazeed menoleh.

”Tidurlah. Besok pagi kita menengok ke rumahnya Ghazi,” menyandarkan tubuhnya ke tembok.

Bumm!

 

Malam kesebelas 

”Tadi siang Kakak puasa apa?”

”Asysyura.”

”Bukankah sepuluh hari kemarin Kakak sudah melakukannya?”

Bumm! Bumm!

Ahmad tak mendengar jawaban kakaknya karena terlindih ledakan beruntun itu. Ia lalu membalikkan tubuh ke arah kakaknya.

”Kak, apa di taman Firdaus kita benar-benar bisa bertemu dengan Allah?”

”Ya, tentu.”

”Kita bisa bertanya dengan-Nya?”

”Ya, tentu.”

”Sebenarnya Ghazi pernah bilang kepadaku, ia ingin sekali bertemu dengan-Nya. Ghazi punya tiga pertanyaan yang akan diajukan kepada-Nya.”

Deru tembakan melintas. Det... det... det... Yazeed memeluk satu-satunya saudaranya itu. ”Ya, sekarang ia pasti sudah mendapatkan jawabannya. Apa saja yang ditanyakan Ghazi?”

”Kenapa Allah cuma diam saja melihat kekejaman Israel?”

Terkejut, ”Tidak, Dik. Allah tidak seperti itu,” Yazeed mengusap kepala adiknya.

”Bukankah seharusnya Allah bisa menghancurkan Israel dengan sekali  ledakan, Kak? Bukankah dulu banyak sekali kaum yang menerima azab seperti itu?”

Yazeed tercenung. Ia sungguh tak bisa menjawab tanya itu karena dalam hati kecilnya sebenarnya juga tak pernah lepas dari harap mukjizat semacam itu. Lalu Yazeed teringat Syaikh Mansour. Andai saja gurunya itu masih ada nafas, mungkin ia bisa melempar tanya itu.

”Dik, kalau Allah cuma diam, para dokter berseragam bulan sabit merah itu takkan sampai di rumah sakit AsySyifa. Percayalah bahwa semua orang di dunia sekarang juga tengah memusuhi kekejaman Israel.”

”Apa mereka bisa menang, Kak?”

Blarr!

Bumi bergetar. Cahaya serupa kembang api berpendar tak jauh dari tempat itu. Suara orang berteriak-teriak. Suara tangisan. Yazeed semakin erat memeluk Ahmad.

”Pasti mereka menang, Dik. Israel itu cuma negara kecil,” tiba-tiba Yazeed merasa tubuhnya terserang demam.

 


Hari kelima belas

”Rajib sudah tidak ada, Kak. Rajib sudah pergi...,” Ahmad tersedu dengan roti di tangan. Cahaya lilin masih saja sempoyongan meski Yazeed sudah memagarinya dengan puing-puing. Air mata Ahmad berkilauan tersiram cahaya lilin.

Yazeed menghela nafas, ”Bukankah Kakak sudah bilang, jangan ke mana-mana sewaktu Kakak mengambil roti.”

Bumm!

”Ahmad cuma ingin memastikan, Kak. Tadi malam bom itu jatuh di rumah Rajib.”

Bumm!

Dengan susah payah Yazeed menelan rotinya. Tenggorokannya terasa  kering.

Aman. Jika teringat kata itu rasanya benar-benar tak nyaman. Beberapa orang sudah menyarankan agar Yazeed pindah ke tempat lain saja yang layak huni. Tapi Yazeed sebenarnya punya pikiran lain. Lihatlah sekarang. Adakah tempat yang aman selain tempat yang sudah poranda oleh bom-bom para zionis itu?

”Kak, bukankah Allah melihat hal itu?”

”Iya, Allah memang melihat hal itu, Dik. Adakalanya kalau ajal sudah tiba, siapapun pasti akan mati juga. Tapi jika belum saatnya, kau lihat sendiri itu si Zuhdi? Meski sekujur tubuhnya pernah terbakar bom, tapi ia masih hidup hingga detik ini.”

Yazeed sedikit lega saat adiknya terdiam. Mungkin otak kecilnya sedang mencerna kalimatnya tadi.

Bumm!

