90 Derajat

Fashion-Styles-for-Girls-Online

Penulis: Nurbaniah Muhisa


Gedebuukk! Oh tidak!!! Baru saja otakku merespon kaki kanan yang terpeleset, tubuhku sudah meluncur tanpa ampun. Menuruni terjalnya Gunung Gawalise. Dengan panik, tanganku berusaha menggapai apapun. Tak ada gunanya. Yang kudapati hanya rerumputan liar yang basah dan licin.

“Toloooongg….” Teriakanku malah terdengar seperti rintihan tertahan.

Bagaimana ini? aku tidak bisa melihat apa-apa. Sekeliling mulai gelap. Hanya sinar rembulan yang sedikit membantu. Sementara senter di tanganku, sudah hilang entah di mana. Aduuhh! tiba-tiba tubuhku membentur sebuah benda keras. Refleks aku meraihnya. Ternyata sebuah akar pohon yang menembus permukaan tanah. Perlahan, aku mengangkat tubuh kurusku. Menyusuri akar itu, hingga menemukan sebuah batang pohon besar. Sambil menenangkan napas, aku pun bersandar dan mencari posisi yang nyaman.

Hhhh….nyaris saja.  Entah berapa jauh aku terseret. Lutut dan telapak tangan terasa amat nyeri. Tapi aku tak peduli. Bagaimanapun, aku harus melanjutkan pendakian. Kupandangi puncak nun jauh di atas sana. Dengan keadaan seperti ini, rasanya aku tak bisa mencapainya. Setelah berpikir sejenak sambil memulihkan tenaga, kuputuskan melanjutkan perjalanan. Sebaiknya aku berhenti di “Bambu Air”. Selain jaraknya sudah dekat, pemandangannya juga bagus.

Gila!!! Gunung ini benar-benar terjal. Dengan kemiringan hampir 90 derajat, jelas saja tenaga yang digunakan jauh lebih terkuras. Aku pernah mendaki Gunung Nokilalaki, yang merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Tengah. Namun, tingkat kesulitan kali ini luar biasa. Ditambah hanya berbekal sebotol air mineral dan gula aren. Aku sadar benar, bahwa ini tindakan nekat dan bodoh. Tapi itulah yang kucari. Aku akan lelah….sendirian….jauh dari semuanya.  

Terus…Terus… Jangan memikirkan apapun. Hanya tetap mendaki. Ayo, Naya! kau boleh berhenti, setelah tiba di “Bambu Air”. Sesekali aku mengunyah gula aren. Bergerak naik tanpa menoleh ke belakang.

Dan akhirnya, sampai juga! Tanpa ragu, aku langsung menjatuhkan diri di hamparan tanah berumput. Meregangkan tangan dan kaki, sambil menantang bentangan langit luas di atasku. Membiarkan tubuhku meresapi hakikat, betapa kecilnya seorang Naya di tengah alam semesta. Aku tak peduli lagi dengan kegelapan malam, yang menyelubungiku dari segala penjuru. Tak menghiraukan betapa kotor dan sakit sekujur tubuhku saat ini. Aku hanya telentang tanpa suara. Entah untuk berapa lama. Membiarkan pecahan asaku yang hanya tinggal serpihan, terbang bersama dinginnya semilir angin. Menyerahkan rasa perih dan kecewa, untuk dikalahkan bekunya udara yang menyelimuti.

“Aku mau jadi dokter, Bu!“

“Aku polisi!“

"Bagus..bagus..Nah, kalau Naya mau jadi apa, besar nanti?“

"Penjelajah Nusantara, Bu!!!“ Suaraku yang cempreng melengking di antara riuh suara teman-teman sekelas. Membuat ibu guru dan mereka semua terdiam sejenak, sebelum akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.

Ahhhh….Mengapa kenangan masa kecil itu melintas tanpa permisi. Bagaikan sebuah slide di hadapanku. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas, wajah polosku yang masih berusia sebelas tahun kala itu.

“Sudahlah, Nay. Terima saja. Kantor tidak mungkin memilihmu untuk mengikuti seminar itu. Kalau acaranya adalah lomba mendaki Gunung Semeru, barulah kantor pasti mengutusmu.“

Suara itu…suara Edo, sahabat sekaligus teman sekantorku. Namun dia sudah menjadi pegawai tetap. Berbeda denganku, yang masih berstatus pegawai honorer di Kantor Walikota Palu.

“Iya. Iyaaa. Aku kan hanya tertarik dengan tempat seminarnya. Kau kan tahu sendiri, aku ingin sekali melihat langsung indahnya kota Jogja. Ada Malioboro, keraton…”

“Sudah..sudah, Nay. Lagi-lagi impian itu. Berpikirlah realistis. Untuk menjelajahi Sabang sampai Merauke, jelas butuh biaya yang tidak sedikit. Jangan membebani ‘Tua Ijah’(Nenek Ijah) dengan keinginan konyolmu itu.“

Mendengar nama nenek disebut, aku langsung termenung. Membuat ekspresi Edo berubah iba bercampur menyesal. Mata sipit khas keturunan Cina itu menatapku sendu.

“Maaf, Nay. Aku tidak bermaksud….”

“Tidak apa-apa, Do. Jangan khawatir.“ Kucoba menghilangkan bias penyesalan dari wajah lelaki di sampingku.

Selanjutnya, kami berdua hanya terdiam. Terhanyut dengan indahnya Pantai Talise, sore itu. Di antara tenda-tenda pedagang makanan. Semuanya berjejer sepanjang pantai. Angin berhembus mempermainkan helai-helai rambut panjangku. Menebarkan aroma lezat jagung bakar berlumur margarin. Dan pisang matang bakar. Biasanya  disajikan dengan taburan kelapa bersama gula aren cair. Kami berdua memilih duduk di jejeran kursi plastik, yang sengaja dipasang tepat menghadap  lautan luas.

Adegan indah sore itu turut membayang. Bermain di hadapanku. Kebiasaanku dan Edo, saat salah satu dari kami butuh dihibur. Atau sekadar ingin melepas penat, dari rutinitas harian di kantor. Buatku, indahnya pantai mampu membenamkan semua lelah dan kecewa. Tapi…Tidak kali ini.

Edo….Ucapanmu benar. Aku memang terlalu naïf.

Sebuah slide tiba-tiba muncul menggantikan kenangan tadi. Kamarku….dengan dinding yang dipenuhi gambar-gambar seukuran poster. Bukan gambar artis idola layaknya teman-temanku. Namun berisi potret demi potret akan keindahan negeriku. Danau toba, Jembatan Suramadu, Pulau Dewata, Malioboro, Taman Mini, Pulau Komodo, puncak Jayawijaya yang diselimuti es, Pulau Derawan, Pulau Togean, Bunaken, dan masih banyak lagi. Hampir tidak ada celah dari tembok  kusam itu. Dan sebuah tulisan besar berwarna hijau terang, pada karton hitam di langit-langit kamar. Tepat di atas tempat tidur. “KELILING NUSANTARA!!! NAYAH, GADIS PENJELAJAH!“ Aku melihat sosokku sendiri, tengah tersenyum penuh optimis. Memandangi semua gambar, dengan mata bersinar penuh semangat. Lalu bergegas menuju rak kecil di sebelah meja kayu. Membuka rak terbawah, aku mengambil sebuah buku kecil. Sampulnya terlihat mengkilap di bawah sinar lampu. Kubuka perlahan.  Meneliti deretan angka di tiap lembarnya. Sebuah senyum bahagia tak terkira, menghiasi wajahku dengan harapan membuncah.

 “Edo, kamu pasti akan takjub saat melihat ini.“

Aku menempelkan buku itu di dadaku. Buku rekening yang selalu memberiku kekuatan. Membangun mimpi setiap harinya. Aku benar-benar tak sabar ingin memperlihatkannya pada Edo. Dia pasti menggeleng tak percaya. Ya! Naya, gadis yatim piatu yang tak punya, ternyata tidak bermimpi kosong. Tak ada seorangpun yang tahu kecuali Tua Ijah. Sejak SMP aku selalu menyisihkan uang lewat cara halal apapun. Entah dari lomba menulis, panjat tebing, bahkan hingga menjual produk network marketing. Dan sekarang, gaji honorer yang kuterima setiap tiga bulan, pasti  kusimpan di dalam rekening. Setelah memberi Tua Ijah terlebih dulu tentunya. Rupiah demi rupiah terus terkumpul, hingga menoreh angka Rp. 22.753.500,- di saldo akhir. Ya Allah….syukur tak terhingga atas semua berkah dan rezekiMu. Rasanya begitu bersemangat. Saat membayangkan impian akan segera terwujud. Betapa aku ingin bertualang, mengukir langkah di setiap jengkal tanah Bumi Pertiwi.

Ohhh….Naya. Wajah sumringah penuh harapan itu, malah terlihat begitu konyol saat ini. Tidak! Tidak! Jangan…Adegan itu jangan sampai muncul. Kejadian kemarin, yang benar-benar ingin kusingkirkan dari memoriku. Aku sampai meringis, saat berusaha melawan kenangan yang ingin menerobos. Aku berontak sekuat tenaga, namun tubuhku tak bergeming. Ternyata tubuhku sudah hampir membeku.  Membuatku tak berdaya melawan ingatanku sendiri. Kenapa otakku tidak ikut membeku saja?!

Sebuah adegan yang menggambarkan siaran televisi, muncul dan saling tumpah tindih, dengan suara-suara di kepalaku.