Seusai shalat isya berjama’ah yang hanya bermodal tayamum, kedua kakak adik itu lalu membaringkan tubuh di atas karpet berbantal pakaian. Hening Gaza tercemari suara deru pesawat, lalu bumm! Dor! Dor! Blarr!

Lilin hampir habis. Tak seperti malam-malam kemarin yang cepat terlena kantuk, saat ini mata Yazeed benar-benar sulit terpejam saat ingatannya kembali mengulang apa yang telah dilihatnya siang tadi. Ia terpaksa menumpang sebuah mobil yang membawa seorang korban luka ke rumah sakit, demi sampai ke markas UNRWA. Sekarung gandum berhasil ia bawa pulang lalu diserahkannya ke Ummu Samir yang memang kebagian tugas membuat roti untuk semua yang masih tersisa di kompleks perumahannya. Akhirnya ia mendapat sepuluh roti dan satu jeriken air yang harus cukup untuk dua hari.

Yazeed masih bisa mendengar suara-suara itu. Rafah dihujani bom, Maghazi dan Suweide dikepung, Beit Lahiya porak-poranda, Jabaliya lengang, Nuseirat, Bureij pasrah. Tank-tank itu tengah merangkak congkak mengangkangi setiap jengkal negeri ini.

”Kak, bukankah Allah Maha Perkasa?” suara itu membuatnya menoleh.

”Allah punya cara-Nya sendiri untuk membalas, Dik,” Yazeed meraih jemari adiknya dan lalu meletakkannya di keningnya. ”Luka ini terjadi sewaktu Kakak masih seumuranmu. Kakak masih ingat, saat itu Kakak benar-benar marah karena ketapel Kakak disembunyikan oleh Ummi. Ke mana-mana Kakak selalu saja teringat bahwa Kakak telah memaki-maki Ummi. Lalu saat Kakak memanjat pohon jeruk di ladang Paman Aziz, Kakak terjatuh hingga seminggu penuh tidak bisa sekolah karena kening Kakak bocor dan jempol kaki  Kakak patah. Setiap kali Kakak mendengar suara Ummi, Kakak rasanya ingin menangis menyesali kebodohan Kakak itu. Akhirnya Kakak sadar, bahwa sekolah itu memang lebih penting daripada melempari tank-tank Israel dengan batu. Mungkin itulah cara Allah membalas dosa Kakak, Dik,” Yazeed menyusut ekor matanya yang tergenang hangat.

Ahmad menatap langit-langit. Retak-retak dinding-dinding itu menggambar wajah Abi, Ummi, Ghazi, Rajib, dan teman-teman lainnya yang telah tiada.

*               *             *

 

Kaki Yazeed seperti tersengat listrik. Ummu Samir seperti orang gila yang menangis meratap memanggil-manggil namanya. Dada Yazeed naik turun mengais nafas. Sekantung roti terlepas dari tangannya.

”Minggir! Minggir!” suaranya gemetar menyibak kerumunan.

Seonggok tubuh mungil telah kaku simbah darah. Ada yang tercerabut dari dada Yazeed sehingga ia terjatuh lunglai dan hanya bisa menggapai kaki dari jasad adiknya. Ia berteriak kalap menatap langit.

”Allahku, bukankah Kau punya Mata dan Telinga?!!”

”Bukankah Kau punya segalanya untuk menolong kami?!!”

Yazeed kehabisan nafas. Ia terbangun dengan jantung terpacu. Tangan kanannya buru-buru mencari-cari tubuh Ahmad. Lilin telah habis. Malam baru saja menghadiahinya mimpi kelam.

 Bumm! Bumm!

Gemuruh dadanya berangsur tenang saat tangan kanannya menemukan tubuh hangat, meski di luar, rasa aman telah dibantai.

Ia lalu mencari tembok untuk sandar. Diusapnya keringat di pelipis. Disangganya dagu dengan lutut. Ia berharap gelap menjelma Ummi yang akan terus belai kepalanya hingga fajar menyingsing. Lima belas tahun bukanlah usia yang tepat untuk ditinggal Abi dan Ummi begitu saja.

Allahku, kirimkanlah malaikat-malaikat penolongMu, agar aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Ahmad yang sulit itu, bisik hatinya terus-menerus.***

 

                                                                               Jepara 2009-2010.

 

 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...