“Ini merupakan modus baru, di mana uang yang ada di dalam rekening nasabah perlahan berkurang dari penarikan-penarikan tanpa sepengetahuan mereka. Polisi sedang mengusut kasus ini dan menyarankan para pengguna ATM untuk berhati-hati saat melakukan transaksi. Karena kemungkinan, mereka mengintip pin nasabah melalui kamera yang dipasang di ruangan ATM.“

“Maaf, Mbak Naya. Untuk sementara, kami belum bisa mengkonfirmasi apapun. Kami juga sedang menunggu hasil penyelidikan. Kita hanya bisa berharap yang terbaik.“

Terdiam. Tanpa komentar apapun, aku melihat sosok tubuhku berjalan lunglai. Meninggalkan ruangan ber AC itu. Ya! Aku adalah salah satu korban modus perampokan baru. Tidak tanggung-tanggung, isi rekeningku ludes dalam tiga kali penarikan misterius.  

Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Rasanya sulit untuk menghirup maupun menghembuskan napas. Amat sakit dan perih. Aku baru menyadari, sudah terlalu lama terbaring di tanah, dengan tubuh membeku. Perih itu menyebar hingga ke tenggorokan, dan mendorong tetesan bening dari sudut mataku. Yang akhirnya berubah menjadi aliran deras, diiringi isak tertahan. Ya Rabb….aku bukanlah Naya si gadis tomboy yang tegar. Aku sama sekali tidak sekuat itu, dalam menerima segala ketentuanMu. Ampuni hamba jika harus bertanya. Kenapa? Mengapa harus aku?

Terbayang wajah Tua (nenek), di antara buramnya penglihatanku. Wajah  lembut dan penuh kasih. Saat melepasku untuk pergi. Tua sudah hapal benar dengan kebiasaanku. Saat terbebani masalah, aku pasti mendaki gunung. Biasanya setelah tenang, aku akan pulang. Namun….Tua tidak tahu. Kali ini aku tidak akan pulang. Aku memang sudah menyerah. Apakah aku akan mati? Hanya seperti inikah akhir hidup seorang Naya? Menghilang bersama impiannya….Dan perlahan semuanya menjadi gelap.

***

Beginikah rasanya mati? Entahlah….hanya ada kegelapan di sekelilingku. Senyap. Lama aku terdiam. Tak bergerak. Tanpa suara. Anehnya, tak terjadi apapun. Kuputuskan untuk bangkit. Melangkah tanpa arah. Meraba di tengah gulita. Tunggu! seperti ada cahaya di ujung sana. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menghampirinya. Langkahku terasa begitu ringan. Perlahan, pekat di sekelilingku berpendar lembut. Aku mulai melihat pepohonan, rumput liar yang basah, dan….Hei! ada orang lain di sini. Dia berbaring menghadap langit. Sendirian. Dengan langkah ragu, aku mendekatinya. Dan betapa terkejutnya, saat melihat dengan jelas. Itu aku! wajah pucat pasi dengan bibir membiru. Masih terlihat bekas tangisan di kedua pipinya. Tapi tak ada tanda kehidupan lagi. Itu berarti aku sudah mati! Dan sekarang aku adalah ruh. Aku terduduk lemas. Menatap sekeliling dengan panik. Aneh….kalau memang ini yang kuinginkan, mengapa rasanya ada yang salah? Tadinya, aku merasa punya alasan kuat untuk mati. Tapi, saat melihat dengan mata kepala sendiri. Naya yang terbujur kaku sendirian, di ketinggian Gawalise. Karena merasa impiannya sudah musnah. Ya Allah….semua jadi terlihat konyol. Ternyata imanku sekerdil itu.

Bagaimana dengan Tua? Ohhh….Ya Rabb. Ampuni aku. Aku begitu egois. Memikirkan diri sendiri dan mengabaikan orang yang selama ini merawatku. Mendidik dan mempercayaiku sepenuhnya. Wajah syahdu dan senyum tulusnya menyapa memoriku.

“Hati-hati ya, Nak. Cepat pulang. Semoga Allah melindungimu.”

Aku kembali tergugu. Menangis dalam penyesalan teramat sangat. Betapa bodohnya. Seorang hamba yang dhaif dan lalai akan karuniaNya. Andai boleh kembali. Masihkah ada kesempatan untukku? Kembali semuanya menjadi gelap.

***

Ada rasa hangat yang perlahan menjalari tubuhku. Mulai dari kaki, terus naik hingga ke wajah. Rasanya benar-benar nyaman. Membuatku hanyut dan membiarkan raga ini terus terbuai. Ingin rasanya terus terpejam. Namun sebuah cahaya menyilaukan, memaksa kedua mataku untuk membuka kelopaknya. Di hadapanku kini, kabut menghilang terusir sinar mentari hangat. Entah kenapa, tubuhku terasa amat ringan. Kupaksakan untuk bangkit, dan akhirnya duduk terpaku. Terpana….

Waktu seakan berhenti sejenak. Menjadi saksi keindahan maha elok di hadapanku. Lukisan alam luar biasa, terbentang tanpa selubung apapun. Cahaya fajar mengintip, dari balik pegunungan di ujung batas pandangku. Membiaskan semburat kemerahan di petala langit. Begitu harmonis, dengan warna awan tipis yang turut memantulkan sinarnya. Nun jauh di bawah sana, sebuah teluk menjorok jauh ke dalam kota lembahku, Palu. aku bisa melihat dengan jelas, garis pantai yang memanjang dari Talise hingga ke Taman Ria. Area persawahan terlihat berpetak-petak. Menghijau di bagian kanan. Sementara di antaranya, ada rumah penduduk yang diselingi jalanan. Semua bisa terlihat jelas dari tempatku. Bahkan Mesjid Agung terasa begitu dekat. Begitu indah….tak ada satu katapun yang bisa melukiskannya. Kotaku, kota lembah yang dilindungi pelukan pegunungan di sekelilingnya. Sambil memberi celah bagi lautan untuk menyempurnakan. Begitu lama….aku hanya membisu dengan perasaan mengharu biru. Mengisi relung hatiku dengan udara hangat mendamaikan. Ya Allah….Inikah jawabanMu?

“Naya….Dengan kejadian ini, bukan berarti impianmu musnah. Aku selalu mendukungmu, Nak. Ini pastinya ujian menyimpan hikmah. Cobalah lihat. Menjelajahi negeri ini janganlah memandang jauh ke ujungnya. Mulailah dari sini. Dari kota kecil kita, Palu. Tanah Tadulako pasti belum habis kau jelajahi keindahannya. Teruslah meyakini kalau impianmu akan tercapai juga kelak.“ Suara Tua Ijah mengalun lembut seiring dengan pantulan wajah bersahajanya. Ahhh…kenapa aku bisa begitu buta?

Kejadian semalam rasanya seperti mimpi. Dan aku masih hidup! Ini pasti keajaiban yang ingin ditunjukkanNya. Sambil mengusap air mata, aku berjanji di dalam hati. Untuk memulai dari awal lagi. Impianku tidaklah musnah. Hanya tertunda untuk menguatkan langkah. Terima kasih Gawalise ! Di titik berjarak 90 derajat dari kotaku inilah, Tuhan membuka tabir itu. Rasa kecewa yang tak seharusnya akan takdirNya.. Akan ada cahaya yang menghalau kabut di setiap pagi,  layaknya saat ini. Aku ingin pulang.

Entah kekuatan dari mana, yang membawa langkah kakiku terasa amat ringan. Padahal  untuk menuruni gunung, justru dibutuhkan kekuatan ekstra. Bila dibandingkan saat mendaki. Aku berusaha menahan pijakan kaki, sambil berpegangan pada tumbuhan liar yang ada. Karena sedikit saja aku lengah, maka tubuhku akan kehilangan kendali dan terjatuh. Terus….Terus….sambil sesekali berhenti. Memandangi bayangan kotaku yang semakin mendekat. Tersenyum optimis, aku kembali meluncur turun. Tepat menjelang sore, aku sudah mencapai desa di kaki gunung. Berhenti sejenak untuk menghilangkan dahaga, dengan sisa air mineral. Lalu mengguyur kepala, untuk menghabiskan isi botol berukuran seliter itu. Huaaahhh….Segar rasanya. Tiba-tiba suara dering yang sangat kukenal, memanggil dari dalam ransel. Kubuka dan kuraih hp kuno kesayanganku itu.

“ Nay, ini Edo. Kemana saja kamu?”

"Ada kabar penting. Seorang produser TV mencarimu ke kantor dua hari yang lalu.”

“Dia menawarkan untuk mengajakmu di program baru mereka, JEJAK PETUALANG. Kamu akan keliling Indonesia untuk itu, Nay! Cepat Pulang!“

Membaca pesan yang terbagi menjadi tiga bagian itu, aku hanya bisa melongo, melompat kegirangan, dan akhirnya sujud syukur di tanah yang menguning, tanpa peduli tatapan orang-orang kampung.

Selesai. 

Yuk, Jadi ORANGTUA ASUH (OTA) Santri Penghafal Qur'an Askar Kauny! Donasi Rp 150.000,-/bulan. Dapat Majalah Ummi (free ongkir)

Transfer ke Bank Muamalat 335-000-9175 a.n. Yayasan Askar Kauny

Konfirmasi ke 0813 8054 4843 : OTA#Nama#AlamatLengkap#Telp#jumlahtransfer#TanggalTransfer#JamTransfer

Tags:
loading...